Di bawah Hujan CFD, Adi Jual Jas Hujan Rezeki

Bayu Purnomo
5 Min Read

Perjalanan Adi di Tengah Hujan CFD Jakarta



Car Free Day (CFD) di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi tempat yang ramai pada Minggu pagi (1/2). Warga memadati area ini untuk berolahraga dan menikmati akhir pekan. Sejak pagi hari, kawasan tersebut dipenuhi oleh pengunjung yang berlari, bersepeda, atau sekadar berjalan santai. Namun, langit yang awalnya mendung tiba-tiba berubah menjadi hujan deras, mengubah suasana.

Di tengah keramaian, suara lantang terdengar memecah hujan, “Jas hujan, jas hujan.” Suara itu berasal dari Adi (39), penjual jas hujan keliling yang sigap menyusuri kawasan CFD. Ia berjalan kaki sambil mengenakan jas hujan yang tampak sudah rusak dan ditambal. Di tangannya, Adi membawa satu kantong plastik besar berisi lusinan jas hujan, yang ia tawarkan kepada para pengunjung.



Dalam waktu singkat, dagangan Adi laku hampir setengah. Hujan yang turun mendadak membuat sejumlah warga memilih membeli jas hujan agar tetap bisa melanjutkan aktivitas di CFD atau melanjutkan perjalanan. Adi menjual dua jenis jas hujan: ponco dengan harga Rp 10 ribu per buah, dan jas hujan lengkap dari atasan hingga bawahan dengan harga Rp 20 ribu.

Adi mengaku sudah cukup lama menekuni pekerjaan ini, meski hanya pada waktu-waktu tertentu. “Ya lumayan lah, lumayan lama itu,” katanya saat ditemui di sela hujan. “Iya, dari dulu. Tapi pas lagi hujan aja. Kalau nggak hujan, yaa nggak,” ujarnya.



Jika tidak berjualan jas hujan, Adi biasa mencari penghasilan dengan berjualan minuman kemasan di pasar. “Jualan ini, jualan minuman, minuman ini kayak kemasan itu,” katanya. “Kalau titiknya di pasar,” lanjut Adi. Namun, kondisi pasar yang kini cenderung sepi turut memengaruhi penghasilannya. “Sekarang jauh sama dulu rada sepi nih,” kata Adi. “Iyaa, ngaruh juga soalnya orang belanja ke pasar udah nggak ke pasar,” katanya sambil tersenyum.



Jas hujan yang ia jual dibelinya dari pasar Tanah Abang. Jumlah stok yang dibawa setiap kali berjualan pun tidak menentu. “Nah, jualannya itu sih tergantung ada barangnya aja,” ujar Adi. “Iya, paling lusinan,” tambahnya. Begitu hujan turun di kawasan Bundaran HI, Adi langsung bergerak menuju lokasi CFD. Jarak dari pasar ke kawasan tersebut sejauh kurang lebih 2,5 KM, ia tempuh dengan berjalan kaki.

“Barusan pas hujan langsung keluar,” katanya. “Nah, soalnya di pasar itu pas lah,” katanya. “Jalan, jalan kaki. Sepanjang jalan,” ujarnya.



Menurut Adi, jas hujan baru benar-benar dicari ketika hujan turun dan warga masih beraktivitas di luar. “Iya, kalau pas lagi hujan aja,” ucapnya. Meski dagangannya laku, Adi menyebut penghasilan dari menjual jas hujan sulit dipastikan. “Ya tergantung, tergantung lamanya. Kalau redanya lama barangnya ada yaa lumayan,” katanya sambil tertawa. “Kalau hujannya sebentar ya paling dapetnya berapa biji doang, ga jelas, ga nentu, ga bisa ditentuin,” ucapnya.



Berjualan di tengah hujan juga memiliki tantangan tersendiri. Adi mengaku kerap merasa kedinginan saat harus kehujanan sambil menawarkan dagangan. “Ya, kadang sih dingin sih. Yaa namanya kehujanan kan,” katanya. “Kadang disiapin obat tolak angin atau apa,” tambahnya. “Diminum dulu kadang sebelum jualan,” kata Adi sambil tertawa.

Adi berasal dari Jawa Tengah dan merantau ke Jakarta untuk mencari nafkah. Kini, ia tinggal bersama keluarganya di sekitar kawasan Jakarta Pusat. Bagi Adi, hujan justru menjadi penanda untuk kembali turun ke jalan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hari itu, stok jas hujan yang ia bawa memang tidak banyak. “Iya, dari pagi ini. Alhamdulillah sedikit sih, orang hujannya sebentar. Stoknya juga sedikit,” katanya. “Iya, saya ngabisin aja yang itu lah,” sambungnya.

Setelah hujan mereda, Adi berencana kembali membeli stok dan melanjutkan berjualan. “Mau beli dulu,” ujarnya. “Iya entar sambil nunggu hujan, soalnya lagi musim hujan nih,” ujarnya sambil bergegas. Di balik langkahnya yang menembus hujan CFD, Adi menyimpan harapan sederhana, ia ingin mengembangkan usahanya. “Mudah-mudahan ada perubahan yang positif sih begitu, penginnya sih gitu,” pungkasnya.

Menjelang hujan reda, Adi masih membawa sedikit sisa jas hujan di tangannya. Setelah itu, ia bersiap kembali ke pasar untuk membeli stok jas hujan, sebelum kembali berkeliling menawarkan dagangannya.

Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *