Kunjungi Pulau Penyengat

Amanda Almeirah
8 Min Read



Angin pagi yang lembut bertiup dari Tanjung Pinang saat perahu motor yang kami tumpangi mulai menjauh dari dermaga. Permukaan laut bergerak dengan gelombang kecil, berkilau keemasan, memantulkan sinar matahari yang baru terbit. Dari kejauhan, Pulau Penyengat tampak seperti sebuah titik hijau yang perlahan muncul, kecil namun menyimpan sejarah yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Pada hari itu, kami merasa seolah sedang menuju sebuah buku lama yang halaman-halaman masih hidup. Perjalanan tidak terlalu lama, hanya sekitar satu jam, tetapi suara mesin perahu seperti irama pembuka dari kisah panjang yang menanti. Saat perahu merapat, aroma asin laut bercampur wangi kayu dermaga menyambut, hangat, sederhana, dan penuh nostalgia.

Begitu kaki menjejak tanah pulau, suasana langsung berubah: tidak ada hiruk pikuk kota, hanya rumah-rumah panggung berwarna pastel dan senyum penduduk yang seakan mengenal setiap tamu sejak lama.

Masjid Raya Sultan Riau: Jantung Sejarah yang Tetap Bernapas

Langkah kami mengarah ke ikon utama pulau: Masjid Raya Sultan Riau, bangunan kuning-hijau yang berdiri anggun di bawah langit biru. Dari kejauhan sudah menarik, tetapi dari dekat, detailnya jauh lebih memukau. Dinding-dindingnya diyakini menggunakan campuran putih telur, pasir, dan kapur, formula tradisional yang telah mengokohkannya sejak abad ke-18.

Di dalam masjid, keheningan terasa bukan karena kosong, tetapi karena penuh. Koleksi Al-Quran tulisan tangan, mimbar tua, dan ornamen-ornamen klasik menghadirkan aura masa lalu. Tiang-tiang kayunya seakan berbisik tentang masa ketika ulama dan bangsawan berkumpul membahas ilmu, sastra, dan pemerintahan. Di sinilah atmosfer intelektual Kesultanan Riau-Lingga pernah mencapai puncaknya, tempat di mana jejak Raja Ali Haji masih terasa dalam keheningan.

Jejak Para Pemuka Negeri: Kompleks Makam Sejarah

Keluar dari masjid, jalan kecil membawa kami ke kompleks makam raja-raja dan tokoh besar Kesultanan Riau-Lingga. Pepohonan rindang menaungi setiap nisan, menciptakan semacam lorong waktu yang membuat kami berjalan perlahan, dengan rasa hormat yang tumbuh dari setiap langkah.

Makam Raja Ali Haji adalah persinggahan paling menggetarkan. Di depan nisan sederhana itu, saya teringat betapa besarnya peran beliau sebagai pujangga dan penjaga akar Bahasa Melayu, bahasa yang kelak menjadi fondasi Bahasa Indonesia modern.

Tidak jauh dari situ, terdapat makam Engku Puteri Raja Hamidah, sosok bangsawan yang sangat dihormati dalam sejarah Melayu; perempuan kuat yang menyimpan cap mohor kerajaan, simbol legitimasi kekuasaan.

Ada pula makam Raja Ahmad dan para keluarga kerajaan, termasuk Raja Ahmad Thabib, tokoh pengobatan tradisional Melayu. Setiap nisan seperti tingkap yang terbuka menuju kisah-kisah lama yang pernah berjaya.

Balai Adat Melayu & Balai Maklumat: Pusat Ingatan Kolektif

Menyusuri jalan setapak, kami tiba di Balai Adat Melayu dan Balai Maklumat Inderasakti, dua bangunan yang menjadi gudang warisan budaya dan intelektual. Di dalamnya tersimpan naskah kuno, arsip hukum adat, serta dokumen-dokumen pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Ruangan-ruangan ini seolah menyimpan denyut masa lalu yang belum padam.

Dalam diam, saya membayangkan bagaimana para pembesar kerajaan duduk, bersembang, bermusyawarah dan menuliskan keputusan yang kelak menjadi rujukan hukum dan adat Melayu. Tempat ini bukan sekadar balai; ia adalah ruang ingatan sebuah bangsa.

Kompleks Istana & Kantor Lama: Bayang-bayang Kekuasaan

Tak jauh dari sana, sisa-sisa Istana Kantor Lama menyambut dengan keheningan yang elegan. Bangunan yang sudah tidak utuh ini justru memancarkan karakter kuat seorang saksi sejarah. Di sinilah pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga bekerja, mencatat masa-masa kejayaannya, hingga akhirnya memasuki babak akhir.

Batu-batu yang tersisa seolah menyimpan gema percakapan pejabat, administrasi kerajaan, dan lalu-lalang prajurit masa lampau.

Benteng Pertahanan Bukit Kursi : Mata yang Mengawasi Laut

Perjalanan kami kemudian menanjak menuju Bukit Kursi, sebuah titik kecil yang menyuguhkan panorama pulau dari ketinggian. Sisa-sisa meriam dan struktur benteng menjadi bukti bahwa Pulau Penyengat bukan hanya pusat budaya, tetapi juga pusat pertahanan strategis.

Dari sini laut terlihat tenang, tetapi dahulu, wilayah ini adalah jalur penting yang harus diawasi untuk menjaga keamanan kerajaan.

Semilir angin yang menyapu wajah terasa membawa cerita, tentang penjaga benteng, pertempuran yang mungkin pernah terjadi, dan malam-malam ketika meriam ini pernah siap ditembakkan.

Rumah Tabib & Jejak Pengobatan Melayu

Saat menuruni bukit, kami melewati Gedung Tabib, bangunan tua yang pernah menjadi rumah dan tempat praktik tabib Melayu. Meski kini sebagian lapuk, aura sejarahnya tetap terasa kuat. Tempat ini adalah simbol bagaimana ilmu pengobatan tradisional Melayu pernah berkembang, memadukan pengetahuan herba, doa, dan kearifan lokal.

Makam Raja Fisabilillah & Daeng Celak: Sosok Pejuang yang Dihormati

Di bagian lain pulau, kami berhenti di makam Raja Haji Fisabilillah dan Daeng Celak, dua figur besar dalam sejarah Melayu dan perjuangan melawan penjajah. Batu nisannya sederhana, tetapi energi perjuangan yang mereka tinggalkan tetap terasa menggetarkan.

Pulau Kecil, Tetapi Sebuah Dunia

Menjelang siang, kami naik ke sebuah titik yang sedikit lebih tinggi untuk memandang pulau secara keseluruhan. Atap rumah panggung, kubah masjid, garis pantai melengkung, dan laut tenang, semuanya berpadu menjadi harmoni yang tak mudah dilupakan. Anak-anak berlari di lorong-lorong sempit, seorang bapak tua memperbaiki jala di beranda rumahnya, dan pulau ini seakan mengajarkan: sejarah tidak selalu harus monumental; kadang ia hidup dalam keseharian.

Ke Pulau Penyengat naik perahu,

Angin sepoi membawa nikmat;

Jika ingin mengenal Melayu,

Bertandanglah tuan bersama kerabat.

Masjid kuning megah terawat,

Gurindam lama warisan lampau;

Jejak sejarah Pulau Penyengat,

Bunda Tanah Melayu di Kepulauan Riau.

Singgah ke Karimun: Masjid Raja Abdul Ghani

Perjalanan kami belum berakhir. Sempat kami menyeberang ke Kabupaten Karimun untuk mengunjungi Masjid Raja Abdul Ghani, masjid tertua di Karimun. Dibangun oleh Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisabilillah, masjid ini memancarkan wibawa yang berbeda, lebih sederhana, namun sarat makna di bibir laut.

Di sana kami bertemu Raja Kamarudin, zuriat bangsawan sekaligus tokoh adat Karimun. Dengan tutur lembut, ia bercerita tentang kesinambungan tradisi, peranan moyang, dan bagaimana masjid itu menjadi pusat kehidupan masyarakat. Percakapan singkat itu menegaskan bahwa warisan Melayu bukan saja tentang bangunan, tetapi tentang manusia yang terus merawatnya.

Pulang dengan Hati yang Lebih Penuh

Ketika perahu menjemput untuk pulang, saya masih membayangkan. Cahaya matahari memantul di dinding masjid kuning-hijau yang masih tampak jelas, seolah melambaikan perpisahan. Ada rasa enggan meninggalkan pulau yang kecil itu. Pulau yang bercerita dengan caranya sendiri.

Bertandang ke Pulau Penyengat bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin: menyusuri jejak sejarah, merasakan denyut kebudayaan, dan kembali menyadari bahwa akar jati diri bangsa tidak hanya tertulis di buku pelajaran. Ia hidup di tempat-tempat seperti Penyengat, pulau sederhana yang penuh makna, dan akan terus bercerita kepada siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *