Transaksi QRIS Ciayumajakuning Tembus Rp3,58 Triliun di Awal 2026

admin
3 Min Read



Cirebon — Transaksi pembayaran digital melalui QRIS di wilayah Ciayumajakuning menunjukkan peningkatan yang signifikan pada awal tahun 2026. Bank Indonesia mencatat bahwa selama bulan Januari hingga Februari 2026, nilai transaksi mencapai Rp3,58 triliun dengan volume sebesar 41,88 juta transaksi.

Wilayah Ciayumajakuning mencakup Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan bahwa peningkatan ini mencerminkan percepatan adopsi sistem pembayaran nontunai di masyarakat.

“Tren ini menunjukkan bahwa penggunaan QRIS semakin luas dan mulai menjadi pilihan utama dalam bertransaksi, baik oleh masyarakat maupun pelaku usaha,” ujar Rengganis, Senin (6/4/2026).

Berdasarkan catatan, pertumbuhan transaksi tidak hanya terlihat dari sisi volume, tetapi juga nominal yang terus meningkat setiap bulan. Pada awal periode, nominal transaksi berada di kisaran Rp515 miliar per bulan, lalu melonjak hingga Rp1,77 triliun pada Januari dan mencapai Rp1,80 triliun pada Februari 2026.

Kenaikan tersebut turut diikuti fluktuasi pertumbuhan tahunan (year on year/YoY), namun tetap berada dalam tren positif. Hal ini menandakan aktivitas ekonomi digital di wilayah Ciayumajakuning semakin aktif, meskipun dipengaruhi pola musiman konsumsi masyarakat.

Secara spasial, Kota Cirebon menjadi kontributor terbesar dalam penggunaan QRIS di kawasan tersebut. Pangsa transaksi dari kota ini mencapai 54,14% dari total volume transaksi. Angka ini jauh melampaui daerah lain seperti Kabupaten Indramayu sebesar 18,52%, Kabupaten Majalengka 9,79%, Kabupaten Kuningan 9,44%, dan Kabupaten Cirebon 7,11%.

Menurut Rengganis, dominasi Kota Cirebon tidak terlepas dari perannya sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan di wilayah Ciayumajakuning. Tingginya konsentrasi pelaku usaha, infrastruktur digital yang lebih siap, serta tingkat literasi keuangan masyarakat menjadi faktor utama pendorong tingginya adopsi QRIS.

“Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional, Kota Cirebon memiliki ekosistem digital yang lebih matang. Hal ini mempercepat penetrasi QRIS dibandingkan daerah lainnya,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat kesenjangan adopsi antara wilayah perkotaan dan kabupaten. Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus mendorong perluasan penggunaan QRIS, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah yang kontribusinya masih rendah.

Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi, peningkatan literasi keuangan digital, serta perluasan akseptasi merchant QRIS. Dengan langkah tersebut, diharapkan pemerataan transaksi digital dapat tercapai dan mendorong inklusi keuangan di seluruh wilayah Ciayumajakuning.

Selain itu, peningkatan nilai transaksi juga mengindikasikan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi. QRIS tidak lagi hanya digunakan untuk pembayaran bernilai kecil, tetapi mulai dimanfaatkan untuk transaksi dengan nominal lebih besar.

“Ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. QRIS kini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan harian, tetapi juga untuk transaksi yang lebih luas,” ujar Rengganis.

Ke depan, Bank Indonesia Cirebon akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat digitalisasi ekonomi, termasuk mendorong integrasi QRIS di berbagai sektor layanan publik dan perdagangan.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *