Cara Menggapai Lailatul Qadr: Malam Lebih Mulia dari Seribu Bulan, Kultum Menag 23 Ramadan 1447 H

Zaiful Aryanto
5 Min Read

Malam Lailatul Qadr: Keistimewaan yang Tak Terukur

Malam Lailatul Qadr di bulan Ramadan merupakan malam yang memiliki keutamaan luar biasa. Dalam pandangan umat Islam, malam ini lebih mulia dari seribu bulan. Pada malam ini, malaikat turun untuk mengatur segala urusan dan memberikan keberkahan kepada manusia. Para sahabat dan ulama memanfaatkan malam ini dengan beribadah secara intensif, seperti shalat malam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Umat Nabi Muhammad SAW dianjurkan untuk menjemput kehadiran Lailatul Qadr dengan penuh kesungguhan agar dapat meraih berkah spiritual dan bekal akhirat. Salah satu keutamaan malam-malam suci Ramadan adalah turunnya malam Lailatul Qadr. Meskipun bagi kita mungkin tidak terasa dan tampak sama seperti malam-malam lainnya, dalam pandangan ulama hadis, malam ini memiliki banyak keajaiban.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW memimpin shalat jamaah yang makmumnya para nabi di Baitul Maqdis, Palestina, menjelang mi’raj ke langit, para nabi memohon untuk dihidupkan kembali secara normal di muka bumi, meskipun hanya sebagai umat biasa dan tunduk kepada ajaran Islam. Rahasia di balik permohonan itu ialah keberadaan Lailatul Qadr yang tidak pernah ada sebelum umat Nabi Muhammad. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan Tuhan. Mengapa para nabi tersebut memandang penting makna Lailatul Qadr?

Tentu saja mereka melihatnya demikian karena mereka hidup di alam barzakh, bagian dari alam gaib, dan menyaksikan betapa sibuk para malaikat langit turun memberikan fasilitas spiritual kepada para manusia, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat tersebut di atas.

Keutamaan Lailatul Qadr dalam Al-Qur’an

Keutamaan Lailatul Qadr di dalam bulan istimewa Ramadan luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. al-Qadr/97:4).

Ayat-ayat di atas bagian dari ayat-ayat yang menceritakan keluarbiasaan malam sebagai waktu untuk menjalin komunikasi aktif dan intensif dengan Allah SWT. Ayat-ayat di atas, seolah-olah lebih menekankan arti penting malam hari dari pada siang hari, meskipun siang hari Ramadhan itu kita mengerjakan puasa wajib Ramadan.

Itulah sebabnya para sahabat dan para ulama yang memahami rahasia keutamaan malam Ramadan lebih banyak begadang di malam harinya. Mereka mengerjakan berbagai aktivitas ibadah untuk meraih berkah dan kemuliaan Ramadan. Begitu pentingnya malam-malam hari Ramadan sehingga pernah ada sahabat yang membentangkan tali dari tiang ke tiang untuk menyangga badannya yang sudah lemah sambil terus melaksanakan shalat-shalat sunat di malam hari.

Makna Angka Seribu dalam Ayat

Pada masa turunnya Alquran bilangan paling tinggi ialah bilangan angka seribu. Sekiranya ada bilangan triliun seperti saat ini, maka mungkin redaksi Alquran “lebih mulia dari pada setriliun bulan”. Itulah sebabnya ulama Tafsir tidak mengartikan kata alfun dalam ayat di atas dengan “seribu” tetapi ribuan atau beribu-ribu bulan, atau unlimited, tanpa batas.

Di sini bukan angka-angka yang amat penting tetapi kualitas dan intensitas waktu itu. Ini bisa dimengerti dan di rasakan, bahwa memang malam hari menampilkan kegelapan tetapi bukankah kegelapan menjanjikan ketenangan, keteduhan, keakraban, kepasrahan, kerinduan, kehangatan, kesyahduan, dan kekhusyukan.

Pentingnya Memanfaatkan Lailatul Qadr

Sebaiknya kita lebih bersahabat dengan rahasia malam hari agar kita bisa memperoleh keberkahan hidup yang luar biasa. Alangkah ruginya kita yang sudah menjadi umat nabi Muhammad tetapi masih menyia-nyiakan dan membiarkan peristiwa dahsyat Lailatul Qadr berlalu begitu saja, tanpa memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyiapkan bekal hidup akhirat kita.

Seandainya hidup kita dikaruniai umur panjang misalnya 70 tahun, maka kita akan melewati 70 kali momen Lailatul Qadr. Potong saja usia masa anak-anak yang belum mukallaf 15 tahun maka usia produktif kita masih ada 55 tahun, dikalikan 1000 bulan, maka jumlah usia produktif kita setara dengan 55.000 bulan atau 4583 tahun. Inilah kelebihan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan keistimewaan khusus yang tidak diberikan selain kita.

Mari kita menjemput kehadiran Lailatul Qadr di dalam jiwa kita masing-masing.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *