Kabar Duka: Remaja Tewas Usai Ledakan Petasan di Purworejo

Hendra Susanto
4 Min Read

Kecelakaan Ledakan Petasan di Purworejo, Seorang Remaja Meninggal

Purworejo – Nyawa MRP, seorang remaja yang menjadi korban ledakan petasan di rumahnya, tidak berhasil diselamatkan. Setelah hampir seminggu menjalani perawatan intensif di rumah sakit, remaja berusia 18 tahun tersebut akhirnya meninggal dunia.

MRP merupakan salah satu dari lima korban yang terluka dalam kejadian ledakan petasan yang terjadi pada Jumat (20/3/2026) sore hari. Ia mengalami luka bakar parah dan dinyatakan meninggal pada Sabtu (28/3/2026) malam.

Duka mendalam menyelimuti keluarga korban ledakan petasan di Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Setelah menjalani perawatan intensif selama lebih dari seminggu, MRP (18) akhirnya mengembuskan napas terakhir di RS PKU Muhammadiyah Gombong pada Sabtu (28/3/2026) pukul 23.30.

Jenazahnya kemudian dipulangkan ke rumah duka di Desa Tasik Madu, Kecamatan Pituruh, dan dimakamkan pada Minggu (29/3/2026) di pemakaman desa setempat.

Kasus Ledakan Masih Diselidiki

Kasat Reskrim Polres Purworejo, AKP Dwiyono menyampaikan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung dan akan dilanjutkan dengan gelar perkara. Peristiwa ledakan petasan tersebut terjadi di Dusun Tanggulangin, Desa Tasik Madu, Kecamatan Pituruh pada Jumat (20/3/2026) sekira pukul 15.30.

“Akan kami gelarkan, masih menunggu hasil penyelidikan,” ujarnya.

Dari hasil olah TKP, polisi menyita beberapa barang bukti seperti selongsong petasan, serpihan mercon, serta alat-alat yang digunakan untuk merakit bahan peledak tersebut. Ledakan itu juga menyebabkan kerusakan pada bangunan rumah.

Bagian atap teras mengalami kerusakan, kaca jendela pecah, serta lantai berlubang dengan diameter sekitar 40 sentimeter dan kedalaman sekitar 15 sentimeter.

Kasatreskrim menyebut, ledakan terjadi saat proses perakitan masih berlangsung. “Ledakan terjadi saat proses pengisian bahan ke dalam selongsong mercon.” “Di lokasi ada lima orang, satu orang yang merakit dan empat lainnya menonton, sehingga semuanya ikut menjadi korban,” jelas AKP Dwiyono.

Kondisi Korban Sempat Membaik

Ayah korban, S (48) membenarkan kabar tersebut. Dia mendapat informasi meninggalnya sang anak pada Sabtu (28/3/2026) malam. “Dikabari pada malam hari, meninggal sekira pukul 23.30 di PKU Gombong,” ujar S.

Menurutnya, sebelum dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah Gombong, Rizki sempat dirawat di RS Palangbiru Kutoarjo. Bahkan kondisi korban sempat menunjukkan tanda-tanda membaik dan sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga.

“Awalnya sempat membaik, sudah bisa diajak komunikasi. Tapi kemudian kondisinya menurun sehingga dirujuk ke PKU Gombong dan meninggal,” jelasnya.

Kronologi Ledakan

Peristiwa tragis tersebut bermula dari ledakan petasan yang terjadi di rumah R (46), warga Dusun Tanggulangin, Desa Tasik Madu pada Jumat (20/3/2026) sekira pukul 15.30. Saat kejadian, MRP diketahui sedang meracik petasan berukuran sekitar 20 sentimeter dengan diameter 3 sentimeter, di bagian teras rumah.

Di lokasi kejadian, terdapat empat orang lain yang menyaksikan proses perakitan petasan tersebut. Setelah bubuk dimasukkan ke dalam selongsong dan dipasangi sumbu, korban kemudian menutup bagian ujungnya dengan cara ditekan. Namun tak lama setelah itu, petasan tiba-tiba meledak dan memicu ledakan lanjutan di sekitarnya.

Akibat insiden tersebut, lima orang mengalami luka-luka. Selain MRP, korban lainnya adalah F (18), K (16), B (15), dan A (9). Dari kelima korban, MRP dan K mengalami luka bakar cukup parah, sedangkan tiga korban lainnya hanya mengalami luka ringan.

S menambahkan, tiga korban luka ringan telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan di RSUD Prembun Kebumen. Sementara itu, K hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUP dr Sardjito Yogyakarta.

“Yang masih dirawat tinggal satu, K, di Sardjito. Yang lainnya sudah pulang,” katanya.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *