JAKARTA — Perusahaan teknologi global Hewlett Packard Enterprise (HPE) melihat potensi pasar kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia sangat menjanjikan. Pasar ini terus menunjukkan pertumbuhan positif, dan HPE pun menyiapkan strategi untuk mempercepat adopsi AI di berbagai sektor industri hingga 2026.
Country Director HPE Networking Indonesia & Philippines, Robert Suryakusuma, menyatakan bahwa pasar AI di Indonesia menawarkan peluang besar. Menurutnya, perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin sadar bahwa AI dapat membantu meningkatkan efisiensi dan kecepatan operasional.
“Mereka sudah tahu bahwa AI ini sangat membantu perusahaan mereka untuk bisa, satu, efisiensi. Dan dua, pasti lebih cepat. Yang ketiga, yang orang jarang ngomong adalah dengan menggunakan AI, semuanya kan sudah digital, nih, sudah enggak manual lagi, sudah enggak dicatat segala macam,” jelasnya.
Meski demikian, Robert mengakui bahwa tidak semua perusahaan di Indonesia siap mengadopsi AI dalam proses bisnis. Menurutnya, hanya perusahaan berskala enterprise yang mulai mengadopsi AI. “Enggak semuanya 100%, karena buat saya AI itu adalah journey, enggak akan mungkin bisa langsung karena dia evolve dan journey. Untuk beberapa perusahaan-perusahaan besar, enterprise company, itu sebagian atau mungkin lebih daripada yang sudah adapt,” tambahnya.
Menurut Robert, tantangan terbesar justru ada pada segmen small to medium-sized businesses (SMB) serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dia menilai, bagi pelaku usaha di segmen tersebut, AI masih dipersepsikan sebagai tools yang mahal dan sulit dijangkau. Padahal, implementasi AI tidak harus dilakukan secara besar-besaran, melainkan bisa dimulai secara bertahap sesuai kebutuhan dan kapasitas bisnis.
Secara umum, Robert melihat implementasi AI di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Dua tantangan utama yang dia soroti adalah kekhawatiran karyawan mengenai posisi mereka yang akan tergantikan oleh AI, serta ketidakjelasan ruang lingkup proyek AI di tingkat manajemen. Akibatnya, banyak inisiatif AI berjalan tanpa arah yang jelas atau tidak terintegrasi dengan strategi bisnis.
Di sisi lain, masih adanya kesenjangan pemahaman terkait AI di masyarakat turut menjadi pekerjaan rumah tersendiri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Robert menjelaskan bahwa HPE menyiapkan sejumlah strategi:
- Pertama, meningkatkan brand awareness sekaligus literasi AI melalui berbagai kegiatan dan forum lintas industri, mulai dari manufaktur, keuangan, hingga hospitality. Kegiatan ini digelar hampir setiap bulan sebagai upaya memperluas pemahaman sekaligus membangun kepercayaan terhadap pemanfaatan AI.
- Kedua, memberikan kesempatan kepada klien untuk mencoba produk melalui proof of concept (POC) dan demo. Dengan begitu, calon pelanggan dapat langsung merasakan manfaat teknologi AI sebelum mengadopsinya secara penuh.
- Ketiga, fokus pada kesiapan sumber daya manusia. HPE menyediakan pelatihan agar perusahaan mampu beradaptasi dengan teknologi baru.
Meski demikian, Robert menyebut bahwa dalam dua hingga tiga tahun terakhir, hampir semua industri vertikal telah menggunakan AI, seperti dari sektor perbankan, manufaktur, hospitality, hingga pendidikan.
Robert kemudian memberikan contoh dari lini HPE Networking, khususnya produk Aruba Central, yang merupakan platform manajemen jaringan. Produk ini digunakan oleh organisasi dengan banyak cabang, seperti pemerintah, manufaktur, ritel, perbankan, pendidikan, rumah sakit, dan hotel untuk mengelola perangkat jaringan seperti access point, switch, dan server. Sistem ini dapat memberikan notifikasi atau alert jika terjadi gangguan.
Dengan Aruba Central yang memanfaatkan AI, administrator cukup memasukkan prompt atau perintah untuk menganalisis bagian tertentu dari jaringan. Sistem akan memberikan rekomendasi lengkap dengan pro dan kontra, termasuk dampak terhadap keamanan. Untuk ke depannya, HPE menargetkan konsep “self-driving network with AI” sebagai visi pengembangan teknologinya.
“Nah, nanti ke depannya, setahun dari sekarang, kita sudah self-healing,” jelasnya.
Lebih lanjut, Selain networking, Robert mencontohkan penerapan AI di sektor manufaktur, khususnya pada perusahaan pemotongan ayam. Dia menjelaskan bahwa dengan bantuan AI, sistem dapat menganalisis dan mengklasifikasikan potongan ayam berdasarkan kebutuhan distribusi ke wilayah tertentu seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Jadi, pada saat dipotong, dipotongnya juga sudah bukan orang [yang] potong, sudah langsung masuk dibagi empat segala macam. Sudah semuanya. Nah, masuk segala macam, ini buat pengiriman ke Jawa Timur, ini buat pengiriman ke Jawa Barat, segala macam. Nah, sudah gitu enggak mungkin salah. Kalau dulu kan orang masih manually ngitung, nih. Nah, tetapi sekarang sudah otomatis,” ujarnya.
Sebagai penutup, menurut Robert, secara keseluruhan AI sangat membantu dalam menunjang pekerjaan manusia sehari-hari. Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa penggunaannya tetap perlu dibatasi dan diatur secara bijak agar tidak melampaui batas.
“Saya enggak melihat AI itu bahaya sebenarnya, karena AI itu enggak seperti kayak kita. Kita masih, ngomong kasarnya, kita masih punya akal budi, enggak seperti kayak AI, tetapi kalau saya rasa, AI itu ngebantu dalam pekerjaan sehari-hari dan harus tahu batasannya,” tutup Robert.