Antrean Padat Saat Arus Mudik di Gilimanuk, MTI Bali Kritik Sistem Tiket

Ratna Purnama
4 Min Read

Kemacetan Horor di Pelabuhan Gilimanuk: Kritik dari Masyarakat Transportasi Indonesia

Kemacetan yang terjadi di Pelabuhan Gilimanuk, Denpasar, menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk Istana Negara. Situasi ini tidak hanya mengganggu arus mudik, tetapi juga menimbulkan kekecewaan yang mendalam bagi ribuan pemudik.

Meskipun petugas di lapangan telah bekerja keras untuk memperlancar lalu lintas, situasi yang muncul justru semakin memperparah kekacauan. Hal ini menimbulkan kritik pedas dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali. Menurut Ketua MTI Wilayah Bali, I Made Rai Ridartha, sistem ticketing yang tidak terstruktur menjadi salah satu penyebab utama kekacauan tahun ini.

Sistem Ticketing yang Tidak Efektif

Rai menyatakan keprihatinan atas situasi ini dan menekankan perlunya pembelajaran serius bagi Bali maupun Pemerintah Indonesia secara keseluruhan. Ia menegaskan bahwa kegagalan ini bukan karena kurangnya persiapan personel di lapangan. “Para petugas yang ditugaskan untuk memperlancar lalu lintas Lebaran ini, baik arus mudik maupun balik, tentu sudah berusaha sekuat tenaga dengan menerapkan skema-skema yang sudah disiapkan,” ujar Rai.

Namun, hasil di lapangan justru berbanding terbalik dengan persiapan tersebut. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya melihat kemacetan yang terjadi. Pertanyaan muncul di benaknya mengenai efektivitas sistem transisi di pelabuhan dan tumpukan faktor penyebabnya.

Perubahan Sistem Pembelian Tiket yang Dianggap Mundur

Salah satu hal yang menjadi sorotan utama adalah perubahan sistem pembelian tiket. Rai mengkritik keras beralihnya metode pembayaran dari cashless (menggunakan kartu e-money) kembali ke sistem tiket pesanan online atau loket-loket fisik yang justru menjamur.

“Kenapa sekarang berubah dari pembayaran tunai kemudian diubah menjadi e-money dengan kartu, kemudian diubah lagi menjadi dengan sistem tiket pesan dengan online atau dengan tiket yang di loket-loket?” tanyanya.

Ia mencurigai adanya pembiaran situasi ini demi memunculkan lapangan pekerjaan baru, mengingat adanya selisih harga antara tiket online dengan tiket yang dibeli secara langsung (on-site) di kios-kios yang menyiapkan fasilitas tersebut. Baginya, ini adalah kemunduran teknologi yang fatal di tengah tuntutan kecepatan arus kendaraan.

Dampak pada Pemudik

Dampak dari karut-marutnya pengelolaan arus mudik ini sangat menyedihkan secara kemanusiaan. Rai menyoroti nasib para pemudik yang sudah berangkat jauh-jauh hari namun gagal merayakan Hari Raya Lebaran tepat waktu bersama keluarga di kampung halaman akibat tertahan belasan hingga puluhan jam di jalur mudik.

“Tentu ini menjadi persoalan bagi mereka yang sudah datang sejak awal, berangkat sejak awal tetapi tidak sampai di tempat tujuannya sesuai dengan rencana,” paparnya.

Situasi di lapangan pun menjadi tidak kondusif, kelelahan dan ketidakpastian memicu emosi massa, gangguan kesehatan pada pemudik, bahkan muncul laporan adanya korban jiwa akibat kelelahan ekstrem.

Permintaan Maaf dari Pemerintah

Berkaca dari kerugian masif yang diderita masyarakat, MTI Bali mendesak otoritas terkait untuk berjiwa besar. “Pemerintah Provinsi Bali maupun Pemerintah Indonesia dalam hal ini, khususnya juga nanti pada pihak-pihak yang terkait, dapat menyampaikan permohonan maaf atas situasi seperti ini,” kata dia.

“Bagaimanapun juga kita maklumi bahwa ini tidak direncanakan seperti itu, sudah diupayakan agar arus mudik tahun ini bisa lebih lancar, namun situasinya berbalik. Ini membuat banyak pihak merasa dirugikan sehingga muncul emosi, ada yang sakit, dan kabarnya juga ada yang meninggal,” pungkasnya.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *