Buka Puasa Bersama, Eks Napiter dan Yayasan Kristen Berbagi Kuah Gulai di Semarang

Wahyudi
5 Min Read

Perjumpaan Bersejarah di Semarang: Mantan Narapidana Terorisme dan Pengurus Kristen Bersatu

Di kawasan Pleburan, Semarang Selatan, Kota Semarang, suasana mulai gelap pada Rabu (11/3/2026). Di sebuah rumah makan Gulai Kepala Ikan Pak Untung, meja-meja panjang telah tersusun rapi. Aroma kuah masakan mengepul, bercampur dengan suara tawa anak-anak yang berlarian. Di tempat itu, sebuah pemandangan yang jarang ditemui terjadi: para mantan narapidana terorisme duduk berdampingan dengan pengurus yayasan Kristen.

Tidak ada jarak atau kecanggungan di antara mereka. Percakapan mengalir dan diselingi candaan. Di antara mereka, dua etnis juga membaur tanpa sekat, yakni Tionghoa dan Jawa. Mereka makan bersama, berbagi cerita, dan menyaksikan anak-anak yang ikut hadir menikmati lomba kecil dengan hadiah sederhana dan angpao.

Kegiatan bertajuk “Silaturahmi Ramadan dan Buka Puasa Bersama” tersebut digagas oleh Yayasan Jelai Kasih Indonesia dan Yayasan Persadani (Putra Persaudaraan Anak Negeri), yang selama ini aktif mendampingi mantan napiter agar bisa kembali diterima di tengah masyarakat.

Perjalanan Panjang Menuju Kepercayaan

Pembina Persadani, Bripka Purnomo Budisetiawan, mengatakan pertemuan tersebut merupakan bentuk nyata dari proses panjang pembinaan yang dia lakukan sejak 2018. Sebagai anggota Satbinmas Polrestabes Semarang, dia dikenal aktif merangkul mantan napiter dengan pendekatan humanis agar mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal di masyarakat.

Bripka Purnomo mengaku bersyukur karena acara tersebut membuka ruang perjumpaan yang jarang terjadi. Menurut dia, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi tembok pemisah. Dia juga menyebut kegiatan seperti ini bukan hanya seremonial. Ke depan, berbagai program pelatihan produktif telah disiapkan agar para mantan napiter memiliki keterampilan dan penghidupan yang layak.

“Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan ke depan tentu memberikan kontribusi kepada mereka supaya bisa diterima oleh masyarakat, sekaligus memberikan pelatihan-pelatihan produktif untuk kesejahteraan mantan napiter dan juga keluarganya,” jelas dia.

Pada pertemuan malam itu, delapan orang pengurus eks napiter dari Persadani yang tersebar di wilayah Kota Semarang hadir bersama keluarga mereka.

Masa Lalu Keras Menuju Moderat

Ketua Yayasan Persadani Sri Pujimulyo Siswanto menjelaskan bahwa komunitas yang dipimpinnya kini menaungi puluhan mantan napiter di Jawa Tengah. Secara keseluruhan, jumlah anggota Persadani mencapai 67 orang di tingkat provinsi. Sementara di Kota Semarang sendiri terdapat sekitar 20 orang yang berada di bawah pendampingan yayasan tersebut.

Sebagian besar dari mereka sebelumnya berasal dari kelompok Jemaah Islamiyah (JI), sedangkan sisanya dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Sri Pujimulyo menuturkan perjalanan menuju perubahan tidak terjadi dalam semalam. Dia mengakui bahwa dulu banyak dari mereka masih sulit menerima pihak lain, bahkan dalam lingkup internal sendiri.

“Kami optimistis bahwa apa yang kami bawa ini sesuai dengan fitrah dan hati nurani masyarakat luas,” ujarnya. Dia juga mengakui bahwa di masa lalu hubungan dengan pihak luar tidak selalu mudah.

“Dulu kami kesulitan. Bahkan untuk menerima pihak lain saja belum cair, masih ada ganjalan-ganjalan,” katanya. Namun sejak 2020, menurutnya, perubahan mulai terjadi di internal komunitas tersebut.

“Setelah 2020 itu, hal-hal seperti itu sudah mulai hilang. Kami ingin menunjukkan kepada publik bahwa kami sudah melakukan perubahan paradigma dan kembali ke jalan yang moderat,” tambah dia.

Tiga Tahun Membangun Kepercayaan

Sementara itu, Pembina Yayasan Jelai Kasih Indonesia Timotius Tanutama mengatakan hubungan antara yayasan yang dipimpinnya dengan komunitas eks napiter telah terjalin selama sekitar tiga tahun. Dia menilai pada dasarnya semua orang memiliki keinginan yang sama untuk hidup rukun.

“Sejak awal sampai sekarang kami punya hubungan baik dan nilai-nilai yang sama. Mereka ingin hidup rukun, kami juga sama, dan kita saling membangun,” ujar Timotius. Dia percaya bahwa di balik latar belakang yang berbeda, setiap orang memiliki sisi kemanusiaan yang sama.

“Pada hakikatnya kita semua ingin hidup rukun dengan siapa pun. Di lubuk hati masing-masing sebenarnya kita sama, hanya mungkin jalan hidupnya saja yang berbeda,” pungkas dia.

Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *