5 Kritik Sosial Menarik di Drakor Netflix The Art of Sarah

Ratna Purnama
5 Min Read

Kritik Sosial yang Tersembunyi dalam Drakor The Art of Sarah

The Art of Sarah, drakor thriller orisinal Netflix, langsung mencuri perhatian sejak pertama kali dirilis. Kisahnya dimulai dari penemuan jasad yang diduga sebagai Sarah Kim (Shin Hae Sun). Detektif Park Mu Gyeong (Lee Joon Hyuk) yang menyelidiki kasus ini justru menemukan fakta mengejutkan mengenai terduga korban. Dengan alur penuh plot twist yang sulit ditebak, drakor ini tidak hanya seru tetapi juga menyentuh berbagai kritik sosial yang relateable dengan kehidupan nyata.

Berikut adalah lima kritik sosial yang disinggung dalam drakor The Art of Sarah:

1. Diskriminasi Berdasarkan Latar Belakang dan Status Sosial



Diskriminasi berdasarkan status sosial cukup disinggung dalam drakor The Art of Sarah. Misalnya, pada kisah Mok Ga Hui yang bekerja sebagai staf di butik barang mewah di mall elit. Pekerja di sana dilarang pergi ke toilet yang sama dengan pengunjung sehingga sering menahan untuk pergi karena letak kamar mandi pegawai jauh. Perbedaan perlakuan juga tampak dari adegan Park Mu Gyeong yang dilarang masuk ke ruang konferensi pengusaha meski menunjukkan ID polisi. Namun, juniornya disambut dan diperbolehkan masuk karena merupakan anak dari konglomerat dan pebisnis ternama.

2. Mark Up Harga Produk Jauh Lebih Tinggi dari Cost Produksi



Kritik sosial lain berkaitan dengan mark up harga yang dilakukan oleh pengusaha. Sarah Kim melabeli tas Boudoir dengan harga puluhan hingga ratusan juta padahal biaya produksinya jauh lebih rendah. Hal ini yang menjadi salah satu pemicu Kim Mi Jeong (Lee E Dam) untuk merebut identitasnya sebab gadis-gadis itu yang membuat tas Boudoir. Berkaitan dengan harga fantastis ini, Sarah Kim beralasan bahwa tas Boudoir adalah produk mewah dengan memanfaatkan taktik marketing curang. Ia berbohong asal merek tas ini dan sengaja membatasi pembelian hanya untuk kelas atas sehingga tercipta kelangkaan yang mendorong rasa penasaran serta kompetisi orang-orang untuk membelinya.

3. Celah Hukum Terkait Label Impor dan Pelanggaran Hak Merek



Untuk membuat kesan Boudour adalah tas mewah, Sarah Kim mengakali celah sistem dan aturan agar produk ini mendapat sertifikat impor. Meski tas dan pegangannya sepenuhnya dibuat di Korea Selatan, ia mengirimnya terlebih dahulu ke Inggris. Kemudian, pihak di sana akan menyatukan kedua bagian ini menjadi satu tas utuh. Dengan demikian, Boudoir diakui sebagai produk impor.

4. Kesulitan Menjadi Kaya Jika Tidak Terlahir Kaya



Salah satu hal yang disoroti dalam drakor ini adalah ketimpangan ekonomi. Sebelum jadi Sarah Kim, Mok Ga Hui berusaha mengubah perekonomiannya dengan bekerja keras. Namun, berbagai kemalangan justru datang dan membuat hidupnya semakin sulit. Ia baru bisa merasakan kekayaan dan hidup nyaman yang stabil saat menikah kontrak dengan lelaki kaya. Ini menunjukkan kerja keras saja tak selalu membuat orang jadi kaya. Mengingat ada beragam batasan akibat situasi ekonomi, orang kaya lebih mungkin tetap kaya daripada orang miskin yang menjadi kaya meski mereka bekerja dengan tekun dan jujur.

5. Ilusi Barang Mewah



Ilusi barang mewah menjadi kritik sosial yang cukup disoroti di The Art of Sarah. Tas mewah dijadikan sebagai simbol status, pencitraan, dan alat untuk mendapatkan validasi. Hal ini yang menjadi alasan Boudoir begitu dicari setelah Sarah Kim memasarkannya sebagai tas yang hanya dipakai anggota keluarga kerajaan, bangsawan, dan kelas atas di Inggris. Selain itu, produk branded kerap dipandang memiliki kualitas yang terjamin dan tidak kaleng-kaleng. Namun, ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas sebuah produk. Karena itu, bukan berarti barang mahal dari merek ternama punya kualitas yang baik. Ilusi ini tampak dari tas Boudoir yang dianggap berkelas padahal aslinya palsu. Meski bahannya dari kulit asli, hiasannya yang serupa kristal aslinya cuma produk murah.

The Art of Sarah tidak hanya menyajikan kisah penuh teka-tekin mengenai sosok Sarah Kim. Drakor ini juga menyoroti berbagai kritik sosial yang juga cukup relevan di dunia nyata. Khususnya, mengenai ketimpangan sosial ekonomi antara si kaya dan orang miskin.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *