Ucapan Terima Kasih yang Berarti Tindakan, Bukan Sekadar Kata

admin
6 Min Read

Kuru’ Sumange’: Ungkapan Terima Kasih yang Melampaui Kata-Kata

Kuru’ sumange’ adalah ungkapan terima kasih masyarakat Bugis yang maknanya melampaui kata-kata. Masyarakat Bugis lebih mengedepankan balas budi yang adil daripada sekadar ucapan manis. Sayangnya, ungkapan kuru’ sumange’ kian terlupakan oleh kaum muda, berisiko menghilangkan sistem etika lokal.

Banyak orang luar menganggap bahwa orang Bugis, Sulawesi Selatan, “kurang tahu berterima kasih”. Anggapan ini menyeruak karena orang Bugis jarang melontarkan kata-kata manis atau ekspresi verbal yang berlebihan saat menerima bantuan di kehidupan sehari-harinya. Namun, menganggap orang Bugis tidak tahu terima kasih adalah kesalahpahaman budaya yang fatal. Sesungguhnya, masyarakat Bugis memiliki sistem timbal balik (reciprocity) yang jauh lebih kompleks daripada tata krama verbal. Mereka tidak sekadar “mengucapkan” terima kasih, tetapi “melakukan” tindakan balasan.

Dalam tradisi Bugis, ucapan terima kasih bukan sekadar pemanis bibir, melainkan sebuah tindakan etis untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial dan spiritual. Hal ini berkaitan dengan konsep siri’ na pacce yang menjadi landasan etika dalam pemulihan hubungan sosial masyarakat Bugis-Makassar.

Sayangnya, wujud verbal dari tradisi ini, seperti ungkapan kuru’ sumange’ (yang mengandung doa baik), kini terancam punah karena tergilas urbanisasi dan dominasi bahasa nasional. Generasi muda Bugis di pusat kota Makassar, bahkan di daerah Soppeng, Bone atau Wajo, lebih akrab dengan “makasih”, “thanks”, atau sekadar anggukan kepala.

Padahal, bahasa daerah mengajarkan kita bahwa hubungan antarmanusia bukan sekadar pertukaran informasi, tetapi pertukapan energi batin. Menghidupkan kembali ungkapan seperti kuru’ sumange’—atau setidaknya memahami filosofinya—adalah cara kita merawat kemanusiaan di tengah dunia yang semakin transaksional.

Apa Itu Kuru’ Sumange’?

Sejak kecil, saya akrab dengan ungkapan kuru’ sumange’ dari ibu dan nenek, setiap kali saya memberikan sesuatu kepada mereka. Secara harfiah, ungkapan ini sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Sebab, ia melampaui arti dari frasa “terima kasih”.

Dalam telusuran asal-usul (kosmologi) Bugis-Makassar, sumange’ adalah semangat hidup, jiwa, atau energi kreatif yang menghidupkan alam semesta dan tubuh manusia. Menurut antropolog Amerika Serikat (AS) Shelly Errington, sumange’ bersifat rentan; ia bisa hilang karena kejutan, ketakutan, atau kelelahan. Karena itu, sumange’ harus terus dirawat, dipanggil, dan dikuatkan.

Cara merawat sumange’ dalam tradisi Bugis dilakukan melalui ritual, doa, dan pemberian perhatian kepada kondisi spiritual seseorang. Ketika seseorang sakit, lelah, atau mengalami peristiwa yang mengguncang, keluarga akan mengucapkan doa dan ungkapan seperti “kuru’ sunge’mu ana ‘” (semoga sembuh jiwamu, anakku) untuk mengembalikan kekuatan sumange’.

Artinya, ketika seseorang mengucapkan kuru’ sumange’ saat menerima pemberian, ia tidak sedang bersikap pasif. Ia sedang aktif memberikan balasan yang sangat berharga: sebuah doa agar semangat hidup (sumange’) si pemberi tetap utuh, kuat, dan langgeng. Ini adalah bentuk pertukaran yang adil. Kamu memberi materi, saya membalas dengan penguatan spiritual.

Berterima Kasih Melalui Tindakan

Meskipun kuru’ sumange’ menghilang dalam praktik masyarakat Bugis saat ini, bukan berarti mereka tidak tahu berterima kasih. Ada pergeseran cara yang muncul dalam mengekspresikan terima kasih. Orang Bugis berterima kasih melalui perbuatan.

Hal ini paling jelas terlihat dalam etika “piring tetangga”. Ketika tetangga mengantar makanan, ada aturan tak tertulis tapi mengikat: piring atau wadah tersebut pantang dikembalikan dalam keadaan kosong. Jika ada makanan balasan, piring itu diisi. Jika tidak ada, piring sering kali dikembalikan tanpa dicuci—sebuah simbol halus yang bermakna “maaf, belum ada isinya”. Mengembalikan piring kosong yang bersih dianggap memutus siklus kebaikan dan melukai siri’ (harga diri/martabat).

Meskipun kini wadah antaran telah berubah dari baki cantik bertutup kain menjadi kantong plastik atau kotak mika, prinsipnya tetap sama: kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Ini selaras dengan sebuah filsafat bahasa Bugis mappabati gau’ (kata mewujudkan perbuatan). Bahasa tidak berhenti pada bunyi. Kata baru bernilai ketika ia menjelma menjadi tindakan.

Artinya, diamnya orang Bugis saat menerima bantuan sering kali bukan karena tak acuh, melainkan karena mereka sedang mempersiapkan “balasan” yang lebih nyata daripada sekadar kata-kata.

Bahasa Menjaga Kemanusiaan

Esensi dan konsep “balasan” memang masih hidup dalam praktik budaya Bugis. Tapi kepunahan ungkapan verbal seperti kuru’ sumange’ tetaplah sebuah kehilangan besar. Ketika kita beralih sepenuhnya ke “terima kasih” yang standar, kita kehilangan nuansa kepedulian mendalam yang ada dalam bahasa daerah.

Apa yang terjadi pada kuru’ sumange’ mencerminkan nasib banyak bahasa daerah di Indonesia. Misalnya, bahasa Hulung dari Maluku, bahasa Enggano dari Bengkulu, bahasa Reta dari Alor, dan puluhan bahasa daerah lainnya yang terancam punah. Kita tidak hanya kehilangan kata, tetapi kehilangan sistem etika dan cara pandang dunia.

Karena itu, penting bagi kita untuk merawat ungkapan-ungkapan dalam bahasa daerah seperti kuru’ sumange’. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah pembelajaran bahasa daerah dalam pendidikan formal sejak dini, pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk konten bahasa daerah, melibatkan generasi muda dalam festival dan lomba bahasa ibu. Ada juga upaya yang terpenting: menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-harinya di keluarga.

Jadi ketika kamu bertemu orang Bugis, jangan buru-buru menilai mereka tidak tahu terima kasih. Mungkin mereka hanya sedang mempersiapkan “balasan” yang nilainya lebih nyata. Karena pada akhirnya, terima kasih terbaik adalah yang menjaga semangat hidup (sumange’) sesama agar tetap menyala.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *