3 Fakta Cuaca Ekstrem Jawa Timur: BPBD Siaga, Perintah Gubernur Khofifah

Zaiful Aryanto
4 Min Read

Peringatan Cuaca Ekstrem di Jawa Timur

BMKG Juanda mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan terjadi menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada Januari hingga Februari 2026. Pada periode tersebut, intensitas hujan tinggi disertai angin kencang serta potensi bencana hidrometeorologi diperkirakan lebih sering terjadi.

Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menegaskan bahwa seluruh sektor transportasi perlu mencermati ancaman cuaca yang dapat berubah drastis. Ia menyebut bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur, mulai dari Tapal Kuda, Mataraman, hingga kawasan pesisir utara, berpotensi mengalami lonjakan curah hujan. Pembentukan awan Cumulonimbus dalam skala luas menjadi salah satu pemicu utama munculnya cuaca ekstrem. Kondisi ini bisa semakin parah apabila terjadi gangguan atmosfer berskala global.

Ia juga menjelaskan bahwa tanah yang telah menyerap air dalam jumlah besar membuat risiko longsor dan banjir bandang meningkat signifikan. Oleh karena itu, daerah-daerah dataran tinggi dengan kemiringan lereng tinggi seperti Malang Raya, Kota Batu, Mojokerto (terutama kawasan Pacet), Jombang (Wonosalam), dan Dataran tinggi Nganjuk membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Daerah Berpotensi Bencana

BMKG Juanda merinci beberapa wilayah di Jawa Timur yang dikategorikan rawan bencana hidrometeorologi selama periode Nataru. Daerah tersebut meliputi:

  • Malang Raya
  • Kota Batu
  • Mojokerto (terutama kawasan Pacet)
  • Jombang (Wonosalam)
  • Dataran tinggi Nganjuk

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan persiapan untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Sejak awal bulan Desember 2025, peningkatan intensitas hujan sudah terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur. Beberapa daerah seperti Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, Kota Malang, Gresik, dan Lamongan sudah mengalami banjir dampak dari tingginya intensitas curah hujan.

Pemprov Jatim telah membuat kajian peta risiko bencana yang disahkan oleh BNPB. Peta tersebut sudah disebar ke kabupaten kota agar semua membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan bencana. Daerah yang rawan bencana banjir antara lain Lamongan, Gresik, Mojokerto, Sidoarjo, Jombang, dan Pasuruan. Selain itu, potensi banjir juga terjadi di kawasan yang memang daerah resapan airnya kurang dan kondisi sungai tersumbat sampah.

BPBD Jatim juga aktif turun ke sejumlah daerah untuk melakukan pembersihan daerah aliran sungai baik itu sampah maupun enceng gondok. Dinas PU SDA juga aktif melakukan upaya perbaikan tanggul. Menjaga kebersihan sungai menjadi garda utama guna mencegah potensi banjir akibat luapan air sungai.

Ancaman Tanah Longsor dan Banjir Bandang

Selain banjir, ancaman bencana tanah longsor juga mengintai Jawa Timur. Terlebih karena Jatim memiliki banyak kawasan pegubungan dan perbukitan, seperti Gunung Semeru, Gunung Arjuno, Gunung Welirang, dan Gunung Wilis. Daerah yang memiliki risiko tanah longsor antara lain Probolinggo, Lumajang, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Batu, dan Malang.

Gatot menjelaskan potensi tanah longsor di kawasan perbukitan dan pegunungan sangat bergantung pada banyaknya pohon. Semakin kawasan hutan terjaga, maka potensi tanah longsor bisa semakin dikurangi. Namun, saat ini banyak kawasan hutan di pegunungan dan perbukitan yang alih fungsi menjadi perkebunan sayuran, sehingga potensi bencana tanah longsor meningkat.

Jawa Timur juga tak lepas dari potensi bencana banjir bandang. Secara peta risiko bencana banjir bandang, yang berpotensi terjadi di Situbondo, Malang, Pasuruan, dan kawasan lereng gunung.

Perintah Gubernur Khofifah

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memerintahkan jajarannya untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan guna mengantisipasi cuaca ekstrem di Jawa Timur. Operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sejak akhir pekan lalu untuk mengurangi terjadinya potensi hujan intensitas tinggi.

Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk mengurangi potensi bencana hidrometeorologi akibat hujan intensitas tinggi yang diperkirakan dapat memicu banjir di beberapa wilayah. Operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga akhir tahun 2025, mengingat puncak musim hujan.


Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *