Isaac Newton dan Kegagalan dalam Menghadapi Euforia Pasar
Isaac Newton, seorang ilmuwan legendaris yang dikenal dengan kemampuannya menghitung lintasan benda langit dan merumuskan hukum gerak, memiliki satu tantangan yang sulit diatasi: psikologi manusia saat euforia uang meledak. Meskipun ia mampu menjelaskan perubahan melalui bahasa matematika, ada satu “variabel” yang tetap sulit dikendalikan—yaitu emosi kolektif yang muncul saat pasar sedang memanas.
Cerita ini terkenal lewat gelembung finansial South Sea Bubble pada tahun 1720. South Sea Company didirikan bukan sebagai perusahaan startup, melainkan sebagai skema pengelolaan utang pemerintah Inggris yang dibungkus narasi perdagangan “South Seas”. Perusahaan ini memiliki monopoli perdagangan tertentu, termasuk keterlibatan dalam perdagangan manusia (slave trade), dan mimpi publik tentang “keuntungan tak terbatas” membuat sahamnya menjadi bahan bakar imajinasi kolektif.
Pasar melakukan hal yang selalu dilakukannya saat mania: membuat yang tidak masuk akal terasa masuk akal. Harga saham South Sea meroket sepanjang paruh pertama 1720 dan mencapai puncak sekitar akhir Juni di kisaran 1.000 per saham, sebelum jatuh tajam pada September–Oktober.
Di tengah drama itu, Newton bukan investor pemula. Ia sudah berpengalaman, portofolionya berisi instrumen pemerintah dan saham institusi besar lain (misalnya Bank of England), dan ia termasuk generasi awal yang serius menaruh kekayaan di instrumen finansial modern. Justru itulah yang membuat kisahnya menarik: ini bukan cerita “orang bodoh yang serakah”, melainkan cerita orang cerdas yang sempat benar, lalu kalah pada momen yang paling manusiawi.
Menurut rekonstruksi dokumen yang dibahas Andrew Odlyzko, Newton menjual kepemilikannya di tahap awal mania dan mengunci keuntungan besar. Artinya, ia membaca risiko dan memilih keluar. Namun pasar kemudian menguji ego: setelah Newton keluar, harga tetap naik. Dan di titik itu, jebakan paling berbahaya muncul. Bukan entry pertama, melainkan re-entry karena FOMO (fear of missing out).
Odlyzko menjelaskan bahwa Newton kemudian masuk kembali hampir di puncak, dan bahkan terus menambah posisi ketika harga mulai melemah sebelum runtuh sepenuhnya. Pada September 1720, penurunan menjadi brutal. Pada awal Oktober saham telah jatuh sekitar 70% dari puncaknya dan kembali mendekati level pra-gelembung menjelang akhir tahun.
Seberapa besar ruginya? Angka populer sering dibesar-besarkan, tapi sumber yang lebih hati-hati menunjukkan satu hal yang jelas: Newton tidak bangkrut, namun pukulannya nyata. Odlyzko menulis bahwa kekayaan bersih Newton sebelum gelembung sekitar 30.000, dan pada pertengahan 1721 turun menjadi sekitar 20.000, ia kehilangan seluruh profit awal dan “lebih dari itu”, meski tetap tergolong kaya pada zamannya.
Lalu ada kutipan yang melegenda: “I can calculate the motion of heavenly bodies, but not the madness of people.” Banyak artikel mengulangnya sebagai “pengakuan Newton”. Namun, atribusinya kompleks: versi singkat “I cannot calculate the madness of people” sering ditandai sebagai atribusi dalam kompilasi kutipan; salah satu jejaknya datang dari anekdot yang dikaitkan dengan Joseph Spence (melalui laporan tentang Lord Radnor), dan ada catatan bahwa Newton sendiri menulis ia “lost very much” oleh South Sea Company dalam surat (1724). Jadi, walau kalimat populernya mungkin bukan transkrip verbatim, idenya selaras dengan bukti: Newton mengakui ia rugi besar, dan trauma sosial-emosionalnya nyata.
FOMO dan Pelajaran dari Newton
Di sinilah “Newton FOMO” menjadi cermin untuk investor modern. FOMO bukan sekadar “tak sabaran”; ia sering lahir dari tiga mesin:
* Social proof (herding): kalau semua orang menang, risiko terasa turun, padahal seringnya justru naik.
* Relative deprivation: melihat orang lain kaya cepat terasa seperti kita “rugi”, walau portofolio kita tidak berubah.
* Narrative compounding: makin tinggi harga, makin kuat ceritanya. Harga dipakai sebagai “bukti kebenaran”, bukan sebagai sinyal risiko.
Karena itu, pelajarannya bukan “jangan FOMO”—itu terlalu mudah dan jarang berguna saat adrenalin pasar naik. Pelajarannya adalah bangun protokol keputusan yang melindungi diri dari momen re-entry. Setidaknya ada lima hal yang bisa kita petik dari FOMO Isaac Newton:
- Aturan 48 jam: jika ingin beli karena viral/naik tajam, tunggu 48 jam sebelum eksekusi.
- Risk cap: batasi porsi aset spekulatif (mis. 5–10% portofolio).
- Tesis 2 kalimat: tulis alasan beli dalam 2 kalimat. Jika butuh 2 halaman, biasanya itu cerita, bukan tesis.
- Indikator salah: tentukan apa yang membatalkan tesis (kapan kamu mengaku salah).
- Larangan re-entry emosional: hanya re-entry jika ada informasi/tesis baru—bukan karena “kok dia naik terus?”
Kesimpulan
Newton mengajarkan ironi yang menenangkan sekaligus menampar. Kecerdasan bukan vaksin untuk euforia. Pasar bukan soal menghitung planet, pasar adalah arena manusia. Dan justru karena itu, yang kita butuhkan bukan hanya pengetahuan, tapi aturan main untuk diri sendiri.