Kesuksesan yang Menyimpan Tanda-tanda Bahaya

Pada tahun 2025, industri perfilman Indonesia mencatatkan sejarah baru. Dalam satu tahun kalender, rekor film Indonesia terlaris sepanjang masa pecah dua kali. Fenomena ini dimulai dengan kesuksesan film animasi JUMBO di pertengahan tahun, diikuti oleh ledakan penonton Agak Laen 2 di akhir tahun. Meskipun ini merupakan pencapaian luar biasa, sutradara dan CEO Visinema Angga Sasongko memberikan peringatan mengenai kesehatan ekosistem film nasional.
Peringatan Dini dari Angga Sasongko
Angga menulis melalui unggahan di akun Instagram pribadinya bahwa meskipun jumlah penonton meningkat secara signifikan, ada ketimpangan ekstrem dalam distribusi jumlah penonton tersebut. Dari total 120 juta tiket yang terjual, sebanyak 21 juta tiket atau hampir 18 persen dari total pasar hanya disumbang oleh dua film saja, yaitu JUMBO dan Agak Laen 2.
Menurut Angga, kondisi ini menyiratkan bahwa tingkat keberhasilan per judul film justru mengalami penurunan. Ia menekankan bahwa gejolak industri hiburan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, sangat penting menjaga rasio menang-kalah di batas yang masuk akal agar putaran arus modal jadi berkelanjutan.
Empat Fakta Pahit di Balik Kesuksesan JUMBO dan Agak Laen 2
Angga menjelaskan, ada empat realitas pahit yang sedang dihadapi industri saat ini:
- The Winner Takes It All: Para jawara film mengambil hampir seluruh porsi pasar secara ekstrem.
- Tingkat kemenangan per judul yang terus merosot: Kinerja setiap film semakin menurun.
- Tergerusnya film-film kelas menengah: Film kelas menengah yang biasanya menjadi tulang punggung stabilitas industri mulai hilang.
- Risiko arus kas yang kini berpindah dari bioskop ke pundak para produser: Produser kini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan arus kas.

Di mata Angga, pola lama di mana produser memproduksi satu film dengan harapan bisa mencapai angka rata-rata penonton yang aman kini tidak lagi relevan. Model lama seperti melakukan taruhan tunggal dan berharap pada hasil rata-rata sudah ketinggalan zaman.
Penurunan Rata-Rata Pendapatan Film Indonesia
Di tahun 2025, rata-rata pendapatan film Indonesia justru menurun dibandingkan tahun 2024, karena penonton cenderung hanya berkumpul di film-film yang sangat viral saja. Lebih lanjut, Angga menyebut situasi ini sebagai sebuah peristiwa ‘black swan’ atau kejadian langka yang tak terduga, tetapi berdampak besar.
“Film indonesia menurun dari tahun 2024, dengan JUMBO Jumbo dan Agak Laen pecahkan rekor dalam 1 tahun kalender. Ada sensasi euforia, padahal kalau lihat data lebih dalam, ini malah warning sign. Black swan,” tulis Angga menanggapi komentar salah satu netizen.

Solusi dari Angga Sasongko
Ketimpangan pendapatan antara film ‘blockbuster’ dengan film lainnya menciptakan jurang yang sangat lebar, sehingga banyak produser film menengah kesulitan untuk sekadar balik modal. Oleh karenanya, Angga menyerukan agar pertumbuhan industri ini dapat dinikmati oleh semua pemangku kepentingan, bukan hanya segelintir orang.
“Penting untuk menjaga rasio menang dan kalah agar dampak pertumbuhannya dinikmati semua pihak,” tulis Angga.
Bagi Angga, film tidak lagi hanya sekadar karya kreatif, tetapi harus memiliki strategi pemrograman yang kuat agar tidak tenggelam di tengah dominasi film raksasa. “Yang selamat ke depan bukan yang paling kreatif, tapi yang paling disiplin mengelola ketidakpastian atau gejolak pasar,” tutup Angga.
