Saat Ayah Membawa Raport, Pelajaran, dan Harapan Sekolah

Hartono Hamid
7 Min Read

Pengalaman Mengambil Rapor Sebagai Ayah

Pagi itu, Jumat 19 Desember 2025, langit tampak mendung. Hujan rintik mengiringi aktivitas rutin: berangkat kerja. Namun hari itu saya memilih memenuhi undangan Kepala SMP Negeri 1 Pandeglang untuk hadir mengambil rapor anak.

Tiba di sekolah, suasana mulai tampak ramai. Bukan keramaian khas kedatangan murid, melainkan keramaian orangtua yang datang dengan kendaraan masing-masing. Tak heran jika area parkir sekolah padat, bahkan jalan raya di depan sekolah ikut tersendat karena kendaraan roda dua dan roda empat yang terparkir di tepi jalan.

Tampak wajah para orangtua – sebagian besar bapak-bapak – yang terlihat sumringah. Mereka satu per satu memasuki ruang kelas dengan antusias. Tidak tampak ketegangan di wajah mereka yang sebentar lagi menerima rapor hasil belajar anak-anaknya.

Kami dipersilakan duduk di kelas tempat anak-anak sehari-hari belajar. Rasanya seperti kembali menjadi murid. Bagi saya, hari itu adalah kali pertama kembali masuk ruang kelas setelah menyelesaikan pendidikan sekolah sekitar tiga puluh lima tahun lalu.

Namun pagi itu saya datang ke sekolah bukan sebagai murid, bukan pula sebagai guru. Saya datang sebagai ayah, membawa harapan yang tidak tertulis di selembar rapor.

Saya duduk di hadapan meja kayu, tangan di atas meja, seolah bersiap memulai pelajaran. Di depan, seorang guru wali kelas bersiap membagikan rapor kepada para orangtua yang hadir.

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak

Bagi saya, kehadiran ayah secara langsung dalam pengambilan rapor merupakan bentuk keterlibatan aktif dalam pendidikan dan perkembangan belajar anak. Kehadiran ini menegaskan bahwa peran ayah secara emosional sangat dibutuhkan, dan tidak semata-mata bergantung pada peran guru di sekolah.

Makna kehadiran ayah di sekolah bukan sekadar memenuhi undangan dalam rangka Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). Lebih dari itu, kehadiran ini merupakan wujud tanggung jawab orangtua sebagai pendidik utama bagi anaknya.

Sebagai orangtua, saya sepakat dengan program pemerintah ini karena menyadari betapa krusialnya peran ayah dalam pendidikan anak. Selama ini, tanggung jawab pendidikan kerap terasa lebih banyak dibebankan kepada ibu, seolah kehadiran ayah cukup diwakili dari kejauhan.

Karena itu, kehadiran ayah secara langsung saat mengambil rapor menjadi momen yang bermakna. Bagi anak yang biasanya rapor diambil oleh ibunya, kehadiran ayah tentu menghadirkan rasa yang berbeda. Terlebih jika sebelumnya pengambilan rapor kerap diwakilkan oleh kakak atau anggota keluarga lain, maka kehadiran ayah bukan sekadar simbol, melainkan penegasan bahwa proses belajar anak adalah perhatian dan tanggung jawab bersama.

Evaluasi Proses Belajar Bersama

Rapor dalam momen ini digunakan sebagai sarana keterlibatan, bukan sekadar formalitas. Dalam penyerahan hasil belajar selama satu semester, wali kelas secara langsung menjelaskan evaluasi proses belajar mengajar, mulai dari nilai mata pelajaran, capaian kompetensi, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, hingga hasil tes IQ yang diikuti peserta didik pada semester ini.

Melalui momen tersebut, guru dan orangtua berinteraksi melakukan evaluasi bersama, sekaligus menyampaikan harapan masing-masing demi kemajuan anak pada semester berikutnya.

Dari penjelasan wali kelas, saya semakin menyadari betapa berat tugas seorang guru di sekolah. Mereka tidak sekadar mengajar, tetapi berjuang dengan kesungguhan dan kepedulian untuk mendidik anak-anak agar terus bertumbuh. Setiap evaluasi hasil pelajaran yang disampaikan terasa bukan sebagai laporan semata, melainkan wujud tanggung jawab dan perhatian terhadap masa depan murid-muridnya.

Pentingnya Kolaborasi Orangtua dan Guru

Pada saat yang sama, saya memahami pentingnya kolaborasi antara guru dan orangtua. Harapan dan cita-cita anak tidak mungkin terwujud jika hanya dibebankan pada satu pihak. Dibutuhkan komunikasi, kepercayaan, dan upaya bersama untuk mencari solusi terbaik bagi perkembangan anak.

Saya sempat terkejut ketika mengetahui anak saya berada di peringkat dua dari empat puluh siswa di kelasnya. Meski pihak sekolah menjelaskan bahwa sistem peringkat tidak lagi menjadi penekanan utama, informasi tersebut tetap menjadi pengingat bagi saya sebagai ayah untuk lebih giat membimbing anak, terutama pada mata pelajaran yang masih dianggap lemah.

Namun bagi saya, peringkat bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah nilai terbaik versi anak – hasil dari usaha belajar, proses yang dijalani dengan dukungan pembelajaran yang memadai di sekolah, serta pendampingan orangtua di rumah.

Harapan Sederhana dari Seorang Anak

Di balik rapor yang diterima orangtua dan catatan yang disampaikan guru, saya membayangkan ada harapan sederhana dari seorang anak: ingin didengarkan ketika bercerita, dipercaya dalam proses belajarnya, dan didampingi tanpa merasa dihakimi. Harapan itu mungkin tidak terucap, tetapi hadir diam-diam dalam setiap langkahnya menjalani hari-hari di sekolah.

Sebagai orangtua, harapan saya: anak tidak hanya berhasil secara akademik dengan meraih nilai terbaik, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter sesuai tahap perkembangannya. Hal ini sejalan dengan fungsi orangtua sebagai pendidik utama anak di lingkungan keluarga.

Momen tatap muka saat orangtua menerima rapor memang hanya berlangsung beberapa menit. Mungkin terlihat sederhana, namun sangat berarti bagi anak.

Hari itu saya pulang membawa rapor. Namun yang lebih penting, saya pulang dengan sebuah pengingat: bahwa mendidik anak adalah kerja bersama yang tidak pernah selesai.

Anak saya bercerita dengan cara yang sederhana, tanpa keluhan berlebihan. Ia mengatakan bahwa guru-gurunya baik, mengajar dengan ramah, dan penjelasannya mudah dipahami. Dari ceritanya, saya menangkap rasa nyaman seorang anak yang merasa diterima di ruang belajar.

Ia juga menyampaikan satu pengalaman kecil yang baginya cukup membingungkan. Ada kalanya murid diminta menulis di papan tulis dan murid lain menyalin di buku, sementara penjelasan lanjutan tidak selalu diberikan. Bukan karena guru tidak peduli, melainkan karena pada saat yang sama guru harus menjalankan kegiatan lain di luar kelas.

Dari cerita itu, saya belajar bahwa proses belajar anak tidak selalu berjalan utuh dan sempurna. Ada jeda, ada kekosongan, dan ada hal-hal yang mungkin belum sepenuhnya dipahami. Di situlah peran kami sebagai orangtua menjadi penting: membantu anak menutup celah-celah kecil dalam proses belajarnya, sekaligus menanamkan pengertian bahwa keterbatasan adalah bagian dari dinamika pendidikan.

Pada titik ini, saya belajar bahwa tugas saya sebagai ayah bukan memastikan semuanya berjalan dengan sempurna, melainkan memastikan anak tidak berjalan sendirian.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *