7 Pelajaran Berharga dari Film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’

Hendra Susanto
8 Min Read

Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” dan Pelajaran Hidup yang Bisa Diambil

Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” memiliki cerita yang sangat terkait dengan kehidupan keluarga di Indonesia. Film ini bisa dianggap sebagai cermin bagi anak muda yang sedang mengejar kehidupan. Namun, tidak hanya itu, film karya sutradara Naya Anindita ini juga menyampaikan banyak pesan dan pelajaran yang bisa dipetik oleh para penonton.

Tuntutan keluarga, mimpi, tekanan hidup, rasa tertinggal, overthinking, validasi dari orang lain, hingga perjalanan menjadi versi diri yang lebih baik, semua tersaji dengan cerita yang hangat tapi juga ‘menampar’. Berikut beberapa pelajaran hidup yang bisa diambil dari film “Tunggu Aku Sukses Nanti”.

1. Sukses Itu Proses, Kegagalan Itu Pertumbuhan



Film ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki timeline masing-masing. Kadang kamu mungkin merasa ketinggalan dari orang lain, seperti Arga (Ardhit Erwandha) yang merasa tertinggal dengan sepupu-sepupunya. Padahal sebenarnya, kamu sedang berada di fase belajar. Sukses adalah sebuah proses, bukan instan, dan semua orang punya prosesnya masing-masing. Kamu mungkin juga tidak tahu apa yang mereka hadapi sampai di titik tersebut.

Arga berkali-kali ditolak saat melamar kerja. Ia mengalami banyak jatuh-bangun, dan itu justru yang membentuk dia. Kegagalan yang kamu alami bukan berarti kamu harus berhenti, tapi bagian dari proses untuk menjadi lebih kuat. Justru dari kegagalan, kita jadi lebih mengerti diri sendiri, apa yang harus diperbaiki dan diperjuangkan lagi.

2. Jangan Membandingkan Diri Sama Orang Lain



Di momen berkumpul, baik itu sama teman atau dengan keluarga, setiap orang cenderung membandingkan diri. Melihat saudara yang sukses, lalu ditanya dengan pertanyaan “kamu kapan?” dan ekspektasi para anggota keluarga yang lain, pasti sangat menjengkelkan dan membuat insecure.

Yang sering tidak disadari, saat kamu mulai membandingkan diri, kamu sebenarnya lagi membandingkan proses yang sedang kamu hadapi dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles. Tentu itu tidak adil dan kamu jadi kehilangan kesempatan untuk merasa bersyukur atas hidupmu. Film ini secara halus menunjukkan bagaimana kebiasaan ini membuat seseorang jadi gampang merasa tertinggal, kehilangan percaya diri, bahkan meragukan arah hidupnya sendiri, seperti karakter Arga.

Di sini, penonton bisa belajar bukan hanya berhenti membandingkan diri, tapi juga belajar memahami bahwa setiap orang punya starting point, privilege, dan tantangan yang berbeda. Cukup tanyakan saja pada diri kamu, sudah sejauh apa kamu berkembang. Karena pada akhirnya, ukuran yang paling sehat bukanlah seberapa jauh kamu dibanding orang lain, tapi seberapa jauh kamu dibanding versi dirimu yang dulu.

3. Pentingnya Support System



Entah itu pasangan, teman, atau keluarga, punya orang yang mengerti dan mendukung kamu di masa-masa kelam adalah sebuah anugerah. Dikelilingi orang yang suportif bikin kita lebih kuat. Sebaliknya, lingkungan toxic bisa bikin kita semakin ragu sama diri sendiri. Untungnya, Arga punya Fanny (Fita Anggriani) dan Wicak (Reza Chandika) yang selalu hadir untuk mendukung dan membantunya bertumbuh.

Meskipun Arga sempat bertengkar dengan Fanny karena berbeda pandangan, namun, akhirnya kita semua tahu bahwa teman yang tulus pasti ingin yang terbaik untuk kita. Salah satu kalimat Fanny untuk Arga si tulang punggung keluarga adalah “berbagi jangan dipendam”. Kadang, berbagi dengan orang terpercaya bisa mengurangi beban, walaupun mereka mungkin hanya menjadi pendengar yang baik saja.

4. Pilah-Pilah Kata Orang



Di setiap keluarga pasti akan ada satu orang seperti Tante Yuli (Sarah Sechan) yang selalu menanyakan pencapaian keluarganya saat kumpul keluarga. Cara bicaranya yang ceplas-ceplos kerap kali terasa tak memahami perasaan orang lain.

Orang selalu akan ada saja yang membicarakan kamu, entah itu baik atau buruk. Hanya ada dua respons yang bisa kamu lakukan, menutup telingamu atau membuatnya jadi pecutan untuk lebih baik. Tutup telingamu untuk kata-kata buruk dari orang lain, dan jadikan ocehan mereka menjadi motivasi untuk kamu lebih baik lagi. Tapi ingat, jangan jadikan kata orang sebagai tujuan hidupmu. Fokus dengan apa yang membuatmu dan orang yang kamu sayangi bahagia.

5. Validasi dari Orang Lain Nggak Akan Pernah Cukup



Arga berambisi untuk sukses agar tak direndahkan oleh keluarga ayahnya. Ia sangat ingin mengangkat derajat keluarganya, dipuji, dan dianggap anak yang sukses serta berbakti. Namun, saat Arga melihat dirinya sudah cukup sukses, bisa memberikan orang tuanya hadiah mewah, keluarganya tetap membandingkan dirinya dengan anak-anak mereka yang terlihat lebih sukses.

Hidup untuk mencari validasi dari orang itu melelahkan dan nggak akan ada puasnya. Kamu jadi menggantungkan kebahagiaanmu dari apa kata orang. Akhirnya, hidup terasa seperti mengejar checklist orang lain, bukan perjalanan yang kamu pilih sendiri. Mau diapresiasi sebagaimanapun, kalau belum berdamai sama diri sendiri, tetap bakal merasa kurang terus. Kita sering merasa berharga kalau sudah sukses. Padahal, nilai diri kita nggak bergantung sama status atau hasil. Lagi-lagi mengutip dari kata-kata Fanny, cuma diri kamu sendiri yang bisa menentukan sudah cukup atau belum.

6. Kadang Prioritas Hidup Bisa Berbeda



Arga punya kekasih yang menemaninya dari nol, Andin (Maudy Effrosina). Tapi, setelah Arga mulai sukses dengan gaji yang fantastis, prioritas mereka berubah. Andin ingin melangkah ke jenjang pernikahan dan meminta Arga untuk mempersiapkannya. Sementara Arga yang baru merasakan memiliki uang sendiri lebih memprioritaskan kebutuhan keluarganya. Akhirnya, mereka berpisah karena perbedaan tersebut.

Hubungan seperti Arga dan Andin mungkin banyak dialami anak-anak muda saat ini. Hal itu wajar saja terjadi, hanya bagaimana satu sama lain untuk mengerti. Tapi, jika dirasa sudah tak baik untuk dijalankan, jangan ragu juga untuk melepaskan.

7. Cara Orang Peduli Berbeda-Beda



Salah satu pelajaran yang juga bisa dipetik adalah dari karakter Tante Yuli beserta hubungannya yang benci tapi sayang dengan sang keponakan, Arga. Karakter ini jadi contoh paling nyata bahwa cara orang peduli itu nggak selalu terlihat hangat atau manis di permukaan. Tante Yuli bukan tipe yang menunjukkan kasih sayang lewat kata-kata lembut. Justru sebaliknya, cara dia sering terasa blak-blakan, kritis, bahkan kadang seperti menyudutkan.

Di titik ini, banyak orang (termasuk penonton) bisa salah paham dan menganggap dia terlalu keras atau nggak suportif. Tante Yuli menunjukkan bahwa peduli juga bisa berarti mendorong dengan keras. Dia nggak ingin orang yang dia sayangi nyaman di zona aman terlalu lama. Ia begitu menyayangi Arga dan berharap Arga bisa sukses lebih dari orang tuanya, serta punya kehidupan yang lebih baik.

Nggak semua orang akan mencintai kita dengan cara yang kita mau. Tapi bukan berarti mereka nggak peduli. Tantangannya adalah apakah kita cukup dewasa untuk memahami itu? Menariknya, film ini juga mengingatkan bahwa memahami bukan berarti harus menerima semuanya mentah-mentah. Kita tetap boleh merasa nggak nyaman dan punya batas atas cara orang memperlakukan kita. Lewat Tante Yuli, film ini seperti mengatakan kalau kadang yang paling peduli justru yang paling berani jujur, bahkan saat itu bikin kita nggak nyaman.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *