Uji Kejujuran dengan Sarkasme
Dalam sebuah momen tak terduga, Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, melakukan pengujian kejujuran kepada seorang warga bernama Ainul Hidayat. Alih-alih ingin mengetahui kesaksian warga tersebut soal kondisi infrastruktur jalan yang dirasakan masyarakat secara langsung, Dedi justru menguji warga tersebut dengan sarkasme.
Sarkasme adalah majas sindiran menggunakan kata-kata pedas, kasar atau cemoohan untuk menyindir, mengejek dan menyakiti orang lain secara langsung. Dalam konteks ini, Dedi Mulyadi justru menggunakan sarkasme terhadap dirinya sendiri untuk menguji kejujuran dari warga tersebut.
Pada saat itu, Dedi Mulyadi sedang melakukan inspeksi jalan mengendarai sepeda motor dari Subang ke Pangandaran. Kemudian, ia tak sengaja bertemu Ainul di jalan saat hendak mencari kayu bakar (suluh) di kawasan hutan. Rupanya, Ainul sehari-hari bekerja mencari nafkah dengan mengumpulkan kayu bakar untuk dijual.
“Kalau dijual per ikat paling Rp50.000. Sehari dapat segitu, Alhamdulillah,” ujar Ainul Hidayat.
Kemudian, Dedi Mulyadi bertanya soal kondisi jalan di wilayah tersebut. Ainul pun langsung menjawab bahwa kini kondisi Jalan Provinsi Jawa Barat di sekitar Ujung Jaya, Sumedang itu sudah bagus. Lantas, Dedi Mulyadi bertanya siapa sosok Gubernur Jawa Barat.
Dalam pertemuannya itu, Ainul tampak belum mengetahui bahwa orang yang berbicara dengannya adalah Gubernur Jawa Barat itu sendiri. Bahkan Ainul mengaku belum pernah bertemu secara langsung dengan Gubernur-nya tersebut.
“Belum pernah, tapi katanya baik. Jalannya bagus semua,” ujar Ainul Hidayat memuji.
Mendengar jawaban dan mendapati kondisi Ainul yang tak sadar sedang berbicara langsung dengannya Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menguji dengan memancing Ainul untuk menjelekkan namanya sendiri.
Kepada Ainul, Dedi Mulyadi mengaku bahwa dirinya seorang pengamat politik. Alih-alih menyamar menjadi pengamat politik, Dedi Mulyadi melakukan sarkasme, ia meminta warga menjelekkan nama Gubernur Jawa Barat (nama besar dan jabatan yang sedang diembannya).
Dedi memancing dengan menyebut bahwa Gubernur Jabar tersebut hanya Gubernur Konten.
“Eta Gubernur teh goreng, jelek. Saya pengamat politik, Gubernur yang terjelek itu Gubernur Jawa Barat,” ujar Dedi Mulyadi sarkas terhadap dirinya sendiri.
Sementara itu, Ainul yang belum sadar menjawab santai bahwa kelakuan seorang Gubernur pun tergantung warganya.
“Goreng henteu na kumaha warga na pak,” ujar Ainul.
Ainul pun menjelaskan bahwa selama ini dalam kontestasi politik akan ada pihak yang menjatuhkan satu sama lain. Namun, Dedi Mulyadi tetap menguji bahwa bukti Gubernur juga tak kerja, salah satunya rakyat tak diperhatikan dan tak dalam kondisi susah.
“Contohnya bapak hanya dapat uang Rp 50 ribu per hari, itu bukti Gubernur tak memperhatikan rakyat,” ujar Dedi Mulyadi.
Namun, Ainul tetap berpegang pada prinsipnya bahwa ia tak berani. Ia menyebut bagaimana pun Gubernur adalah sosok pemimpin.
“Wah enggak mau pak, namanya kepala pemerintah tetap harus saya bela pak,” ujar Ainul.
Ainul menjelaskan bahwa kepala daerah dipilih oleh rakyat. Menurutnya jika ia menghina Gubernur Jawa Barat maka secara tak langsung ia pun menghina warga Jawa Barat. Tak sampai di sana, Dedi Mulyadi kembali sarkas bahwa kinerja Gubernur Jawa Barat menutup tambang.
Namun, Ainul tak kehabisan jawaban. Menurutnya bahwa adanya pertambangan itu justru merusak alam. Kemudian Ainul juga menceritakan kebaikan Dedi Mulyadi setelah menjadi Gubernur soal study tour yang menurutnya berdampak baik.
Dedi pun kembali menawarkan Ainul untuk menjelekkan nama Gubernur Jawa Barat dengan imbalan naik Rp 2 juta hingga Rp 20 juta. Namun, Ainul tetap berpegang pada prinsipnya bahwa ia tak berani.
“Saya tidak mau pak, saya tak berani. Meskipun saya punya hak, saya tidak berani melawan pemimpin dan rakyat Jawa Barat,” tegas Ainul.
Akhirnya, Dedi Mulyadi meminta Ainul menyebut Jawa Barat Istimewa (visi Dedi Mulyadi). Kemudian memberikan uang Rp20 juta itu kepada Ainul.
Dari momen tersebut, dapat terlihat bahwa Ainul Hidayat sebagai masyarakat memiliki pandangan yang sangat teguh dan berprinsip mengenai nilai seorang pemimpin bagi rakyatnya. Ainul percaya bahwa seorang pemimpin, seperti Gubernur Jawa Barat, adalah pilihan rakyat.
Oleh karena itu, menghina atau menjelekkan pemimpin tersebut sama saja dengan menghina rakyat yang telah memilihnya. Ainul juga merasa memiliki kewajiban moral untuk membela kepala pemerintahannya karena jabatan tersebut harus dihormati.
Baginya, meskipun ada anggapan bahwa kinerja pemimpin tersebut buruk, ia tetap harus dibela sebagai simbol pemerintahan yang sah. Ainul berpendapat bahwa baik atau buruknya kinerja seorang pemimpin, ia tetaplah pemimpin bagi rakyatnya karena merupakan hasil dari pilihan demokratis.
Ia menganggap segala kekurangan pemimpin tersebut sebagai risiko dari pilihan rakyat yang harus diterima. Ainul juga memiliki prinsip moral. Meskipun hidup dalam keadaan susah dan hanya berpenghasilan Rp50.000 per hari, Ainul menolak keras tawaran uang hingga Rp20 juta hanya untuk menjelekkan pemimpinnya.
Ainul membedakan antara hak rakyat untuk mengkritik dan tindakan menghina. Ia menyatakan bahwa meskipun rakyat boleh mengkritik pemerintah, ia secara pribadi tidak berani dan tidak mau melakukan penghinaan terhadap sosok pemimpin.
Demikian dialog Dedi Mulyadi dan Ainul ini menyoroti integritas dan loyalitas warga yang tidak mudah goyah oleh iming-iming materi demi menjatuhkan martabat orang lain.