
Kembali Berperang, Tapi Kali Ini di Laut
Jerman dan Yahudi kembali “berperang”, kali ini di laut. Namun, perang terbaru ini tidak melibatkan tentara Hitler dan Sekutu yang berjuang membebaskan Benua Biru dari kebengisannya—yang salah satunya menyasar kaum Yahudi. Perang kali ini melibatkan perusahaan pelayaran Jerman Hapag Lloyd melawan pelayaran Israel ZIM.
Seperti banyak diberitakan oleh media maritim internasional, Hapag Lloyd tengah berusaha mencaplok ZIM dan akan menempatkannya ke dalam labirin bisnisnya. Sebetulnya, bukan hanya Hapag Lloyd yang hendak mengakuisisi. Pelayaran asal Denmark, Maersk, juga dikabarkan tertarik untuk mengakuisisi ZIM.
Maersk menawar dengan harga 30 dolar AS per saham, sedangkan Hapag Lloyd mengusulkan 35 dolar AS per lembar, sehingga nilai jual keseluruhan yang akan diperoleh ZIM dari Hapag Lloyd sekitar 4,2 miliar dolar AS. Jelas tawaran perusahaan yang berbasis di Hamburg inilah yang dipilih oleh ZIM.
Dengan nilai sebesar itu, Hapag-Lloyd akan mengakuisisi 100 persen saham firma yang berbasis di Haifa tersebut. Akuisisi ini diharapkan selesai pada akhir 2026, tergantung persetujuan para pemegang saham lainnya—salah satunya pemerintah Israel dan regulator pasar modal.

Pasca-Akuisisi, ZIM Tetap Ada
Namun, take over yang dilakukan oleh Hapag Lloyd tidak lantas mengakhiri eksistensi ZIM dalam percaturan bisnis perkapalan dunia. Pasca-pengambilalihan, dana ekuitas swasta yang berbasis di Israel—Fimi Opportunity Funds—akan mengambil alih bagian bisnis yang memiliki kepentingan strategis bagi Israel (dalam hal ini pelayaran kontainer).
“New ZIM”—perusahaan pelayaran yang akan didirikan oleh lembaga tersebut untuk bisnis yang dimaksud—akan mengoperasikan sekitar 16 armada kapal yang tidak diambil oleh Hapag Lloyd agar negara Israel dapat tetap terhubung ke jaringan global Hapag-Lloyd.
Nantinya, entitas baru itu akan mengintegrasikan kemampuan transatlantik yang signifikan, bersama dengan rute pengiriman tambahan ke Eropa, Afrika, Laut Mediterania, dan Laut Hitam. Dalam catatan penulis, ZIM (lama) juga melayani Pelabuhan Tanjung Priok menuju berbagai destinasi di dunia sampai saat ini.
Perluasan Armada Hapag Lloyd
Dengan akuisisi ZIM, Hapag Lloyd mampu bersanding dengan pelayaran peti kemas dunia lainnya di klasemen utama. Berdasarkan data Alphaliner, tempat teratas ditempati oleh Mediterranian Shipping Company/MSC, dengan kapasitas 7.211.560 twenty foot equivalent unit (TEU). Posisi kedua Maersk, 4,628,168 TEU. Ketiga, CMA CGM Group, 4,174,821 TEU. Keempat, Cosco Group, 3,592,198 TEU. Kelima, Hapag Lloyd, 2,378,477 TEU. Dan terakhir, Ocean Network Express (ONE), 2,107,695 TEU.
Masuknya kapal-kapal ZIM ke dalam jajaran armada akan mendorong kapasitas Hapag Lloyd hingga melebihi 3 juta TEU.

Tantangan dalam Proses Akuisisi
Namun, langkah akuisisi oleh Hapag Lloyd—yang 12,3 persen sahamnya dimiliki oleh Qatar Holding, anak usaha Sovereign Wealth Fund (SWF) pemerintah Qatar, dan 10,2 persen oleh Public Investment Fund milik Arab Saudi—tidak sepenuhnya mulus.
Sekitar 800 dari sekitar 1.000 karyawan ZIM menghentikan aktivitas pelayanan sebagai bentuk protes atas rencana pengambilalihan oleh Hapag Lloyd. Tuntutannya, pekerjaan mereka tetap aman kendati kendali operasional perusahaan sudah berpindah tangan. Sayangnya, dari pekerja yang ada tadi, New ZIM hanya akan mengambil sekitar 120 karyawan, sisanya tidak jelas. Tidak ada informasi terkait dengan apakah mereka akan diambil Hapag Lloyd atau tidak.
Perusahaan Lain Juga Melakukan Akuisisi
Apa yang dilakukan oleh Hapag Lloyd dengan kebijakan take over-nya bukanlah yang pertama dan barangkali bukan pula yang terakhir. MSC, misalnya, sebelumnya sudah mengakuisisi Bolloré Africa Logistics, Gram Car Carriers, HHLA (Pelabuhan Hamburg) dan Wilson Sons di Brasil.
Yang “dicaploknya” pun bukan hanya perusahaan pelayaran. Perusahaan ini juga telah mengambil alih LF Logistics, Senator International, Performance Team dan Visible SCM. Maersk ingin memperkuat layanan e-commerce dengan akuisisi ini.

Dunia Pelayaran Menuju Oligopoli
Dengan hanya menyisakan enam pemain besar, bisnis pelayaran peti kemas internasional sepertinya tengah menuju praktik oligopoli. Karenanya, aksi take over atau akuisisi tidak hanya berhenti pada ZIM. Masih ada sejumlah pelayaran peti kemas kecil lainnya yang dapat di take over oleh para raksasa yang ada, sejauh mereka memiliki pangsa pasar yang sustained. Tidak tertutup kemungkinan pula di antara para pemain besar akan “saling santap” demi mengamankan posisi mereka yang sejatinya cukup rawan.
Jika masalah B-to-B, mereka dapat menyelesaikannya dengan prinsip win-win solution. Namun bila sudah asimetris, tidak banyak yang bisa dilakukan. Itulah yang terjadi dengan ketegangan di Laut Merah atau Red Sea, yang melibatkan pejuang Houti dan AS beserta sekutunya. Seluruh perusahaan pelayaran terpaksa mencari jalur alternatif dan tentunya hal ini tidak mudah. Kini, katanya, Selat Hormuz sudah dikepung oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dan hanya menunggu waktu saja pecah perang dengan Iran di sana. Lagi dan lagi, hal ini berada di luar kendali pelayaran.