Perjalanan Seorang Ulama dari Keluarga Sederhana
Tgk H Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh, adalah seorang ulama ternama di Aceh. Ia kini menjabat sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Namun, perjalanan hidupnya tidak dimulai dari lingkungan keluarga teungku atau pesantren. Justru, ia berasal dari keluarga sederhana di Desa Janguet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya (Lamno), yang lahir pada 7 Januari 1968.
Dari awal hingga kini, ia menjalani jalan keulamaan sendiri, tanpa warisan dari orang tua atau kakek-nenek. “Dari urutan dua ke atas yang sekarang ini, yaitu ayah dan kakek kami dalam keluarga itu tidak ada yang memang mendalami tentang ilmu agama secara khusus. Jadi kami (saya) yang mendalami itu sendiri,” ujarnya saat ditemui di pesantren yang diasuhnya.
Awal Mula Kecintaan pada Dunia Dayah
Meski bukan dari keluarga pesantren, benih kecintaannya pada dunia dayah tumbuh sejak kecil. Rumahnya berdekatan dengan Pesantren Budi Lamno, tempat ia sering bermain dan menyaksikan kehidupan para santri. Kedekatan itu perlahan menumbuhkan tekad untuk mendalami ilmu agama.
Pada 1985, setelah sempat bersekolah di SMU selama sekitar enam bulan, ia mengambil keputusan besar. Ia keluar dari sekolah umum dan memilih menuntut ilmu agama. Langkahnya membawanya ke LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen. Di sana, ia menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga dipercaya mengajar. Total pengabdiannya di Samalanga mencapai hampir 15 tahun.
Selama masa itu, ia aktif dalam berbagai organisasi santri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Santri Kecamatan Lamno Jaya (1991–1993), Ketua Ikatan Santri MUDI Mesra Aceh Barat Selatan (1992–1998), hingga Ketua Koperasi Al-Barkah Samalanga (1994–1998). Pengalaman organisasi itu membentuk karakter kepemimpinannya.
Membangun Pondok Pesantren
Tahun 1999 menjadi titik awal berdirinya pesantren yang kini ia pimpin. Keluarganya membebaskan sebidang tanah untuk diwakafkan. Setahun kemudian, pada 2000, proses belajar-mengajar dimulai dengan hanya sekitar tujuh santri.
“Jadi fasilitas yang pertama yang ada itu hanya satu balai (tempat mengaji). Di situ tempat belajar, di situ tempat sholat, di situ juga tempat tidur, juga sekaligus tempat masak,” kenangnya. Ia hidup bersama para santri selama lebih dari tiga tahun dalam keterbatasan.
Bahkan sebelum berkeluarga, ia memilih memprioritaskan pendirian dan penguatan pesantren. Dari satu balai sederhana, Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah berkembang menjadi yayasan pendidikan yang menaungi lima lembaga: Dayah Salafiyah, SMP Islam Terpadu, SMK Mahyal Ulum, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah, serta unit pemberdayaan ekonomi seperti perkebunan dan peternakan.
Keterlibatan dalam Dinamika Sosial Aceh
Abu Sibreh juga terlibat dalam dinamika sosial Aceh, termasuk pada momentum Referendum Aceh 1999 serta pembentukan Rabithah Thaliban dan SIRA. Namun baginya, keterlibatan itu adalah bagian dari tanggung jawab moral ulama, bukan ambisi politik.
Ia bahkan kerap ditawari terjun ke politik praktis. Namun ia memilih tetap berada di jalur pengabdian. “Dalam bahasa Aceh itu ada kata-kata ‘ngui ban laku tuboh, pajoh ban laku atra’. Kita harus tahu diri dalam konteks tertentu,” tegasnya. Ia menolak menjadikan perbedaan politik sebagai dasar dakwah. Prinsip persatuan dan kemaslahatan umat menjadi pegangan utama.
Regenerasi dan Pesan untuk Generasi Muda
Dalam hal regenerasi, Abu Sibreh tidak memaksakan anak-anaknya untuk meneruskan pesantren. Ia memberi kebebasan, namun berharap ada generasi yang menjaga dan mengembangkan lembaga tersebut. “Prinsipnya, lembaga pendidikan ini harus tetap jalan walaupun kita ini sudah tidak ada lagi di bumi ini,” ujarnya.
Kepada generasi muda, ia selalu menekankan pentingnya ilmu. “Ilmu dulu, uang itu akan mengikuti,” katanya. Dari keluarga biasa di Lamno hingga menjadi ulama rujukan Aceh, perjalanan Abu Sibreh menunjukkan bahwa pengabdian lahir dari kesungguhan, bukan semata garis keturunan. Dengan kesabaran dan keteguhan pada ilmu, ia menapaki jalan panjang sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, persatuan, dan kemaslahatan umat.