Kinerja Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) pada 2025
Kinerja keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) sepanjang tahun 2025 masih menghadapi tekanan, yang terlihat dari penurunan laba bersih dan pendapatan meskipun beban usaha meningkat. Namun, perseroan mulai menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat fondasi pemulihan menuju 2026.
Salah satu langkah penting yang diambil BNBR adalah akuisisi ruas Tol Cimanggis–Cibitung. Dalam laporan keuangan kuartal III/2025, BNBR mencatatkan laba bersih sebesar Rp11,7 miliar, turun drastis 97,73% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp516 miliar. Pendapatan perseroan juga mengalami penurunan sebesar 3% YoY menjadi Rp2,65 triliun, dari Rp2,73 triliun pada kuartal III/2024.
Tekanan terhadap kinerja tidak hanya berasal dari sisi pendapatan. Beban pokok pendapatan meningkat dari Rp2,06 triliun menjadi Rp2,15 triliun, sementara beban karyawan naik dari Rp176,6 miliar menjadi Rp197,67 miliar, dan beban umum serta administrasi membengkak dari Rp146,46 miliar menjadi Rp172,76 miliar. Kombinasi antara penurunan pendapatan dan kenaikan beban ini menyebabkan kinerja BNBR sepanjang 2025 tertahan.
Meski demikian, manajemen BNBR optimis bahwa tekanan tersebut bersifat sementara. Mereka berharap 2026 dapat menjadi momentum pembalikan kinerja, terutama dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dan kebijakan pemerintah yang dinilai mampu mendorong sektor manufaktur dan infrastruktur—dua pilar utama bisnis BNBR.
Strategi Bisnis BNBR di Tahun 2026
Di bidang manufaktur, BNBR mengandalkan penguatan anak usaha PT Bakrie Autoparts. Strategi yang dijalankan meliputi peningkatan utilitas kapasitas produksi, masuk ke produksi komponen kendaraan penumpang dan pasar komponen pengganti, serta memperluas segmen non-otomotif. Langkah ini diarahkan untuk memperbaiki efisiensi sekaligus memperluas sumber pendapatan.
Sementara itu, melalui PT Bakrie Metal Industries, perseroan berupaya meningkatkan kapasitas di bidang engineering, procurement, and construction (EPC). Anak usaha ini juga memperbesar porsi proyek konstruksi nonmigas, termasuk jembatan, sosrobahu, dan guardrail. Selain itu, Bakrie Metal Industries memperkuat kapasitas pipa baja nonmigas untuk mendukung pembangunan jalan, pembangkit listrik, hingga infrastruktur kelistrikan nasional, disertai revitalisasi fasilitas eksisting guna meningkatkan kapasitas dan produktivitas.
Di luar manufaktur konvensional, BNBR juga membangun portofolio bisnis berkelanjutan. Perseroan memiliki PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) yang memproduksi bus listrik hingga truk listrik, serta Bakrie Power atau Helio yang mengembangkan bisnis energi terbarukan. Pada saat yang sama, anak usaha PT Multi Kontrol Nusantara menangkap peluang digitalisasi melalui pembangunan jaringan kabel fiber optik dan fiber to the home (FTTH), seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas.
Akuisisi Jalan Tol sebagai Langkah Strategis
Langkah paling strategis BNBR pada 2025 datang dari sektor infrastruktur jalan tol. Pada akhir November 2025, BNBR melalui PT Bakrie Toll Indonesia merampungkan akuisisi 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Waskita Toll Road (WTR) dengan nilai transaksi Rp3,56 triliun. Akuisisi ini dipandang sebagai upaya memperkuat struktur arus kas perseroan melalui pendapatan berulang jangka panjang.
Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti menilai CCT akan memberikan kontribusi arus kas yang kuat sekaligus memperkokoh posisi BNBR di sektor infrastruktur. Ia menjelaskan bahwa akuisisi ini sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang perseroan, yaitu optimalkan sinergi usaha atas aset jalan tol, dan dorong kontribusi atas kinerja konsolidasi. Ditopang revenue stream yang kuat, maka BNBR akan mendapat profit stabil.
CCT mencatatkan lalu lintas harian rata-rata sebanyak 42.760 kendaraan per November 2025, dengan pendapatan sekitar Rp2,3 miliar per hari. Karakteristik pendapatan yang relatif stabil inilah yang menjadi daya tarik utama aset jalan tol bagi BNBR. Wakil Direktur Utama BNBR A. Ardiansyah Bakrie menyebut perseroan belum memikirkan langkah akuisisi lanjutan jalan tol, namun menilai CCT memiliki prospek menjanjikan.
“Akan tetapi, kami lihat kalau CCT prospeknya menjanjikan, karena jalan tol memberikan suatu recurring income [pendapatan berulang] perseroan di masa depan,” kata Ardi. Ia juga menegaskan posisi strategis tol Cimanggis–Cibitung dalam jaringan Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2, yang berpotensi mendorong peningkatan lalu lintas seiring pesatnya pengembangan kawasan industri, logistik, dan perumahan.
“Jalan tol ini sebagai penghubung penting kawasan Selatan dan Timur Jabodetabek,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menyampaikan bahwa akuisisi tersebut dilakukan sejalan dengan peluang strategis yang dibidik perseroan. “Transaksi ini dilakukan sehubungan dengan adanya peluang strategis bagi perseroan untuk mengakuisisi seluruh kepemilikan saham CCT yang saat ini dimiliki oleh SMI sebesar 55% dan WTR 35%,” kata Anindya.
Menurut Anindya, kepemilikan penuh diharapkan dapat mengoptimalkan sinergi usaha, meningkatkan kontrol operasional dan strategis, serta mendorong kontribusi pendapatan yang berkelanjutan terhadap kinerja konsolidasi ke depan.
Pergerakan Harga Saham BNBR
Seiring dengan aksi akuisisi tersebut, harga saham PT Bakrie & Brothers Tbk. terpantau menguat signifikan sepanjang Desember 2025 hingga akhirnya disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan terakhir sebelum suspensi, Senin (15/12/2025), saham BNBR naik 9,43% ke level Rp116 per lembar. Secara bulanan, saham BNBR melonjak 143,81%, sementara secara year to date (ytd) menguat 231,43%.
Menanggapi pergerakan tersebut, Wakil Direktur Utama BNBR A. Ardiansyah Bakrie menegaskan bahwa dinamika harga saham sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar dan berada di luar kendali perseroan. “Pelaku pasar mempunyai penilaian sendiri terhadap perkembangan suatu industri atau perusahaan, atau prospek sektor ekonomi secara umum, juga kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Dari sisi analis, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai kenaikan saham BNBR didorong oleh manuver perseroan melalui aksi korporasi. Namun, ia menegaskan saham BNBR saat ini masih tergolong not rated. “Sahamnya kurang likuid,” kata Nafan kepada Bisnis, Rabu (17/12/2025).