Transformasi Sampah Menjadi Energi di Surabaya
Setiap hari, kota Surabaya menghasilkan ribuan ton sampah. Angka ini kini telah mencapai sekitar 1.800 ton per hari, jumlah yang bagi banyak kota bisa menjadi mimpi buruk lingkungan. Namun, di Kota Pahlawan, gunungan sampah justru diolah menjadi berkah. Alih-alih menumpuk dan mencemari udara, sampah kini menjadi sumber energi listrik yang menopang gaya hidup kota modern dan ramah lingkungan.
Transformasi ini mengubah cara pandang warga. Tempat pembuangan akhir yang dulu identik dengan bau dan kumuh, kini menjadi simbol kebanggaan Surabaya sebagai kota yang berani melangkah lebih maju dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Kesuksesan Benowo yang Mendunia
Jantung perubahan itu berada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo. Di lokasi ini, Surabaya menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste to Energy (WTE).
Pemimpin kota, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut capaian tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah pengelolaan sampah Surabaya. “Alhamdulillah pengolahan sampah di Surabaya ini jadi percontohan,” katanya saat dikonfirmasi di Surabaya.
PLTSa Benowo kini mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sekitar 9 megawatt (MW), menjadikan Surabaya rujukan nasional dalam pengolahan sampah menjadi energi.
Mengapa Butuh PLTSa Kedua?
Meski sukses, tantangan ke depan tidak kecil. Volume sampah Surabaya terus meningkat seiring pertumbuhan kota dan aktivitas warganya. Dengan timbulan harian mencapai 1.800 ton, kapasitas PLTSa Benowo dinilai tak lagi cukup untuk jangka panjang.
Karena itu, Pemkot Surabaya mengusulkan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) kedua, sebagai bagian dari langkah menuju target Surabaya bebas sampah pada 2030.
Fasilitas baru ini ditargetkan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari dengan produksi listrik hingga 20 MW, jauh lebih besar dibandingkan PLTSa Benowo.
Dampak Langsung ke Warga Surabaya
Bagi warga, kehadiran PLTSa bukan sekadar urusan teknis. Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bau menyengat di sekitar TPA berkurang, kualitas udara membaik, dan lingkungan menjadi lebih sehat.
Selain itu, listrik yang dihasilkan dari sampah menjadi simbol energi bersih, mendukung citra Surabaya sebagai kota terbersih yang tak hanya rapi secara visual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungannya.
Cara Sampah Berubah Jadi Listrik
Di PLTSa, sampah yang masuk tidak lagi ditimbun. Sampah diproses dengan teknologi pembakaran terkendali bersuhu tinggi. Panas yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghasilkan uap, yang selanjutnya menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Abu sisa pembakaran dikelola kembali agar tidak mencemari lingkungan. Dengan sistem ini, volume sampah menyusut drastis, sekaligus menghasilkan energi listrik yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Untuk PSEL kedua, proyek akan dikerjakan pemerintah pusat melalui skema build-operate-transfer (BOT) selama 30 tahun dengan estimasi anggaran Rp1,5–2 triliun. Nantinya pusat yang mengerjakan semuanya, mulai dari studi kelayakan, pembangunan, sampai pengelolaan. Kita tinggal mengirim sampah saja.
Tuai Sorotan WALHI
Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) kedua di Surabaya mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur. Menurut lembaga ini, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) menyimpan risiko jangka panjang.
Sampah diperlakukan sebagai bahan bakar yang harus terus tersedia, sehingga berpotensi melemahkan budaya reduce, reuse, recycle (3R). PLTSa tidak menyelesaikan akar masalah. Sampah hanya dibakar di TPA, bukan dikurangi dari sumbernya.
Peran Warga dalam Pengelolaan Sampah
Di balik teknologi canggih PLTSa Benowo, peran warga tetap menjadi fondasi utama. Kebiasaan memilah sampah dari rumah akan meringankan beban pengolahan di TPA dan meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga sampah.
Dengan kolaborasi antara teknologi modern dan kesadaran warga, Surabaya membuktikan bahwa sampah bukan lagi musuh kota, melainkan sumber energi masa depan yang membanggakan.
