Kapolda Riau Turun ke Dumai Pantau Penanganan Karhutla

Bayu Purnomo
5 Min Read

Kapolda Riau Turun Langsung ke Dumai untuk Perkuat Kolaborasi Penanganan Karhutla

Kapolda Riau turun langsung ke Kota Dumai pada Jumat (26/3/2026) untuk memastikan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berjalan secara optimal. Fokus utama peninjauan ini adalah Kecamatan Dumai Timur, yang menjadi wilayah terdampak paling parah.

Kunjungan Kapolda dilakukan setelah melihat tren penurunan jumlah titik api di lapangan. Ia bersama dengan Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung serta unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, dan relawan yang telah bekerja keras dalam pemadaman. Bahkan, Kapolda dan Rocky sempat turun langsung ke lokasi titik api dan ikut serta dalam proses pemadaman bersama tim gabungan.

Data Terkini tentang Titik Hotspot

Berdasarkan data terkini, wilayah Dumai masih memiliki 11 titik hotspot. Dari jumlah tersebut, 2 titik berada di Kecamatan Dumai Timur, sedangkan 9 titik lainnya berada di Medang Kampai. Semua titik tersebut memiliki kategori medium. Sementara itu, total luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 87,25 hektare.

Meski jumlah titik api sebelumnya mencapai puluhan, saat ini angkanya sudah mulai menurun secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa upaya penanganan yang dilakukan selama beberapa hari terakhir mulai menunjukkan hasil.

“Hari ini saya hadir langsung di lokasi di Kecamatan Dumai Timur. Saya didampingi oleh Pak Rocky dari Tumbuh Institute yang sejak beberapa hari terakhir terus bersama kami, mulai dari Rupat, Pelalawan, hingga hari ini di Dumai,” ujar Kapolda.

Kerja Sama Lintas Sektor sebagai Kunci Utama

Kapolda menyatakan bahwa capaian penurunan titik api tidak lepas dari kerja kolaboratif lintas sektor yang terus dijaga. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak bisa dicapai hanya oleh satu pihak, tetapi butuh peran aktif dari semua elemen masyarakat.

“Dari sebelumnya puluhan titik api, Alhamdulillah saat ini tinggal delapan titik yang terus kita tangani. Ini adalah hasil kerja bersama seluruh unsur, baik TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Damkar, Manggala Agni, MPA, relawan, hingga dukungan pihak swasta,” ujar Kapolda.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama yang tidak terputus serta kemampuan merespons cepat setiap kendala di lapangan. Menurutnya, tidak cukup hanya bekerja parsial, tetapi harus ada gotong royong dalam setiap langkah penanganan.

Persiapan Menghadapi Musim Kemarau

Menurut Kapolda, musim kemarau akan memasuki fase puncaknya, yang akan menjadi tantangan besar pada pertengahan tahun. Oleh karena itu, ia mengimbau agar kerja kolaboratif ini terus dipertahankan, terutama pada bulan Juni sampai Agustus.

“Ini bukan kerja satu pihak, ini kerja bersama,” tegas Kapolda. Kunjungan ini menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bertumpu pada aparat, tetapi melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan organisasi nirlaba.

Dengan kolaborasi yang diperkuat dan respons cepat di lapangan, diharapkan kebakaran dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi bencana asap yang lebih luas di Provinsi Riau.

Apresiasi atas Langkah Cepat Polda dan Tim Gabungan

Rocky Gerung, yang turut serta dalam pemantauan, memberikan apresiasi atas langkah cepat Polda Riau dan tim gabungan. Ia menilai bahwa inisiatif aparat untuk turun lebih awal dalam penanganan karhutla menjadi titik penting dalam memutus pola berulang kebakaran setiap tahun.

Ia menyebutkan bahwa seratus hari ke depan adalah fase ujung dari El Nino, yang akan membawa panas ekstra. “Kita tahu ini masalah yang berulang setiap tahun. Tapi saya melihat ada inisiatif yang baik ketika aparat turun lebih awal untuk memulai penanganan,” ujarnya.

Rocky menekankan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis, tetapi juga membutuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. “Kita bisa lakukan water bombing, kita bisa modifikasi cuaca, teknologi bisa membantu. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga hubungan dengan alam,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan karhutla pada akhirnya adalah refleksi dari hubungan manusia dengan lingkungan. “Alam punya hukumnya sendiri. Kita bisa padamkan api, tapi kalau relasi kita dengan alam bermasalah, maka kebakaran akan terus terjadi. Karena itu dibutuhkan keterlibatan semua pihak, dari negara, masyarakat, hingga akademisi, untuk memastikan kebakaran tidak meluas,” pungkasnya.


Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *