Melihat Metode Montessori YPMAK di Mimika untuk Anak Asli Papua

Rafitman
6 Min Read

Pendekatan Montessori di Sekolah Asrama Taruna Papua

Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) yang dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menerapkan model pembelajaran Montessori sejak Juli 2024. Metode ini dipilih setelah melalui kajian mendalam terhadap karakteristik peserta didik SATP yang 100 persen merupakan anak asli Papua, baik dari wilayah pegunungan maupun pesisir.

Karakteristik Anak Papua dan Pemilihan Model Pembelajaran

Kepala SATP, Sonianto Kuddi menjelaskan bahwa pendekatan Montessori dipilih karena dinilai sesuai dengan budaya, latar belakang, serta kecenderungan motorik kinestetik yang kuat pada anak-anak Papua. “Anak-anak yang belajar di SATP ini 100 persen asli Papua, berasal dari Pegunungan dan Pesisir yang memiliki karakteristik dan budaya yang unik,” ujarnya saat ditemui di ruang Kelas Montessori.

Menurutnya, anak-anak Papua terbiasa aktif di luar ruangan sehingga tidak cocok jika hanya dibatasi pada pembelajaran konvensional di dalam kelas. Model Montessori yang menekankan pembelajaran aktif dan konkret dinilai lebih relevan.

“Anak-anak ini tidak bisa kita kurung dalam satu kelas. Mereka punya motorik kinestetik yang sangat kuat, sehingga model Montessori adalah yang paling cocok untuk anak-anak kelas 1 SD kami,” jelasnya.

Pengembangan Dasar Belajar yang Adaptif

Selain itu, sebagian besar siswa SATP belum memperoleh pendidikan optimal sebelum masuk SD. Kondisi tersebut mendorong sekolah untuk memberikan fondasi belajar yang adaptif dan berbasis pengalaman langsung. Melalui metode Montessori, siswa didorong mengekspresikan kemampuan lewat praktik langsung (learning by doing), bukan sekadar menghafal.

Proses belajar menggunakan aparatus atau alat peraga, sehingga anak memahami konsep secara konkret. “Hafalan itu sangat tidak disarankan. Pembelajaran harus berpusat pada anak. Guru harus tahu kelebihan anak dan memahami budaya mereka, lalu menghubungkannya dengan materi pembelajaran,” ucap Sonianto.

Integrasi Pembelajaran dengan Kehidupan Sehari-hari

Pendekatan ini juga mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa agar pembelajaran terasa lebih bermakna dan relevan dengan masa depan mereka. Hasilnya pun mulai terlihat. Dalam penampilan kelas 1 pada 14 Februari lalu, siswa yang baru menjalani pembelajaran selama empat bulan menunjukkan perkembangan signifikan.

“Persiapannya hanya empat bulan, dan hampir semua sudah bisa baca, tulis, dan hitung secara konkret. Dengan metode ini jauh lebih efektif karena sesuai dengan karakteristik mereka,” ungkapnya.

Fokus pada Bahasa Lisan dan Literasi Dini

Sementara Kepala Program Montessori SATP, Theodora Karmayanti Widyaningsih menjelaskan, program pembelajaran di sekolah ini menekankan pada penguatan bahasa lisan, sebagai bagian dari konsep early childhood (Anak Usia Dini), early literacy (Literasi Dini/Keaksaraan Awal) dan early childhood education (Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD).

Salah satu fokus utama adalah pengembangan bahasa lisan yang terintegrasi dengan aktivitas pembelajaran literasi. “Kegiatan seperti pertunjukan seni dan aktivitas kreatif lainnya dirancang agar bermakna bagi anak. Dengan demikian, anak tidak sekadar menghafal, melainkan memahami secara alami,” kata Theodora.

Ia menjelaskan, melalui pendekatan tersebut, anak diperkenalkan pada berbagai kosakata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, belum tentu semua anak mengetahui nama benda seperti rak atau dingklik. Karena itu, keterlibatan anak dengan lingkungan menjadi hal penting agar mereka mengenal dan memahami istilah-istilah tersebut.

Aktivitas Pembelajaran dan Perkembangan Anak

Komunikasi antara guru dan siswa juga menjadi kunci dalam memperkaya kosakata anak. Percakapan, bernyanyi, dan berbagai aktivitas lisan lainnya dilakukan agar bahasa Indonesia yang mereka gunakan menjadi lebih bermakna dalam keseharian.

Selain itu, aktivitas pembelajaran dirancang untuk melatih konsentrasi dan koordinasi gerak tangan guna menstimulasi perkembangan otak anak. Seluruh kegiatan dilakukan secara praktik. Anak mengambil alat yang telah dijelaskan penggunaannya oleh guru, kemudian memilih aktivitas yang ingin dikerjakan.

Setelah menyelesaikan tugas secara mandiri, mereka meminta persetujuan guru sebelum beralih ke kegiatan lain. Setiap anak juga didampingi untuk mengungkapkan perasaannya, apakah merasa senang, kesulitan, atau tidak nyaman. Guru mencatat perkembangan harian secara detail melalui catatan khusus, layaknya rekam medis, sehingga perkembangan tiap individu dapat terpantau.

Jadwal dan Struktur Pembelajaran

Kegiatan belajar dimulai pukul 07.00 WIT. Pada 30 hingga 40 menit pertama, anak mengikuti kegiatan pembukaan seperti meditasi dan mendengarkan cerita. Suasana kelas dijaga tetap tenang. Anak diperbolehkan berdiskusi, berjalan, maupun bekerja sama dengan teman, namun tetap dalam aturan yang berlaku.

Terkait capaian pembelajaran, pihak sekolah menegaskan tidak ada standar kaku dalam pendekatan Montessori. Program ini dirancang untuk rentang kelas 1 hingga kelas 2. Anak yang memiliki perkembangan lebih cepat dapat melaju sesuai kemampuannya, sementara yang masih membutuhkan waktu akan tetap didampingi.

Penilaian dilakukan secara deskriptif dan individual, sehingga tidak ada anak yang tertinggal. Sebagian besar siswa kelas 1 disebut sudah mampu membaca, menulis, dan berhitung, meski dengan capaian yang berbeda-beda. Pihak sekolah memastikan pemahaman anak menjadi tujuan utama, bukan sekadar formalitas.

Implementasi dan Perkembangan Jangka Panjang

Program ini telah berjalan sejak Juli 2024. Pada awalnya masih berupa program pendamping di kelas reguler. Namun mulai Juli tahun ajaran 2025/2026, program Montessori diterapkan secara utuh untuk kelas 1, dengan siswa belajar penuh dari pagi hingga siang di kelas khusus.

Dalam satu kelas terdapat sekitar 24 hingga 27 siswa. Pendekatan learning by doing menjadi ciri utama metode ini, di mana anak belajar melalui praktik langsung, bukan sekadar hafalan. Meski belum ada perbandingan resmi dengan kelas reguler, pihak sekolah menilai indikator yang paling terlihat adalah perkembangan mental siswa.

Anak dinilai lebih mandiri, percaya diri, dan memiliki karakter yang lebih kuat. Pendekatan Montessori disebut tidak terlepas dari pembangunan karakter sebagai fondasi utama pembelajaran.

Share This Article
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *