Pengusaha Tanah Abang Keluhkan Penurunan Omzet Saat Lebaran, Menteri Beri Tanggapan Ini

Lani Kaylila
5 Min Read



JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan respons terkait keluhan yang disampaikan oleh para pedagang di Pasar Tanah Abang mengenai penurunan omzet pada momen Lebaran 2026. Beberapa dari mereka melaporkan penurunan hingga mencapai 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan langsung dengan perwakilan dari pedagang Pasar Tanah Abang, salah satu pusat grosir terbesar di Asia Tenggara. Dalam pertemuan tersebut, Kemendag berupaya untuk memahami akar masalah yang menyebabkan penurunan penjualan.

“Kita ngobrol-ngobrol apa sih masalah sekarang yang terjadi di sana. Memang dia sampaikan ya memang nggak kayak dulu lagi [penjualan menurun], tapi kita perlu coba cek ya. Cek di Tanah Abang itu barang-barangnya dari mana saja. Coba cek itu ya. Kan apakah sama-sama seperti dulu,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Budi menjelaskan bahwa meskipun ada beberapa pelaku usaha yang merasakan penurunan penjualan, kondisi ini belum bisa digeneralisasi karena hanya berasal dari 1–2 pedagang. Namun, ia menilai bahwa Pasar Tanah Abang masih cukup ramai pengunjung.

“Karena kalau kita lihat sebenarnya juga ramai juga kok kalau sepintas saya lihat ya, kemarin kalau Pak Purbaya ke sana kan juga ramai,” tambahnya.

Di sisi lain, Budi menyampaikan bahwa para pedagang kini tidak hanya bergantung pada penjualan fisik (offline), tetapi sudah mulai beralih menggunakan platform online untuk menjaga penjualan.

“Mereka menyampaikan bahwa sebenarnya jualannya itu bisa jalan tidak hanya melalui offline, hampir semua rata-rata pakai online, semua melakukan itu, itu yang disampaikan,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, Kemendag akan terus memantau perkembangan dan memberikan dukungan agar pelaku usaha tetap mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen, termasuk pergeseran ke platform digital. Selain itu, pemerintah juga membuka akses pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan ritel modern dan program business matching bagi pedagang untuk lebih aktif mengikuti pameran guna meningkatkan visibilitas produk di pasar.

Beberapa pedagang di Pasar Tanah Abang juga menyampaikan keluhan serupa. Salah satunya adalah Diana (45), pedagang baju yang mengaku mengalami penurunan drastis pada momentum Lebaran tahun ini.

“Jatuh, turun pendapatan, sepi turun 50%, malah lebih. Parah tahun ini mah, anjlok,” kata Diana saat ditemui.

Dia mengungkapkan bahwa kondisi di area trotoar yang biasanya dipadati pembeli kini terasa lengang dan pengunjung berjalan lancar. Ia juga mengaku terpaksa menjual rugi hingga dua kodi barang dalam sehari menjadi Rp100.000 per potong, yang semestinya dibanderol Rp150.000 imbas stok yang menumpuk dan minimnya pembeli.

Keluhan serupa disampaikan oleh Pan (50), pedagang baju muslim, yang menyebut penurunan omzet hingga 30% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Penjualan tahun ini turun, mungkin karena masalah luar negeri ya pengaruh juga, turunnya sampai 20–30% dari tahun kemarin. Jauh, banyak yang gulung tikar juga, banyak yang kosong,” ujarnya.

Namun, tidak semua pedagang mengalami penurunan tajam. Alwi (37), penjual gamis wanita, menyebut penjualannya masih relatif stabil, meski tetap mengalami penurunan 10% dibandingkan Lebaran 2025.

“Penjualan di sini Alhamdulillah, cuma nggak seramai tahun lalu karena mungkin tiap tahun dari segi ekonomi yang kurang, nggak semua suami-suami pada kerja, kena PHK,” tuturnya.

Alwi juga mengandalkan penjualan melalui marketplace untuk menjaga omzet. Hal ini lantaran masyarakat mulai beralih ke platform daring yang turut memengaruhi penjualan di toko fisik.

Terpisah, Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menilai peningkatan konsumsi pada momentum Lebaran tahun ini belum merata, karena tertahan oleh kondisi daya beli kelompok menengah ke bawah.

Faisal menuturkan, kelompok masyarakat dengan pengeluaran di bawah Rp4 juta per bulan masih menghadapi tekanan daya beli. Kondisi ini dipengaruhi oleh pendapatan yang belum pulih sepenuhnya sejak pandemi. Bahkan, upah riil pekerja tercatat mengalami kontraksi pada 2025.

“Artinya kondisinya belum banyak membaik untuk kelas kalangan menengah ke bawah, walaupun di kalangan menengah atas sepertinya sudah lebih bagus konsumsinya, sehingga mendorong secara agregat peningkatan konsumsi,” ujar Faisal.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *