Kenaikan Harga Plastik Mengganggu Pelaku Usaha di Jakarta
Peningkatan harga plastik yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir mulai menimbulkan keluhan dari para pedagang di Jakarta. Harga yang melonjak hingga dua kali lipat membuat pelaku usaha kecil mengalami kesulitan dalam menjaga daya beli konsumen.
Salah satu pedagang plastik di kawasan Palmerah, Dewi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini terjadi secara bertahap sejak akhir Maret 2026. Ia menyebutkan bahwa produk seperti gelas plastik mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan. “Gelas plastik biasanya Rp15 ribu, kemarin sempat jual Rp17 ribu, Rp18 ribu, sekarang Rp20 ribu,” ujar Dewi saat ditemui di lapaknya, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga ini memengaruhi daya beli pelanggan karena harga jual juga ikut naik. “Kemarin-kemarin sih masih banyak karena toko lain banyak yang tutup. Kalau untuk sepekan ini baru mulai berasa dampaknya pembeli agak kurang,” ujarnya.
Selain itu, Dewi mengaku tidak berani menyetok dagangannya dalam jumlah besar karena harga yang terus berubah setiap hari. “Karena tiap hari harganya berubah terus. Enggak berani kitanya nyetok banyak,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Kusni (46), pedagang nasi pecel di Jakarta Barat. Ia mengaku kesulitan menekan biaya operasional karena harga plastik untuk kemasan ikut naik drastis. “Naik sudah dua kali lipat. Pecel kan sambalnya nggak bisa dijadiin satu kayak nasi warteg, jadi harus dipisah,” kata Kusni.
Meski begitu, Kusni mengaku belum berani menaikkan harga jual makanannya karena khawatir kehilangan pelanggan. “Kalau dinaikin, pelanggan lari. Bisa kabur ke warung lain,” ujarnya.
Tanggapan Pemprov DKI
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, membenarkan adanya kenaikan harga plastik di wilayah Jakarta. Ia menjelaskan, kenaikan tersebut terjadi sejak akhir Maret 2026 dan dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Kenaikan harga plastik ini terjadi sejak akhir Maret 2026 bersamaan dengan konflik geopolitik di Iran dan berlanjut hingga awal April,” katanya.
Ratu menyebut, struktur industri plastik global masih sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah sebagai pemasok bahan baku petrokimia. Selain itu, gangguan distribusi seperti penutupan jalur strategis turut memengaruhi rantai pasok global.
“Dari kawasan tersebut diproduksi berbagai resin seperti Polyethylene (PE), Polypropylene (PP), PET, dan Polystyrene (PS) yang menjadi bahan utama plastik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga plastik di Jakarta saat ini berada di kisaran 30 hingga 40 persen, dengan wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara mengalami kenaikan lebih tinggi. Menurutnya, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik.
“Produksi domestik baru memenuhi sekitar 40 persen, sisanya 60 persen masih impor, terutama dari Timur Tengah dan beberapa negara Asia,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjut Ratu, akan terus memantau harga dan berkoordinasi dengan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas pasokan serta mencegah lonjakan harga yang tidak wajar.