Kehidupan di Tengah Banjir: Kisah Yanti di Gang Merpati
Yanti (52), seorang warga Gang Merpati, Pangkalpinang, telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya dalam situasi yang sering kali dianggap sebagai tantangan. Ia tinggal di wilayah yang dikenal rawan banjir, yaitu Kelurahan Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari. Meskipun begitu, ia tidak pernah berpikir untuk pindah.
Gang Merpati memang menjadi salah satu titik yang sering terkena dampak banjir. Namun, bagi Yanti, tempat ini memiliki nilai-nilai yang sangat penting. “Tanah di Pangkalpinang mahal. Lagian rumah ini dekat pasar, dekat ke mana-mana. Enak tinggal di sini,” katanya sambil tersenyum kecil.
Ia sudah tinggal di rumah ini sejak 1996, dan sejak saat itu, banjir menjadi bagian dari kehidupannya. Setiap musim hujan, khususnya pada bulan Oktober, November, dan Desember, air mulai naik dan mengancam kehidupan sehari-harinya.
Di dalam rumahnya, Yanti tampak sibuk mengatur tumpukan pakaian yang ia letakkan di atas kasur yang sudah tinggi. Kasur tersebut sengaja ia tinggikan, ditopong oleh kursi dan kayu-kayu lain. Bahkan, bagian kamar tidur lainnya memiliki ranjang yang dibuat jauh lebih tinggi, hampir menyentuh langit-langit. Menurutnya, ranjang tinggi ini menjadi benteng terakhir ketika air mulai naik.
“Setiap tahun pasti ada banjir, pasti ada yang parah. Paling tidak setinggi betis orang dewasa,” ujar Yanti. Ia juga mengingat banjir besar tahun 2016 yang merendam seluruh bagian rumahnya hingga membuat kesulitan menyelamatkan barang-barang.
Sejak peristiwa itu, ia dan keluarga sepakat membuat ranjang tinggi sebagai penyelamat. Meski sudah puluhan kali menjadi korban banjir, Yanti tidak pernah berniat pindah. Baginya, banjir bukan alasan untuk meninggalkan tempat yang sudah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.
Rutinitas seperti ini menjadi bagian dari perjuangan Yanti. Meski sederhana, ia tetap menjalani hidup dengan tabah. Di rumah kecil itulah ia membesarkan keluarga, menggantungkan hidup dari warung sederhana, dan menjalani hari-harinya dengan keyakinan bahwa semangat dan kekuatan bisa tumbuh meski di tengah tantangan.
Meski sudah terbiasa menghadapi banjir, Yanti tidak menutup hati untuk berharap pada perubahan. Ia berharap pemerintah bisa membantu mengurangi risiko banjir di kawasan tempat tinggalnya. “Kalau bisa, tolong dibantu supaya daerah kami ini tidak banjir lagi. Kasihan warga di sini setiap tahun pasti kena.”
Siaga 24 Jam di BPBD Pangkalpinang
Penghujung tahun 2025 menjadi masa penuh waspada bagi warga Bangka Belitung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pangkalpinang menyiagakan sebanyak 95 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Pangkalpinang dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (P2K) BPBD Kota Pangkalpinang, Nur Ikhsan, mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung hingga Februari 2026, dengan puncak intensitas hujan dan angin kencang pada November 2025.
Sebanyak 95 personel TRC tersebut dibagi menjadi empat regu, terdiri dari tiga regu lapangan dan satu regu sekretariat. Masing-masing regu memiliki tugas berbeda, mulai dari pemantauan lapangan, evakuasi warga terdampak, hingga koordinasi administrasi di posko utama.
Selain siaga penuh, BPBD juga mengintensifkan patroli rutin pagi, siang, dan malam di berbagai titik rawan genangan air. Langkah ini dilakukan untuk memantau kondisi lingkungan sekaligus menampung laporan masyarakat terkait potensi bencana.
“Kami juga melakukan diversifikasi oleh tim surveyor dan logistik untuk memetakan kebutuhan di lapangan,” tambah Nur Ikhsan. Langkah kesiapsiagaan ini merupakan bagian dari upaya BPBD dalam mengantisipasi potensi banjir, genangan air, serta bencana hidrometeorologi lainnya yang kerap terjadi selama musim hujan dengan curah tinggi.
BPBD juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah dataran rendah dan dekat aliran sungai. Masyarakat diminta segera melapor ke posko BPBD jika terjadi bencana atau potensi bahaya di lingkungan sekitar.
“Kami berharap masyarakat tetap tenang namun waspada. Jika menemukan tanda-tanda potensi bencana, segera hubungi posko BPBD agar bisa segera kami tindak lanjuti,” tegasnya.
Dengan cuaca ekstrem yang diprediksi masih berlangsung hingga awal tahun depan, BPBD Kota Pangkalpinang menegaskan komitmennya untuk siaga 24 jam penuh dalam melindungi masyarakat dari berbagai potensi bencana alam.