Gubernur DKI Jakarta Mengungkap Penyebab Kematian Sopir Truk Sampah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan pernyataan terkait kematian sopir truk sampah dari Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan yang meninggal diduga akibat kelelahan setelah menjalankan tugas membuang muatan di TPST Bantargebang, Bekasi.
- Gubernur DKI Jakarta Mengungkap Penyebab Kematian Sopir Truk Sampah
- Pemprov DKI Berikan Santunan untuk Keluarga Korban
- Kronologi Kematian Sopir Truk Sampah
- Diduga Kelelahan Usai Antre Delapan Jam
- Korban Sempat Bermalam di SPBU
- Korban Meninggal di Rumah Sakit
- Jeritan Sopir Truk Sampah Harus Antre Berjam-jam
Pramono menyampaikan bahwa korban bernama Wahyudi (51) memiliki riwayat penyakit jantung. Oleh karena itu, kematian tersebut bukan hanya disebabkan oleh kelelahan, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan bawaan yang sudah ia alami sebelumnya.
Pernyataan ini diberikan Pramono setelah menerima laporan langsung dari Wali Kota Jakarta Selatan, M Anwar. Ia mengatakan, “Memang yang bersangkutan juga terindikasi ada penyakit jantung.”
Pemprov DKI Berikan Santunan untuk Keluarga Korban
Karena insiden terjadi saat Wahyudi sedang bertugas, Pramono memastikan bahwa hak-hak keluarga akan tetap dipenuhi. Ia menyebut bahwa santunan telah diberikan baik oleh Pemprov DKI melalui Dinas Lingkungan Hidup maupun BPJS Ketenagakerjaan.
“Saya sudah meminta, karena dia sedang bekerja kemudian meninggal dunia, untuk diberikan santunan yang maksimal,” ujarnya.
“Dan kemarin sudah ditangani, diberikan santunan maksimal, baik oleh dinas terkait dan juga oleh BPJS Ketenagakerjaan,” tambahnya.
Kronologi Kematian Sopir Truk Sampah
Seorang sopir truk sampah dari Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan meninggal dunia usai membuang muatan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi. Korban, Wahyudi (51), diduga meninggal akibat kelelahan setelah antre selama delapan jam di TPST Bantargebang dan memiliki riwayat penyakit jantung.
Rekan korban sesama sopir truk sampah Dinas LH DKI Jakarta berinisial E mengatakan kejadian bermula saat Wahyudi bertugas membuang sampah pada Kamis (4/12/2025).
“Pada pukul 10.15 WIB almarhum berangkat membuang sampah ke UPST Bantargebang dari lokasi tugas di Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan,” kata E, Sabtu (6/12/2025).
Diduga Kelelahan Usai Antre Delapan Jam
Wahyudi tiba di TPST Bantargebang sekira pukul 11.24 WIB, namun dia bersama sopir truk sampah lain harus antre untuk dapat membuang muatan. Wahyudi baru selesai membuang muatan sekira pukul 19.08 WIB, atau setelah menunggu delapan jam lamanya.
Volume sampah yang tinggi dan keterbatasan kapasitas TPST Bantargebang menjadi faktor utama membuat para sopir truk harus antre. Setelah membuang muatan, Wahyudi menuju pom bensin 31 di Jl. Narogong Bekasi Pangkalan 4 untuk mengisi BBM.
Korban Sempat Bermalam di SPBU
E menuturkan setelah membuang muatan di TPST Bantargebang, Wahyudi tidak langsung pulang ke rumahnya di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Ia memilih bermalam di SPBU tempatnya mengisi bahan bakar karena ingin memaksimalkan waktu istirahatnya.
“Menurut hemat almarhum jika dia pulang akan kurang maksimal istirahatnya. Pada pukul 03.00 WIB korban kejang-kejang, dan sulit bernafas. Oleh rekan-rekan dibawa ke RS Karya Medika,” tuturnya.
Korban Meninggal di Rumah Sakit
Setelah mendapat penanganan medis di rumah sakit, Wahyudi meninggal dunia. Jasadnya kemudian dimakamkan di TPU Bambu Apus, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Waktu antre membuang sampah hingga delapan jam di TPST Bantargebang ini tidak hanya dirasakan Wahyudi, tapi juga seluruh sopir truk sampah Dinas LH DKI. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun.
Jeritan Sopir Truk Sampah Harus Antre Berjam-jam
E mengatakan sejak tahun 2011 silam rata-rata para sopir truk angkut Dinas LH DKI Jakarta harus antre di atas lima jam untuk membuang muatan. Waktu antre ini semakin parah seiring berjalannya waktu.
Setelah antre di TPST Bantargebang, para sopir truk Dinas LH DKI Jakarta masih harus menempuh perjalanan ke masing-masing pol, dan pada subuh esok harinya mereka kembali bertugas. Akumulasi kelelahan dan beban psikologis ini memperburuk kondisi kesehatan Wahyudi.
“Dulu (di bawah 2011 waktu antre di Bantargebang) yang normal itu dua sampai tiga jam. Sekarang normal delapan jam, kalau lagi hujan atau kendala lain itu bisa 10, bahkan 12 jam,” lanjut E.