Peran Suku Kurdi dalam Konflik Timur Tengah
Suku Kurdi, yang memiliki sejarah panjang di kawasan Timur Tengah, kembali menjadi sorotan akibat kegentingan yang terjadi antara pihak-pihak besar seperti Israel dan Amerika Serikat (AS) dengan Republik Islam Iran. Tokoh-tokoh Kurdi, termasuk Ibu Negara Republik Irak, Shanaz Ibrahim Ahmed, menegaskan bahwa suku ini tidak ingin terlibat dalam konflik yang bukan berada di bawah kontrol mereka.
Shanaz menyampaikan pernyataan tersebut melalui media sosial resmi miliknya pada Kamis (5/3/2026). Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa Suku Kurdi kini hidup dalam ketenangan dan perdamaian. “Biarkan Kurdi sendiri. Kami bukan tentara bayaran,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan sikap tegas dari tokoh politik penting yang berasal dari Suku Kurdi di Irak.
Latar Belakang Shanaz Ibrahim Ahmed
Shanaz Ibrahim Ahmed adalah istri dari Presiden Republik Irak Abdul Latif Jamal Rashid. Keduanya merupakan tokoh politik utama dari Suku Kurdi di Irak. Mereka juga merupakan anggota Partai Patriotik Kurdi (PUK), salah satu faksi politik terbesar di Irak. Selain itu, Shanaz juga dikenal sebagai tokoh perempuan penting dari garis keturunan keluarganya di Sulaimania, sebuah kota utama semi otonom untuk rakyat Kurdi di Irak.
Shanaz mengkritik masa lalu peran AS dalam memperlakukan Suku Kurdi hanya sebagai pion dalam peperangan. Dalam pernyataannya, ia mengingat bagaimana pada tahun 1991, Suku Kurdi didesak untuk melawan kekuasaan Saddam Hussein di Irak. Namun, setelah upaya tersebut berakhir dengan pembantaian, mereka ditinggalkan oleh pihak asing. “Tidak ada yang membela kami ketika rezim (Saddam Hussein) mengerahkan helikopter tempur dan tank untuk menumpas kami,” katanya.
Pengalaman Pahit dan Kesadaran Politik
Kenangan itu masih terus melekat dalam ingatan Shanaz. Ia menilai pengalaman pahit ini memberikan pelajaran penting bagi Suku Kurdi. “Terukir dalam pikiran kami,” kata dia. Suku Kurdi merayakan momen tersebut dengan sebutan ‘Raparin’ dan tidak pernah melupakan apa yang telah diajarkannya kepada mereka.
Baru-baru ini, Shanaz juga menyebutkan bahwa orang-orang Kurdi di wilayah Timur Laut Suriah atau Rojava mengalami nasib serupa. Mereka diberi janji-janji manis oleh negara-negara tertentu untuk melawan rezim Bashar Assad dan kelompok-kelompok terorisme ISIS dan ISIL. Namun, setelah tujuan tercapai, mereka tidak diperlakukan sesuai dengan janji awalan.
Keinginan untuk Ketenangan dan Kedaulatan
Saat ini, Shanaz menyatakan bahwa Suku Kurdi Irak sudah merasakan perdamaian yang diinginkan. Mereka telah memasuki masa stabilitas yang dapat memberikan martabat dalam kehidupan seluruh Suku Kurdi. “Oleh karena itu, kami sangat sulit menerima, bahkan mustahil bagi kami orang-orang Kurdi untuk menerima diperlakukan kembali seperti pion-pion oleh negara-negara adidaya dunia (AS),” ujarnya.
Pengalaman pahit dari masa lalu dan sifat politik yang tidak jelas dari negara-negara besar membuat Shanaz meminta semua pihak yang terlibat dalam konflik antara AS-Israel dan Iran untuk tidak menyeret Suku Kurdi ke dalam palagan perang.
Spekulasi Internasional dan Rencana Trump
Penyampaian terbuka Shanaz ini datang setelah spekulasi internasional tentang perang yang sedang berkembang di kawasan Timur Tengah akibat agresi Zionis Israel-AS ke wilayah Iran. Belakangan, rencana Presiden AS Donald Trump untuk memberikan pendanaan dan mempersenjatai Suku Kurdi yang berbasis di perbatasan antara Irak dan Iran mulai dispekulasikan.
Dalam perangnya dengan Iran kali ini, Trump kesulitan mendapatkan persetujuan dari Kongres AS untuk pengerahan tentara resmi. Tujuannya adalah untuk menghindari korban jiwa yang signifikan di pihak AS. Karena itu, Trump melalui kontak Badan Intelijen Luar Negeri AS (CIA) memberikan proposal kepada dua faksi Kurdi terbesar di Irak dan Iran dari kelompok Masoud Barzani dan Bafel Talabani untuk mengerahkan tentara Kurdi masuk ke wilayah Iran.
Tujuannya agar Suku Kurdi berada di pihak AS dan Israel untuk melakukan perang darat menyerbu tentara Iran yang hingga kini masih melakukan perlawanan sampai ke negara-negara di Teluk Arab. Militer Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), mengetahui rencana tersebut dan mulai melakukan pengeboman di wilayah-wilayah Kurdi di perbatasan negara itu.