Libur Wall Street, Saham Eropa Turun Usai Trump Ancam Tarif 25 Persen

Wahyudi
5 Min Read

Ancaman Tarif Impor AS Mengguncang Pasar Eropa

Ancaman tarif impor Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa kembali memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global. Bursa saham Eropa pada awal pekan ini mengalami penurunan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan rencana pengenaan bea masuk terhadap delapan negara anggota NATO yang mendukung Greenland, kecuali jika tercapai kesepakatan dengan Washington.

Sentimen tersebut membuat investor menjauh dari aset berisiko. Pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026), indeks Stoxx Europe 600 turun 1,2 persen dan menjauh dari posisi tertinggi sepanjang masa yang sempat dicapai sebelumnya. Tekanan paling besar terlihat pada saham-saham sektor otomotif dan barang mewah, yang sensitif terhadap dinamika perdagangan global.

Di bursa utama, pelemahan terjadi secara merata. Indeks CAC 40 Prancis turun 1,8 persen, DAX Jerman melemah 1,4 persen, dan FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,4 persen. Di tengah tekanan tersebut, saham sektor telekomunikasi justru mampu mengungguli pasar, sementara saham-saham pertahanan memangkas sebagian kenaikan yang sebelumnya dipicu oleh ketegangan geopolitik.

Awal Mula Ancaman Tarif

Ancaman tarif ini berawal dari pernyataan Trump pada Sabtu lalu yang mengumumkan pengenaan bea masuk 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang dari negara-negara Eropa yang menyatakan dukungan kepada Greenland. Tarif itu akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni, apabila tidak tercapai kesepakatan terkait pembelian Greenland secara “lengkap dan menyeluruh”.

Menurut kepala strategi investasi ING, Vincent Juvyns, dampak ekonomi dari kebijakan tersebut masih bisa diserap jika dilihat semata-mata dari sisi tarif. Namun, ia mengingatkan risiko yang lebih luas. “Namun kemungkinan terjadinya perpecahan di dunia Barat akan membawa konsekuensi yang sulit diukur skalanya,” lanjutnya.

Sektor Otomotif dan Barang Mewah Paling Tertekan

Tekanan paling nyata terlihat pada saham-saham perusahaan besar di sektor otomotif dan barang mewah. Raksasa barang mewah asal Perancis, LVMH, anjlok 4,3 persen, yang merupakan penurunan terbesar sejak April. Di Jerman, saham Volkswagen AG turun 2,8 persen dan Mercedes-Benz Group melemah 2,2 persen.

Di sisi lain, saham perusahaan pertahanan Rheinmetall AG justru naik 1 persen, mencerminkan pergeseran minat investor ke sektor yang dinilai lebih diuntungkan oleh ketegangan geopolitik.

Analis senior Bloomberg Intelligence, Laurent Douillet, menilai eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa yang dipicu isu Greenland berpotensi menggerus prospek kinerja korporasi. “Eskalasi perang dagang AS–Eropa yang dipicu isu Greenland berpotensi menghapus sebagian besar pertumbuhan laba perusahaan Eropa pada 2026,” tulisnya. Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat memicu koreksi pasar di kisaran satu digit menengah.

Dampak Ekonomi dan Kekhawatiran Investor

Dari sisi makroekonomi, ekonom Goldman Sachs Group memperkirakan bahwa tarif Amerika Serikat sebesar 10 persen dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) riil negara-negara yang terdampak sekitar 0,1 hingga 0,2 persen melalui penurunan volume perdagangan. Jerman diperkirakan menjadi negara yang menerima dampak paling besar.

“Tekanannya bisa lebih besar jika muncul efek kepercayaan atau gejolak pasar keuangan,” kata ekonom Goldman Sachs.

Reli saham terhambat, valuasi dinilai terlalu panas. Ancaman tarif ini datang di saat pasar saham Eropa tengah menikmati reli yang kuat dan bahkan mengungguli kinerja pasar Amerika Serikat. Aliran dana ke sektor pertahanan, pertambangan, serta produsen peralatan chip mendorong indeks-indeks utama Eropa naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, reli tersebut juga membuat valuasi pasar dinilai mulai terlalu panas.

Sejak awal 2025 hingga Jumat lalu, Stoxx Europe 600 tercatat melonjak 36 persen dalam denominasi dollar AS, atau sekitar dua kali lipat kenaikan indeks S&P 500 pada periode yang sama. Dengan kurs Rp 16.500 per dollar AS, penguatan tersebut mencerminkan aliran dana global yang cukup deras ke aset Eropa.

Kekhawatiran investor juga dipicu oleh potensi respons balasan dari Eropa. Uni Eropa dikabarkan tengah membahas kemungkinan penerapan tarif terhadap barang-barang Amerika Serikat senilai 93 miliar euro, atau sekitar 108 miliar dollar AS, setara kurang lebih Rp 1.782 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.500 per dollar AS, jika ancaman tarif 10 persen benar-benar direalisasikan.

Selain itu, UE disebut mempertimbangkan untuk menahan persetujuan atas kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat yang dicapai pada Juli lalu.

Dengan kombinasi valuasi yang sudah tinggi, ketidakpastian kebijakan moneter global, serta ancaman perang dagang baru, pasar saham Eropa kini berada dalam fase rawan koreksi. Pernyataan Trump soal tarif terkait Greenland menjadi pemicu yang mempertegas kekhawatiran investor bahwa ketegangan geopolitik dan proteksionisme masih akan menjadi bayang-bayang utama bagi perekonomian dan pasar keuangan dunia sepanjang 2026.

Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *