Penanganan Banjir di Jakarta Timur
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah memastikan bahwa banjir yang terjadi di beberapa wilayah Jakarta, khususnya Jakarta Timur, telah surut pada Minggu siang. Sebelumnya, genangan air sempat menggenangi 22 RT dengan ketinggian antara 30 hingga 80 sentimeter akibat curah hujan tinggi dan luapan sungai.
Penanganan banjir dilakukan melalui kolaborasi berbagai dinas seperti BPBD, Dinas SDA, Dinas Gulkarmat, Dinas Bina Marga, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, dan PPSU Kelurahan. Upaya ini melibatkan penggunaan pompa air mobile untuk menyedot genangan serta memastikan aliran air berfungsi dengan baik. Selain itu, peran masyarakat juga sangat penting dalam penanganan bencana tersebut, termasuk partisipasi dari RT/RW, FKDM, dan tokoh masyarakat lainnya.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera menghubungi nomor darurat 112 saat terjadi keadaan darurat. Layanan ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop.
Kondisi di Wilayah Ciracas
Di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, sebanyak 10 RW terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 1 meter. Saat ini, genangan air mulai surut dan tersisa sekitar 15–20 sentimeter. Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, mengatakan kondisi mulai membaik sejak pagi hari. Banjir terjadi sejak Sabtu malam akibat kenaikan debit air kiriman dari hulu, meski hujan di wilayah Ciracas sudah reda. Ketinggian air mencapai puncaknya sekitar pukul 01.00 WIB.
Luapan air berasal dari Kali Baru dan Kali Cipinang yang tidak mampu menampung debit air. Di permukiman warga, ketinggian air berkisar antara 50 sentimeter hingga 1 meter. Dampak banjir membuat sejumlah warga, khususnya di Kelurahan Rambutan, mengungsi ke kantor kelurahan dan rumah tetangga yang tidak terdampak. Pemerintah kecamatan kini berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk penanganan bantuan pangan, meski belum menjangkau seluruh warga terdampak.
Pengalaman Warga Saat Banjir
Suasana hangat Lebaran yang biasanya penuh canda dan aroma masakan khas mendadak berubah menjadi kepanikan bagi seorang warga di kawasan Jakarta Timur. Seno Haryanto (37), pria yang tinggal di Jalan Artha Kencana, Gang Mukhtar, Cilangkap, Cipayung, tak menyangka banjir setinggi 30-40 sentimeter justru datang tepat di momen hari raya.
Seno sudah lima tahun tinggal di kawasan itu. “Selama saya tinggal di sini, baru dua kali banjir, ini yang paling parah,” kata Seno. Jika lima tahun lalu air hanya setinggi mata kaki, banjir kali ini naik hingga hampir selutut orang dewasa. Air datang cepat pada malam hari, merendam seluruh isi rumah tanpa sempat diselamatkan.
Dalam kondisi darurat, ia memilih menyelamatkan keluarga terlebih dahulu. Bersama istri dan bayi berumur delapan bulan, Seno mengungsi ke rumah kerabat yang berada di tempat lebih tinggi dan keputusan itu harus diambil dalam hitungan menit. “Enggak sempat evakuasi barang, selamatin diri aja dulu, urusan rumah belakangan,” tuturnya.
Akibatnya, hampir seluruh perabot rumah tangga rusak, mulai dari kasur, pakaian, hingga peralatan elektronik seperti kulkas dan mesin cuci tak bisa lagi digunakan. Ia bersyukur kebutuhan makanan Lebaran masih ada. Banjir ini datang di saat keluarga baru saja merayakan Lebaran dengan sederhana.
Perhatian terhadap Sistem Drainase
Warga menduga banjir dipicu oleh meluapnya air yang tidak tertampung, termasuk dari waduk di sekitar wilayah tersebut. Informasi yang beredar menyebutkan adanya sistem buka-tutup pintu air, bahkan dugaan kerusakan area penampungan air. Kondisi tersebut membuat mobilitas warga menjadi sangat terbatas.
Kini, harapan besar disampaikannya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia meminta perhatian serius terhadap sistem drainase dan penanganan banjir, khususnya di wilayah pinggiran Jakarta Timur yang dinilai masih kurang tersentuh. “Pemerintah tolong diperbaiki saluran airnya, kasihan warga di bantaran kali, jangan cuma kota yang diperhatikan,” katanya.
Komentar Warga Lain
Warga lainnya, Apfia (31), mengaku terkejut dengan kondisi tersebut. Selama 18 tahun tinggal di Cilangkap, ia belum pernah menyaksikan banjir dengan ketinggian seperti yang terjadi baru-baru ini. Kini, air telah surut sejak Minggu pagi tadi. Menurutnya, keberadaan waduk yang seharusnya menjadi penampung debit air belum mampu berfungsi optimal.
“Di sini ada dua waduk, Waduk Agro dan waduk di belakang Batu Licin, tapi semalam tetap tidak mampu menahan air,” kata Apfia. Penyebab tidak optimalnya fungsi waduk tersebut belum diketahui secara pasti. Apfia menduga kemungkinan adanya kebocoran atau faktor teknis lain yang membuat kapasitas tampung tidak maksimal.
Selain waduk, Apfia juga menilai sistem drainase di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian serius. Ia berharap adanya perbaikan saluran air serta peningkatan area resapan agar air hujan dapat terserap dengan lebih baik. “Semoga saluran air diperbaiki dan resapannya diperbanyak, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” tuturnya.
Peresmian Waduk Giri Kencana
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Waduk Giri Kencana di Jalan Giri Kencana RW 06 Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026). Pramono meyakini, kehadiran Waduk Giri Kencana bisa menangani genangan maupun banjir di wilayah Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur.
“Di awal saya menjadi Gubernur, salah satu perhatian utama adalah banjir. Dan sekarang ini ada yang seperti ini kurang lebih kita bangun berapa jumlahnya, di Timur ada delapan (waduk yang dibangun),” kata Pramono. Ia meminta kepada Dinas SDA DKI untuk segera selesaikan pembangunan waduk di Jakarta supaya bisa mengatasi banjir dan genangan.