Strategi Hotel Berbintang di Makassar Menghadapi Kebijakan Work From Anywhere
Kebijakan work from anywhere (WFA) yang diberlakukan pasca-Idul Fitri 1447 H memberikan peluang baru bagi industri hotel berbintang di Makassar. Dalam situasi tekanan okupansi, sejumlah hotel seperti Aryaduta dan Rinra mengambil langkah strategis untuk menyesuaikan layanan mereka dengan kebutuhan pekerja yang tetap produktif meski tidak berada di kantor.
Penyesuaian Layanan untuk Menarik Pekerja
Hotel-hotel ini memperkuat akses internet, menyediakan ruang kerja nyaman, serta menawarkan paket kuliner ringan sebagai bagian dari strategi mereka. Misalnya, Aryaduta Makassar merealokasi akses Wi-Fi ke working space cafe, menambah kapasitas seating di lounge, dan menyediakan berbagai paket makanan ringan.
GM Aryaduta Hotel Erwin Arisandy menjelaskan bahwa pihaknya juga merevitalisasi ruang ibadah guna menampung lebih lama para pekerja kantoran. “Paket kopi Professor dan kuliner ringan padat sokko mandoti menjadi siasat baru dalam menghadapi krisis,” katanya.
Sementara itu, GM Rinra Hotel Andi Junaidi menyatakan bahwa pihaknya juga menambah paket camilan dan minuman ringan, serta menata ulang lounge dan resto. Ia menekankan bahwa tantangan utama adalah efisiensi anggaran korporasi dan penghematan biaya operasional sejak tahun lalu. Untuk mengatasinya, pihaknya memperkenalkan paket micro namun tetap memberikan layanan macro.
Peluang Pasar Melalui MICE
Pihak Rinra Hotel melihat potensi pasar melalui kota Makassar sebagai destinasi MICE (Meeting, Incentives, Conferences, and Exhibitions). “Pokoknya, yang penting bisa survive dulu lah,” ujarnya.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga menyatakan bahwa kebijakan WFA memiliki dua sisi bagi industri hospitality. Di satu sisi, kebijakan ini menjadi beban tambahan, namun di sisi lain, ia menjadi peluang. Menurutnya, hotel dan restoran tidak seperti perkantoran biasa yang bisa dikerjakan di mana saja. Operasional hotel memerlukan kehadiran fisik.
Belajar dari pengalaman masa pandemi, Anggiat menyebut layanan kebersihan kamar, aktivitas dapur, engineering, atau pengamanan masih sulit digantikan. Ia berharap pemerintah kembali membuka peluang stimulus, seperti relaksasi pajak dan regulasi lainnya.
Kebijakan WFA dan WFH yang Diperkenalkan Pemerintah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema kebijakan WfA dan work from home (WFH) bagi pegawai aparatur sipil negara (ASN), pekerja swasta, dan pemerintah daerah tahun ini. Skema ini sebagai respons terhadap tingginya harga minyak dunia akibat perang di Kawasan Timur Tengah.
“Terkait dengan kajian bahwa dengan tingginya harga minyak, maka perlu efisiensi daripada waktu kerja di mana akan dibuka fleksibilitas untuk work from home,” kata Airlangga usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Kebijakan ini merupakan implementasi instruksi Presiden Prabowo Subuanto. Menurut dia, kemungkinan penerapan kebijakan WFH ini akan dimulai selepas Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Manfaat libur cuti Lebaran digunakan untuk menerapkan WfA hingga Sabtu (28/3/2026) akhir pekan ini.
Awal Maret lalu, libur dan cuti Lebaran hanya ditetapkan hingga 25 Maret. Jika konsep kebijakannya sudah dimatangkan, pengumuman lanjutan akan disampaikan ke publik. “Pasca-Lebaran, tapi nanti kita akan tentukan kapan waktunya,” tuturnya.