Kehadiran Matcha Baby di Bandung
Di tengah ketatnya persaingan usaha kuliner di Kota Bandung, Matcha Baby hadir sebagai salah satu UMKM minuman yang konsisten bertahan dengan konsep sederhana namun relevan dengan pasar. Gerobak Matcha Baby ini tampil sederhana namun rapi dengan dominasi warna hijau dan putih yang merupakan khas matcha.
Di sisi depan gerobak dorong ini terpasang deretan foto menu minuman matcha dalam gelas plastik, lengkap dengan variasi rasa dan warna, yang disusun berjajar sehingga mudah dilihat pelanggan. Bar matcha yang kecil ini terlihat ringkas namun fungsional, ada cup plastik, alat pengaduk, shaker, container matcha, botol susu, dan perlengkapan minuman lain yang tersusun di meja gerobak.
Gerobak ini juga dilengkapi tenda biru dan payung sebagai pelindung dari hujan dan panas, memberi kesan lapak kaki lima yang siap berjualan di segala cuaca. Usaha minuman berbasis matcha ini dirintis oleh Dini Indah Rahmawati sejak Agustus 2025, dengan menyasar segmen pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda.
Dini menuturkan, Matcha Baby berawal dari kepekaannya melihat tren konsumsi Gen Z yang kian lekat dengan minuman matcha. Dari kebiasaan sederhana sang anak yang gemar jajan matcha, muncul ide untuk menghadirkan produk dengan harga terjangkau namun tetap berkualitas.
“Bandung itu kota kuliner, nggak ada habisnya. Saya lihat peluangnya besar, terutama buat anak sekolah dan mahasiswa. Tapi harga harus masuk akal,” ujar Dini saat ditemui di Matcha Baby tepatnya di Jalan Citarum, Selasa (2/12/2025).
Sebelum terjun ke dunia kuliner, Dini sempat lama berkecimpung di usaha fesyen. Namun, perubahan pasar dan tekanan platform digital membuatnya memilih beralih. Ia pun memutuskan memulai dari skala kecil dengan konsep kaki lima agar perputaran modal lebih cepat dan risiko bisa ditekan.
Dini mengatakan untuk produknya, ia memilih bubuk matcha culinary grade. Matcha Baby mampu mematok harga mulai dari Rp15.000 per cup. Racikannya dibuat tidak pahit dan disesuaikan dengan selera pelanggan yang cenderung menyukai rasa manis. Meski begitu, Dini tetap membuka opsi penyajian lebih autentik bagi pelanggan yang menginginkan cita rasa matcha yang kuat.
“Kalau ada yang minta pahit, pasti bisa. Tapi kebanyakan pelanggan sukanya yang aman,” katanya.
Dalam sehari, Matcha Baby mampu menjual sekitar 20–50 cup, tergantung kondisi cuaca dan keramaian. Menurut Dini, musim hujan cukup berpengaruh pada penjualan, namun ia tetap optimist menjaga konsistensi kualitas sebagai kunci bertahan.
Bagi Dini, membangun usaha dari nol bukan perkara mudah. Ia mengakui perjuangan mental menjadi tantangan terbesar, terutama di hari-hari awal saat penjualan masih sepi.
“Pernah pulang nangis karena cuma jual tiga cup. Tapi besoknya harus bangun lagi. Jualan itu memang soal mental,” katanya.
Kolaborasi dengan Operator Besar Tanah Air
Di sisi lain, Dini juga aktif mengikuti berbagai bazar UMKM. Namun, ia menyoroti tingginya biaya sewa stan yang kerap menjadi beban bagi pelaku usaha kecil. Ia menilai sistem bazar konvensional yang mengharuskan pembayaran di muka kerap memaksa UMKM menaikkan harga jual agar balik modal.
“Stan bazar sekarang mahal-mahal, ada yang sampai Rp4 juta. Mau nggak mau jadi mikir keras biar balik modal, dan akhirnya harga ikut naik, padahal market kita ini pelajar,” ujarnya.
Oleh karena itu, Dini berharap kehadiran Indosat dalam ekosistem UMKM tidak sebatas branding, tetapi benar-benar menghadirkan solusi nyata. Ia mengusulkan pendekatan berbasis komunitas, dimulai dari skala kota.
“Nggak usah besar dulu, Bandung saja. UMKM yang benar-benar kecil, dibuat komunitas dulu, minimal WhatsApp group,” kata Dini.
Menurutnya, Indosat berpotensi berperan lebih jauh dengan menghadirkan bazar UMKM gratis atau dengan sistem bagi hasil, bukan pembayaran di awal. “Kalau bagi hasil, UMKM nggak berat. Itu jauh lebih adil buat UMKM yang modalnya terbatas,” ujarnya.
Saat ini, kolaborasi Matcha Baby dengan Indosat masih berada pada tahap awal penjajakan, belum ada pelatihan atau program konkret yang berjalan, namun Dini melihat sinyal positif ke depan. Ia berharap, ke depan Indosat dapat menghadirkan pelatihan, bazar internal, hingga program pembinaan UMKM berkelanjutan.
Dini bahkan membayangkan kolaborasi sederhana seperti bundling produk UMKM dengan layanan Indosat sebagai langkah awal pemberdayaan. “Kalau bisa kan keren, ada Matcha Baby x Indosat. Pelan-pelan saja, yang penting UMKM bisa tumbuh bareng,” ujarnya.