Berbeda dari Bank Dunia, Waka MPR Eddy Yudhoyono Optimis Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5%

Hendra Susanto
3 Min Read



JAKARTA – Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno memberikan tanggapan terkait laporan proyeksi Bank Indonesia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sebesar 4,7% pada tahun 2026. Ia menyatakan angka tersebut lebih rendah dibandingkan target pemerintah yang mencapai 5,4%. Namun, berbeda dengan prediksi dari Bank Dunia, ia tetap optimis bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih kuat untuk mencapai pertumbuhan di atas 5% pada tahun ini.

Eddy mengungkapkan bahwa dampak perang di Timur Tengah yang belum berakhir hingga saat ini memang akan berdampak pada seluruh negara di dunia. Pertumbuhan ekonomi secara global diprediksi akan terganggu karena gangguan pada rantai pasok energi. Namun, Indonesia memiliki keunggulan tersendiri dalam hal sumber daya alam.

Indonesia merupakan eksporter utama berbagai sumber daya alam seperti batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, dan timah. Harga komoditas-komoditas ini mengalami apresiasi yang cukup signifikan. Hal ini memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, Eddy menyoroti bahwa Indonesia relatif mandiri dalam aspek ketenagalistrikan. Pasokan listrik untuk sektor industri, niaga, dan rumah tangga nyaris tidak terganggu oleh kendala impor migas dan BBM. Alasannya, Indonesia menggunakan batu bara dan gas yang berasal dari dalam negeri sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik.

“Berbeda dengan Singapura, Jepang, atau Korea yang bergantung pada impor gas dan batu bara agar tidak terjadi pemadaman listrik,” ujarnya.

Meski demikian, Eddy tidak memungkiri bahwa ruang fiskal APBN saat ini cukup ketat. Menurutnya, di tengah kenaikan harga BBM yang sangat vital bagi perekonomian nasional, khususnya sektor industri, transportasi, dan rumah tangga, Menteri Keuangan perlu sangat cermat dalam melakukan pengalokasian anggaran agar daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Kita juga perlu mengantisipasi kenaikan harga bahan baku plastik dan pupuk yang dapat menyebabkan lonjakan harga pangan dan produk makanan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa jika harga pupuk meningkat, maka harga beras dan sayuran akan otomatis meningkat. Begitu pula dengan kenaikan harga plastik yang bisa memengaruhi harga mi instan, air minum dalam kemasan, serta barang-barang rumah tangga seperti ember, selang air, dan alat masak.

Eddy meyakini bahwa dalam situasi perekonomian dunia yang sedang terganggu, pemerintah akan tetap berupaya memberikan bantalan sosial yang kuat bagi masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, pemerintah juga akan berupaya mengendalikan inflasi agar konsumsi masyarakat tidak terganggu.

“Saya juga mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menghemat penggunaan energi bersubsidi. Dengan penghematan ini, anggaran dapat dialokasikan untuk membantu saudara-saudara kita yang lebih membutuhkannya,” tutup Eddy.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *