Siti Aminah meninggal ketika Nabi Muhammad SAW berusia 6 tahun. Inilah kisah mengenai ibu dari Sang Nabi.
Riwayat Siti Aminah, Ibu Nabi Muhammad SAW
Siti Aminah adalah putri dari Wahab bin Abd Manaf dan Barrah binti Abd al-Uzza. Ia lahir sekitar tahun 549 Masehi dan merupakan bagian dari kabilah Bani Zuhrah, salah satu klan terpenting di suku Quraisy yang menjadi penjaga Kabah. Pernikahan antara Siti Aminah dan Abdullah bin Abdul Muthalib terjadi pada tahun 569 Masehi. Menurut catatan dalam buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings, pernikahan ini terjadi setelah keluarga Abdul Muthalib datang melamar Siti Aminah untuk putranya.
Lamaran diterima karena kebaikan Abdullah, meskipun keluarga Wahab tidak meminta mahar. Namun, secara tradisional, mahar tetap diberikan. Abdul Muthalib juga memberikan pidato saat pernikahan berlangsung. Dari pernikahan ini, lahir Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Tahun tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah, yang memiliki makna penting dalam sejarah.
Kehidupan Siti Aminah Selama Mengandung Muhammad
Menurut riwayat yang dikutip dari kitab Anwarul Muhammadiyah karya Syekh Yusuf bin Ismail An Nabhani, Allah SWT menitipkan ruh Nabi Muhammad dalam kandungan Siti Aminah pada malam Jumat di bulan Rajab. Selama masa kehamilan, Abdullah jarang berada di rumah karena harus melakukan perjalanan dagang ke luar negeri. Ketika usia kandungan Siti Aminah mencapai enam bulan, Abdullah wafat dalam perjalanan dagangnya ke Syam (Suriah). Ia meninggalkan harta berupa lima ekor unta, satu ekor kambing, serta seorang budak bernama Ummu Aiman yang kemudian menjadi pengasuh Nabi Muhammad.
Keajaiban Saat Kelahiran Nabi Muhammad
Pada saat Siti Aminah berusia sembilan bulan, cahaya memenuhi rumahnya. Saat proses melahirkan berlangsung, mertuanya, Abdul Muthalib sedang bermunajat di Ka’bah. Siti Aminah sendirian di rumah dan menangis karena tidak ada orang yang membantunya. Tiba-tiba, empat wanita muncul di hadapannya. Mereka adalah Siti Hawa, Siti Sarah, Siti Maryam, dan Asiyah binti Muzahim. Keempat wanita ini diutus oleh Allah SWT dan memberikan selamat kepada Siti Aminah karena telah mengandung Nabi Muhammad.
Pengasuhan Nabi Muhammad
Setelah lahir, Nabi Muhammad tidak disusui langsung oleh Siti Aminah. Seperti tradisi Arab pada masa itu, bayi harus diserahkan kepada para murdiat, yaitu perempuan yang menyusui bayi. Salah satu perempuan yang bersedia menyusui Nabi Muhammad adalah Halimah Sa’diyah. Halimah adalah satu-satunya orang di Bani Sa’ad yang mau menyusui Nabi Muhammad karena saat itu banyak perempuan di sana enggan menyusui anak yatim atau tanpa ayah. Setelah dua tahun, Halimah mengembalikan Nabi Muhammad kepada Siti Aminah.
Perjalanan ke Madinah dan Kematian Siti Aminah
Ketika Nabi Muhammad berusia enam tahun, Siti Aminah mengajaknya berziarah ke makam ayahnya di Madinah. Perjalanan dilakukan menggunakan unta, ditemani oleh Ummu Aiman. Setelah selesai berziarah, mereka kembali ke Mekkah. Sepanjang perjalanan pulang, Siti Aminah memberi perhatian lebih kepada Muhammad dan mengajarkan beberapa hal penting. Di tengah perjalanan, ia sakit dan memutuskan untuk singgah di Desa Al Abwa, yang berada di antara Mekkah dan Madinah.
Karena kondisi kesehatannya yang semakin parah, Siti Aminah akhirnya wafat di Al-Abwa sekitar tahun 577/578. Setelah itu, Nabi Muhammad menjadi yatim piatu sejak usia enam tahun. Kehilangan ibunya menjadi momen penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW.