Perkembangan Terbaru Kasus Pelecehan di Universitas Negeri Manado (Unima)
Kasus pelecehan yang dilaporkan terjadi di lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) kini semakin mengemuka setelah korban, Evia Maria Mangolo, ditemukan meninggal secara tidak wajar. Dugaan ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kondisi akademik dan lingkungan kerja di kampus tersebut.
Kejadian yang Menyedihkan
Evia Maria Mangolo, mahasiswi Program Studi PGSD Unima, ditemukan meninggal di sebuah rumah indekost yang berlokasi di Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Selasa (30/12/2025). Peristiwa ini memicu perhatian luas dari masyarakat dan media. Surat pernyataan yang ditulis oleh Evia dan ditandatangani olehnya menjadi bukti bahwa ia merasa teraniaya oleh seorang oknum dosen di lingkungan FIPP.
Surat tersebut menyebutkan pengakuan tentang dugaan pelecehan yang diduga dilakukan oleh oknum dosen tersebut. Dokumen itu ditujukan langsung kepada Dekan FIPP Unima dan bertanggal 16 Desember 2025. Meskipun Evia masih berstatus sebagai mahasiswi aktif, ia telah terdaftar sebagai peserta ujian proposal skripsi yang akan diadakan pada 6 Januari 2026 mendatang.
Penjelasan dari Pihak Kampus
Kepala Humas Unima, Titof Tulaka, memberikan penjelasan mengenai kasus ini. Ia menyampaikan bahwa dugaan kasus serupa disebut-sebut telah terjadi sejak sekitar satu dekade lalu di lingkungan FIPP. Korban-korban lain yang merupakan alumni Unima mulai berbicara.
“Kami sementara mengusut berapa jumlah korban sejak 10 tahun terakhir,” ujar Titof. Ia juga menyebut beredarnya video yang viral menguatkan dugaan kejadian tersebut terjadi berulang dari tahun ke tahun. Namun, kasus ini baru terungkap ke publik saat ini.
Titof menyampaikan bahwa terduga pelaku yang dilaporkan merupakan orang yang sama. Oknum berinisial DM diketahui merupakan dosen tetap di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Unima. Pihak kampus saat ini fokus meluruskan dan mengusut persoalan tersebut secara menyeluruh.
Langkah yang Diambil oleh Kampus
Sejak dilantik Februari 2025, Rektor Unima Dr Joseph Philip Kambey membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi. “Keberadaan satgas membuat mahasiswa berani melapor karena mendapat dukungan, termasuk dari BEM,” jelas Titof. Laporan dapat disampaikan melalui fakultas atau langsung ke Satgas PPKPT tingkat universitas.
Saat ini, karena satgas fakultas belum terbentuk, seluruh laporan dialihkan ke Satgas PPKPT pusat Unima. Pihak kampus memastikan perlindungan penuh bagi seluruh pelapor. “Perlindungan meliputi identitas, privasi, dan keamanan pelapor. Rektor juga menegaskan kepada mahasiswa agar tidak perlu takut untuk melapor,” tambahnya.
Kehidupan dan Sosok Evia Maria Mangolo
Evia Maria Mangolo dikenal sebagai sosok yang baik, rajin, pintar, dan agak pendiam. Ketsia, tante korban, mengatakan bahwa Evia sudah punya pacar yang saat ini bertugas di Papua. Keduanya direncanakan akan tunangan setelah Evia wisuda. Ia juga pernah mengantar pacarnya naik kapal di Bitung dan pernah mengunggah foto sang pacar.
Selain itu, Evia dikenal sangat rajin dalam menyelesaikan tugas kelompok. Kadang, ia lupa makan karena sibuk mengerjakan tugas. Ketsia juga menyebut bahwa Evia sangat pintar dan baik hati. Meski pendiam, ia memiliki semangat tinggi untuk belajar.
Kenangan dari Teman Dekat
Zefanya, yang mengenal Evia sejak kecil, mengatakan bahwa Evia sangat pintar dan berprestasi sejak remaja. Ia pernah ke Bali karena prestasi. Saat di Manado, Evia sering terlihat sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Zefanya juga mengingat bahwa Evia tidak pernah curhat terkait masalah pribadinya. Ia lebih suka menulis ketimbang banyak bicara.
Evia juga tidak pernah cerita terkait dosen Unima inisial DM yang diduga melakukan pelecehan terhadapnya. “Dia hanya pernah cerita, dia stres karena banyak tugas dan butuh suntikan dana. Kalau ditanya-tanya dia bakal marah,” ujar Zefanya.