Ribuan Pohon Ditanam di Banten, Reboisasi Menguat Saat Banjir Sumatera

Eka Syaputra
4 Min Read

Pentingnya Reboisasi dalam Menjaga Kestabilan Ekosistem

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa wilayah Sumatra dalam beberapa hari terakhir kembali mengingatkan masyarakat akan rentannya kondisi ekologis Indonesia. Salah satu penyebab utamanya adalah penurunan tutupan hutan, yang berdampak pada meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Dalam situasi ini, gerakan menanam pohon kembali mendapat perhatian sebagai salah satu upaya restorasi lingkungan yang penting.

Dalam momentum Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Nasional, kolaborasi antara Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat (MPW PP) Muhammadiyah dan PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) dilakukan untuk melakukan reboisasi. Sebanyak 1.113 bibit pohon ditanam di lahan wakaf Muhammadiyah seluas 10 hektare di Desa Karya Jaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, akhir pekan lalu.

Gerakan ini tidak hanya fokus pada penanaman bibit, tetapi juga menjadi bagian dari kampanye yang lebih luas untuk memulihkan ekosistem, mengurangi risiko banjir, serta memperkuat peran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Kerusakan hutan, erosi tanah, dan alih fungsi lahan sering kali memperparah banjir di berbagai wilayah, termasuk Banjir Sumatra Utara. Pohon memiliki peran penting dalam menyerap air, menahan laju limpasan permukaan, serta menjaga struktur tanah agar tidak mudah longsor.

Data Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 31,89 persen pada 2030 melalui upaya mandiri, dan 43,20 persen dengan dukungan internasional. Rehabilitasi hutan, termasuk penanaman pohon, menjadi salah satu strategi utama dalam mencapai target tersebut.

Dalam konteks ini, setiap inisiatif reboisasi, baik dari masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, maupun sektor swasta, dianggap berkontribusi terhadap pemulihan ekologi dan ketahanan lingkungan jangka panjang.

Penanaman pohon di Lebak dilakukan dengan melibatkan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, para tokoh masyarakat, serta 200 guru dan murid Sekolah Rakyat dan Pelajar Muhammadiyah Banten. Pohon yang ditanam terdiri dari varietas yang dapat membantu menjaga tanah dan meningkatkan keragaman hayati, sehingga kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai ruang hijau baru sekaligus zona resapan.

Prof. Hilman Latief, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, menilai bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Ia menyatakan bahwa ia percaya bahwa pelestarian alam perlu dilakukan secara kolektif oleh berbagai pihak. Kerja sama ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran ekologis, terutama di tingkat masyarakat akar rumput.

Selain aspek lingkungan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi pelajar untuk memahami urgensi menjaga ekosistem sejak dini. Partisipasi generasi muda dalam aksi menanam pohon disebut penting untuk menumbuhkan kesadaran ekologis jangka panjang. Mereka tidak hanya dilibatkan sebagai peserta, tetapi juga diajak memahami fungsi pohon bagi kehidupan sehari-hari, mulai dari penyerapan karbon, penyediaan oksigen, hingga menjaga kualitas tanah dan air.

Mayang Ekaputri, Chief Strategy Officer Prudential Syariah, menyebut bahwa upaya pelestarian lingkungan perlu melibatkan semua pihak agar dapat memberikan dampak berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa mereka bermitra dengan banyak pihak untuk mendukung upaya pelestarian lingkungan. Kolaborasi ini merupakan langkah bersama untuk menjaga alam dan masa depan generasi mendatang.

Dalam kegiatan ini, masyarakat sekitar juga menerima pemahaman tentang cara merawat bibit pohon agar tumbuh optimal dan dapat memberi manfaat jangka panjang bagi kawasan tersebut. Banten sendiri, termasuk Lebak, merupakan wilayah yang rawan longsor dan banjir saat musim hujan. Reboisasi di area ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ekologis daerah, sekaligus menjadi model pengelolaan lahan wakaf untuk tujuan konservasi.

Beberapa ahli lingkungan menyebut bahwa upaya menanam pohon harus disertai pemantauan pertumbuhan, perlindungan dari kerusakan, dan kesinambungan perawatan agar manfaatnya terasa dalam jangka panjang. Gerakan ini juga menegaskan pentingnya peran komunitas keagamaan dan organisasi masyarakat sipil dalam menjaga lingkungan hidup, terutama saat Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *