Transaksi E-commerce Ramadhan-Lebaran Naik 50%, Harga Pangan Jadi Tantangan

Hartono Hamid
4 Min Read



JAKARTA — Pada momen Ramadan dan Lebaran, transaksi e-commerce diprediksi mengalami kenaikan hingga 50% dibandingkan dengan hari biasa. Namun, jika dilihat secara tahunan, pertumbuhannya tidak jauh berbeda dari peningkatan konsumsi rumah tangga secara umum.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan bahwa kenaikan transaksi e-commerce pada periode ini adalah fenomena yang wajar. Hal ini disebabkan oleh adanya tambahan pendapatan masyarakat selama masa liburan.

“Kenaikannya bisa mencapai 50% jika dibandingkan dengan hari biasa,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (20/2/2025).

Meski demikian, Huda menilai bahwa jika dibandingkan secara tahunan, lonjakan transaksi tersebut sejalan dengan peningkatan konsumsi rumah tangga. Ia memperkirakan bahwa pola pertumbuhan pada tahun ini akan tetap serupa.

Secara periodik, transaksi e-commerce tetap berpotensi meningkat lebih dari 50% dibandingkan hari biasa. Bahkan, pertumbuhannya dinilai akan lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Menurut Huda, konsumsi rumah tangga tahun ini akan terdorong oleh meningkatnya keyakinan konsumen. Oleh karena itu, ia berharap konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif.

“Adanya THR dan kenaikan UMR juga memengaruhi dari sisi pendapatan masyarakat,” katanya.

Tantangan dari Harga Bahan Pangan

Namun, Huda juga mengingatkan adanya potensi tekanan dari kenaikan harga bahan pangan yang dapat menahan belanja masyarakat di e-commerce.

Menurutnya, harga bahan pangan cenderung meningkat pada periode Ramadan-Lebaran 2026. Ia memberi contoh, seperti harga telur yang telah mengalami kenaikan.

“Ditambah ada permintaan bahan pangan dari MBG yang tidak libur di bulan Ramadan-Lebaran. Alhasil inflasi volatile food akan meningkat dan pendapatan yang tadinya bisa dibelanjakan di e-commerce akan menurun proporsinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) memproyeksikan pendapatan industri e-commerce pada momentum Ramadan dan Lebaran 2026 tumbuh double digit secara tahunan.

Sekretaris Jenderal idEA Budi Primawan menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, periode Ramadan-Lebaran secara konsisten menjadi musim puncak atau peak season bagi industri e-commerce. Pola peningkatan kinerja relatif sama, dengan trafik dan transaksi mulai naik sejak awal Ramadan dan mencapai puncak pada rentang H-7 hingga H-3 Lebaran.

Meski laju pertumbuhan tidak lagi setinggi masa pandemi, Budi menilai tren industri e-commerce tetap solid dan lebih sehat. Kondisi itu ditopang oleh perilaku belanja online masyarakat yang semakin matang, meningkatnya penetrasi pembayaran digital, serta penguatan integrasi kanal online dan offline.

“Untuk Ramadan-Lebaran 2026, kami melihat prospeknya tetap positif dan optimistis industri masih bisa tumbuh double digit secara tahunan,” kata Budi kepada Bisnis, Jumat (20/2/2026).

Namun, Budi menegaskan proyeksi tersebut tetap bergantung pada terjaganya kondisi makroekonomi dan daya beli masyarakat. Dari sisi kategori, produk yang diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan antara lain fashion dan modest wear, makanan dan minuman termasuk hampers serta bahan pangan, produk beauty and personal care, elektronik kecil dan gawai, serta produk rumah tangga.

Menurut Budi, pertumbuhan tersebut didorong oleh kombinasi faktor musiman, seperti meningkatnya kebutuhan menjelang Lebaran dan pencairan THR, serta strategi pelaku usaha melalui kampanye tematik Ramadan, promo dan bundling, hingga pemanfaatan live commerce dan short video yang semakin efektif mendorong konversi penjualan.

Adapun tantangan utama pada periode puncak meliputi kesiapan logistik dan layanan last mile delivery, pengelolaan stok dan rantai pasok, kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang, serta dinamika daya beli dan kondisi makroekonomi.

Budi menambahkan, idEA berperan memfasilitasi koordinasi antara pelaku industri dengan kementerian dan lembaga terkait guna memastikan kesiapan infrastruktur, kelancaran distribusi, serta kepatuhan terhadap regulasi.

“Kami juga terus mendorong literasi dan kesiapan UMKM agar dapat memanfaatkan momentum Ramadan secara optimal, baik dari sisi promosi, manajemen stok, maupun pelayanan konsumen,” kata Budi.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *