Kegiatan Sosial di Bulan Ramadan
Sepuluh hari terakhir Ramadan semakin memperkaya suasana dengan berbagai kegiatan sosial. Di saat sebagian umat Muslim memilih untuk beriktikaf di masjid demi mencari lailatulqadar, ada jalan lain yang membuka pintu rida Sang Pencipta. Jalan tersebut penuh dengan kerja keras, keringat, namun memiliki kesucian yang sama: jalan kemanusiaan.
Salah satu aktivitas yang paling terasa selama Ramadan adalah meningkatnya rasa kepedulian sosial di tengah masyarakat. Banyak orang terdorong untuk membantu sesama melalui berbagai kegiatan sosial. Mereka berkumpul dalam komunitas berbagi makanan berbuka puasa hingga memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Beberapa bentuk kepedulian yang sering terlihat selama Ramadan antara lain:
* Membagikan takjil kepada pengguna jalan
* Pemberian sembako
* Layanan kesehatan gratis
Pengamat sosial dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Hery Wibowo menyatakan bahwa Ramadan merupakan bulan yang istimewa, tidak hanya bagi umat Muslim, tetapi juga bagi masyarakat umum di Indonesia. Menurut dia, hal itu ditandai dengan berbagai tradisi masyarakat.
“Jadi Ramadan memang bulan spesial. Untuk di Indonesia bukan hanya menyentuh religi, tapi ini juga sudah membudaya. Jadi banyak kegiatan masyarakat yang muncul atau yang lahir, kemudian menjadi tradisi di bulan Ramadan selama bertahun-tahun,” kata Hery di Bandung, Jumat 13 Maret 2026.
Dia mencontohkan, tradisi pulang kampung yang bukan berakar dari perspektif religi, tetapi lebih kepada sosiologi. Demikian pula dengan kegiatan sosial, yang dipengaruhi faktor budaya, selain juga diperkuat oleh faktor agama karena Ramadan merupakan bulan penuh berkah.
“Namun, di Indonesia kita juga mengenal tradisi panjat sosial, yang bisa memanfaatkan di setiap momen juga. Kita tidak mengatakan bahwa itu pasti negatif, tapi kalau memberikan bantuan sambil ingin ‘tampil’, maka kita menduga ada motif lain,” katanya.
Terlepas dari hal itu, Hery mengatakan, Ramadan betul-betul menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengoptimalkan berbagai hal, termasuk kegiatan sosial. “Jadi memang sudah tercampur aduk, dari religi, budaya, dan lain-lain,” katanya.
Dorongan Berbagi
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Miryam A Sigarlaki, M.Psi., Psikolog mengatakan, selama Ramadan, fenomena kegiatan sosial memang indah. Hal tersebut bukan hal yang kebetulan, tapi sangat manusiawi, bermakna, dan kuat.
Dari sisi psikologis, intensitas kegiatan bakti sosial sangat tinggi, karena Ramadan bukan hanya mengubah pola makan. Akan tetapi, mengubah cara manusia merasakan, memaknai, dan terhubung dengan orang lain.
Miryam menyebutkan, puasa meningkatkan empati. Saat menahan lapar, haus, dan kenyamanan, seseorang akan lebih dekat secara emosional dengan pengalaman mereka yang setiap hari hidupnya dalam kekurangan.
“Lapar yang biasanya hanya reaksi fisik, saat Ramadan berubah menjadi jembatan psikologis untuk memahami penderitaan orang lain. Dari sinilah lahir dorongan membantu, berbagi, dan peduli,” tutur Miryam.
Miryam pun mengatakan, Ramadan menggerakkan kesadaran moral dan spiritual. Banyak orang yang lebih reflektif dan sering bertanya pada diri sendiri, misalnya ‘sudahkah saya menjadi manusia yang lebih baik?’.
Pertanyaan seperti ini sebenarnya membangunkan sisi proporsional dalam diri. Ada kenginan untuk berbuat baik, memberi makna, dan meninggalkan jejak kebaikan.
Menurut Miryam, ada pengaruh norma sosial yang sangat kuat, ketika lingkungan dipenuhi ajakan baik, maka perilaku baik semakin menular. Dalam psikologi sosial, manusia memang cenderung berbuat kebaikan ketika kebaikan hidup dalam budaya sekitarnya.
“Ramadan memperkuat rasa kebersamaan dan identitas secara kolektif atau kebersamaan. Orang merasa menjadi bagian sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ketika identitas kolektif meningkat, orang cenderung lebih rela berkorban, membantu, dan hadir untuk sesama,” ungkap Miryam.
Kepedulian Sosial
Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) Jawa Barat sekaligus Pengurus Masjid Agung Bandung, Dr. K.H. R. Edi Komarudin, M.Ag., memandang fenomena maraknya bakti sosial, pembagian sembako, hingga santunan anak yatim di penghujung bulan suci sebagai sebuah manifestasi ketaatan yang paripurna.
“Jadi, puasa ini kan bukan hanya punya dimensi vertikal, mendekatkan diri kepada Allah saja, tetapi juga merawat hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Salah satunya, ya dengan memberikan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan,” ujar pria yang akrab disapa Ajengan Edi tersebut kepada “PR” di Bandung, Jumat 13 Maret 2026.
Laku sosial ini sejatinya memiliki akar sejarah dan spiritualitas yang amat kuat dalam lanskap tradisi Islam. Kedermawanan di bulan Ramadan bukanlah sekadar aksesori ibadah, melainkan warisan keteladanan langsung dari manusia paling mulia, Rasulullah saw.
“Nabi sendiri menampakkan kemurahan hatinya justru lebih-lebih pada saat berpuasa di bulan Ramadan,” tutur Ajengan Edi.
Pernyataannya berkelindan erat dengan riwayat sahih dari Ibnu Abbas r.a., yang merekam jejak kedermawanan Sang Nabi: “Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat Jibril menemuinya… Sungguh, Rasulullah saw. lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (H.R. Bukhari).
Analogi “angin yang berhembus” mengisyaratkan bahwa kebaikan Rasulullah di bulan puasa menyentuh siapa saja tanpa pandang bulu, menyejukkan dahaga kaum duafa dengan cepat dan menyeluruh.
Lebih dari sekadar anjuran moral, kepedulian sosial melalui zakat, infak, maupun sedekah di bulan ini menjanjikan pelipatgandaan pahala yang eskatologis. Alquran secara puitis dan matematis menggambarkan investasi kemanusiaan ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Bagi Ajengan Edi, ganjaran Tuhan yang tak terbatas itu sudah selayaknya menjadi motivasi utama di balik setiap aksi kerelawanan. Di tengah himpitan ekonomi yang kerap mencekik rakyat kecil menjelang hari raya, uluran tangan para dermawan adalah jawaban atas doa-doa sunyi mereka di sepertiga malam.
“Kegiatan-kegiatan sosial semacam bakti sosial, santunan yatim, santunan duafa itu, luar biasa dampaknya. Mungkin, inilah salah satu di antara cara untuk menyempurnakan kewajiban ibadah puasa kita,” katanya.