Perubahan Sikap Trump dan Respons Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari sejak 23 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah beberapa waktu lalu Trump mengeluarkan ultimatum keras terhadap Iran. Namun, respons dari pihak Iran tidak sepenuhnya positif terhadap tindakan tersebut.
Iran tidak melihat keputusan Trump sebagai langkah damai, melainkan sebagai tanda bahwa Washington sedang mengalami kebuntuan militer dan tekanan pasar global. Menurut sumber militer senior Iran yang dikutip oleh Tasnim News, klaim Trump tentang adanya pembicaraan produktif hanyalah upaya untuk menutupi kegagalan opsi militer di lapangan. Dengan demikian, penundaan serangan itu dianggap sebagai tanda ketidakpercayaan Washington terhadap kekuatan serangannya.
Penundaan Serangan dan Tekanan Pasar Global
Selain itu, Iran juga menyebut penundaan serangan itu berkaitan dengan gejolak di pasar finansial global. Ancaman perang di kawasan Timur Tengah, terutama yang menyasar fasilitas energi Iran, berpotensi mengguncang stabilitas pasokan minyak dunia. Situasi ini membuat setiap pernyataan dari Gedung Putih langsung diterjemahkan pasar sebagai sinyal ancaman terhadap ekonomi global.
Bagi Iran, penundaan serangan itu dianggap sebagai upaya Washington untuk meredam gejolak pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor Barat. Dalam pandangan Iran, pemerintah AS kini harus menghadapi kenyataan bahwa eskalasi militer terhadap Iran bukan hanya persoalan keamanan, melainkan juga menyangkut risiko besar terhadap harga minyak, pasar saham, dan stabilitas energi internasional.
Ancaman “Kejutan” dari Iran
Di balik wacana penundaan serangan dan potensi diplomasi, Iran justru mengeluarkan ancaman yang lebih tajam. Sumber militer negara itu mengatakan Teheran telah menyiapkan kejutan baru dalam beberapa hari mendatang. Mereka mengklaim kejutan ini akan menjadi serangan yang lebih mematikan dan krusial bagi pihak yang dianggap sebagai agresor.
“Trump harus melepaskan kepalanya dari ponsel dan media sosial untuk sementara waktu. Mulai sekarang, matanya hanya boleh fokus pada langit, pasar saham, dan harga minyak,” tegas sumber tersebut. Pernyataan ini mengandung pesan yang sangat jelas. Iran tampaknya ingin menunjukkan bahwa eskalasi selanjutnya tidak hanya akan terjadi di medan perang semata, tetapi juga bisa menjalar ke aspek ekonomi global.
Operasi Balasan IRGC
Di saat Gedung Putih disebut membuka ruang jeda, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC justru mengumumkan keberhasilan lanjutan Operasi Sadiq Promise 4 gelombang ke-77. Dalam keterangan yang disiarkan media Iran, operasi itu disebut menggunakan sistem rudal berat Khyber-Shaker, Zulfiqar, serta drone penghancur untuk menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Ali Salem, Al-Kharj, dan Al-Dhafra.
Iran memosisikan operasi itu sebagai bukti bahwa tekanan militer mereka belum surut. Narasi yang dibangun Teheran adalah bahwa pihaknya tetap mampu meluncurkan serangan balasan berlapis, terukur, dan menyasar titik-titik strategis milik Amerika Serikat di kawasan.
Diplomasi Iran ke Rusia dan China
Meski retorika militernya keras, Iran tetap bergerak di jalur diplomatik. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan mendesak Rusia dan China agar memblokir langkah Amerika Serikat di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Strategi ini menunjukkan bahwa Teheran tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga berusaha membangun perlindungan politik di forum internasional.
Araqchi menegaskan bahwa ketidakamanan di Selat Hormuz merupakan dampak langsung dari agresi ilegal Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu. Dengan membawa isu ini ke arena diplomatik, Iran mencoba membentuk opini global bahwa eskalasi konflik saat ini bukan dipicu oleh Teheran, melainkan oleh tekanan militer dari Washington dan Tel Aviv.
Dunia Menanti Eskalasi Berikutnya
Pernyataan-pernyataan terbaru dari kedua kubu membuat dunia kini berada dalam posisi menunggu dengan cemas. Di satu sisi, Trump menunda serangan selama lima hari, yang bisa dibaca sebagai peluang diplomasi. Di sisi lain, Iran justru menafsirkan jeda itu sebagai kelemahan musuh dan mengumumkan bahwa kejutan baru sudah disiapkan.
Situasi ini membuat risiko salah perhitungan menjadi sangat besar. Bila salah satu pihak membaca langkah lawan secara keliru, eskalasi bisa meledak lebih luas dalam waktu singkat. Ancaman tidak hanya terbatas pada serangan militer, tetapi juga pada gangguan besar terhadap suplai energi dunia, lonjakan harga minyak, dan kepanikan pasar keuangan.
Dengan demikian, perhatian dunia kini tidak lagi hanya tertuju pada pernyataan politik para pemimpin, tetapi juga pada indikator ekonomi global. Harga minyak, indeks saham, dan stabilitas jalur pelayaran internasional akan menjadi penanda utama apakah konflik ini bergerak menuju deeskalasi atau justru menuju fase yang lebih berbahaya.