- Perubahan Perilaku Konsumen dan Dampaknya pada Usaha Offline
- Konsumen Beralih ke Marketplace
- Dampak Langsung ke Usaha Offline: Pengunjung Menurun, Penjualan Ikut Turun
- Mengapa Toko Offline Sulit Bersaing?
- Masalah Lain: Tidak Semua Pelaku Usaha Siap Menghadapi Digitalisasi
- Usaha Offline Tetap Dapat Bertahan, Asal Mau Beradaptasi
- Apakah Marketplace Membunuh Usaha Offline?
Perubahan Perilaku Konsumen dan Dampaknya pada Usaha Offline
Dulu, saat mengunjungi pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan, hal pertama yang terlihat adalah padatnya jumlah pengunjung serta tingginya antusiasme mereka dalam berbelanja. Terlebih saat mendekati hari-hari besar, seperti Lebaran bagi umat Islam, dimana masyarakat muslim biasanya memadati toko-toko offline untuk “berburu” pakaian baru. Namun, kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan situasi yang terjadi saat ini, dimana toko dan kios yang dulunya ramai dipadati pengunjung kini justru tampak sepi.
Di sisi lain, aktivitas Live Shopping di TikTok Shop dan Shopee mampu menarik puluhan hingga ribuan penonton yang berpotensi menjadi pembeli. Perbedaan kedua kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: apakah perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja hanyalah tren sementara, ataukah merupakan indikasi perubahan signifikan dalam perilaku konsumen?
Konsumen Beralih ke Marketplace
Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia diproyeksikan akan mendekati GMV US$100 miliar pada 2025. E-commerce merupakan sektor yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ini. Laporan tersebut juga menyoroti terkait pesatnya perkembangan video commerce. Live shopping kini bukan hanya sekadar hiburan, namun juga menjadi salah satu cara masyarakat dalam bertransaksi.
Tidak mengherankan jika konsumen kini semakin terbiasa berbelanja secara online melalui ponsel. Selain cepat, mudah, juga jauh lebih efisien karena dapat dilakukan dari rumah tanpa harus mengunjungi toko secara langsung.
Dampak Langsung ke Usaha Offline: Pengunjung Menurun, Penjualan Ikut Turun
Perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja ini tentunya membawa dampak langsung terhadap toko offline. Dalam laporan yang dimuat Pakar Online, sejumlah pedagang pakaian di Pasar Muka, Kabupaten Cianjur, mengeluhkan kondisi toko mereka yang kian sepi pengunjung. Pakar Online mewawancarai Riska M., salah satu pedagang pakaian yang masih bertahan hingga kini. Ia mengaku mengalami penurunan omzet yang cukup drastis. Jika dulu ia bisa mendapatkan omzet jutaan hanya dalam waktu satu hari, sekarang untuk mendapatkan satu pembeli saja dirasa sangat sulit. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang akhirnya terpaksa menutup toko karena pemasukan tidak lagi mampu menutupi biaya operasional.
Mengapa Toko Offline Sulit Bersaing?
Pelaku usaha offline harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan pelaku usaha online. Misalnya untuk biaya sewa, pelaku usaha offline mungkin masih menyewa tempat sehingga ada biaya sewa yang harus dibayarkan. Berbeda dengan pelaku usaha online, yang dapat melakukan live shopping langsung dari rumah. Selain itu, marketplace sering memberikan berbagai voucher menarik, seperti subsidi ongkir, cashback, potongan harga, dan berbagai voucher lainnya yang membuat harga di toko online sulit disaingi oleh toko offline.
Masalah Lain: Tidak Semua Pelaku Usaha Siap Menghadapi Digitalisasi
Beradaptasi ke dunia digital tentu bukanlah suatu hal yang mudah bagi semua orang. Salah satu kendala adaptasi terdapat pada minimnya pengetahuan serta pemahaman pelaku usaha offline terhadap teknologi serta perubahan perilaku konsumen. Keterbatasan ini membuat sebagian pelaku usaha mungkin akan kesulitan dalam mengikuti cara kerja platform digital serta memasarkan produk secara online. Jadi, masalahnya bukan hanya pada perilaku konsumen yang berubah, tetapi juga pada kesiapan pelaku usaha untuk ikut berubah.
Usaha Offline Tetap Dapat Bertahan, Asal Mau Beradaptasi
Perubahan perilaku konsumen memang menjadi tantangan bagi pelaku usaha offline. Namun, hal ini tidak berarti bahwa usaha offline akan kehilangan masa depan. Dengan melakukan adaptasi serta mengintegrasikan strategi offline dan juga online, usaha dapat memiliki prospek yang lebih menjanjikan.
-
Menggunakan Pola Hybrid
Pelaku usaha tidak hanya menjual produk secara offline, tetapi juga memasarkan produk melalui marketplace. Toko offline memungkinkan interaksi tatap muka dengan pelanggan, sedangkan toko online sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pasar. -
Memanfaatkan Media Sosial
Platform seperti Facebook, Instagram, X, TikTok, dan WhatsApp Business dapat dimanfaatkan sebagai etalase digital untuk produk. Penyajian foto produk yang menarik, video terkait produk, serta testimoni pelanggan dapat meningkatkan minat dan kepercayaan konsumen terhadap produk. -
Mengikuti Pelatihan Terkait Digitalisasi Usaha
Pemerintah dan berbagai platform turut menyediakan beragam pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha guna beradaptasi dengan ekosistem digital. Pemerintah melalui berbagai Kementerian serta lembaga telah menjalankan berbagai program guna mendukung digitalisasi UMKM. Beberapa diantaranya yaitu: Bangga Buatan Indonesia (BBI), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan Kelas Digitalisasi UMKM KemenKopUKM.
Perusahaan teknologi dan e-commerce seperti Tokopedia melalui program “Sekolah Seller”, Shopee melalui program “Kampus UMKM”, Google Indonesia melalui inisiatif “Grow with Google”, serta Blibli & Bukalapak melalui pelatihan berbasis praktik, juga telah ikut berkontribusi dalam memperkuat ekosistem pelatihan digital UMKM di Indonesia.
Apakah Marketplace Membunuh Usaha Offline?
Tentu saja tidak. Perubahan yang terjadi lebih mengarah pada pergeseran perilaku masyarakat dalam berbelanja, bukan pada penggantian usaha offline oleh platform online secara mutlak. Usaha offline tetap dapat bertahan apabila mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Integrasi strategi offline dan online merupakan kunci terciptanya bisnis yang adaptif, tangguh, serta memiliki jangkauan pasar yang luas.