Belajar dari Letusan Krakatau 1883: Perilaku Hewan sebagai Tanda Bencana

Eka Syaputra
6 Min Read


Bencana katastropik yang terjadi di Sumatra pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 lalu meninggalkan banyak pertanyaan seputar krisis ekologi yang luas. Selain menimbulkan korban jiwa hingga lebih dari 1.200 orang, banjir bandang tersebut juga menyebabkan kematian seekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) yang ditemukan dalam kondisi terkubur di bawah timbunan lumpur dan kayu di Pidie Jaya, Aceh.

Analisis mengenai kematian gajah tersebut menunjukkan tingginya kerusakan ekologi yang berkorelasi dengan skala bencana. Namun, dari sudut pandang perilaku hewan, kematian gajah ini menunjukkan keanehan yang tidak biasa. Gajah adalah salah satu spesies yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dan kemampuan untuk bertahan hidup serta mendeteksi bahaya. Dalam peristiwa Tsunami Aceh pada 2004, tidak ada gajah yang menjadi korban. Hal ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah perilaku satwa bisa digunakan sebagai indikator dini bencana alam?

Pengamatan tentang anomali perilaku satwa sering muncul setiap kali terjadi bencana. Namun, narasi ini biasanya hanya menjadi penguat tanda-tanda bencana, bukan sebagai alarm atau prosedur pencegahan. Indonesia, yang secara geografis berada di zona rawan bencana, memiliki berbagai spesies satwa yang mungkin bisa menjadi sinyal dini untuk aktivitas seismik maupun vulkanik.

Beberapa tulisan mengenai potensi ini telah muncul di berbagai media massa, terutama dalam ranah ilmu terapan. Selain itu, kajian sejarah juga memberikan data tentang anomali perilaku satwa pada bencana di masa lalu. Misalnya, erupsi Krakatau pada 1883 memberikan narasi bahwa anomali satwa sudah dianggap sebagai gejala awal kondisi bumi yang tidak stabil, meskipun belum dianggap sebagai indikator resmi.

Satwa-Satwa yang Berperilaku Aneh

Erupsi Krakatau pada 27 Agustus 1883 adalah salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern. Bencana ini menewaskan sekitar 4.000 orang akibat gelombang tsunami dan jutaan kubik abu vulkanik yang merusak ekosistem. Selain tanda-tanda geologis, beberapa kesaksian mencatat adanya anomali perilaku satwa sebelum, selama, dan setelah letusan.


Film Krakatoa: The Last Days yang dirilis pada 2006 menampilkan visualisasi fenomena tersebut, didampingi oleh pendapat para ahli Belanda, termasuk seorang geolog bernama Rogier Verbeek. Ia menerima laporan tentang keganjilan perilaku satwa, seperti kuda yang mengamuk, ayam yang tidak bertelur, dan burung-burung yang tidak terlihat di pohon. Johanna Beyenrick, istri dari pemilik perkebunan William Beyerick, melaporkan hal-hal tersebut saat tinggal di Pantai Anyer, dekat lokasi letusan.

Setelah letusan, Verbeek sendiri mencatat pengalaman aneh pada satwa peliharaannya, seperti perilaku gelisah dan enggan keluar rumah. Simon Winchester dalam buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2006) menjelaskan keganjilan perilaku gajah kecil milik Wilson’s Great World Circus yang tampil di Batavia sejak awal Agustus 1883.

Kisah unik terjadi ketika pawang bernama Miss Nanette Lochart mencoba menenangkan gajah yang ‘ngamuk’ selama pertunjukan. Ia menyembunyikan gajah tersebut di kamar hotel, tetapi gajah itu malah mengobrak-abrik kamar dan menyebabkan kepanikan penghuni lainnya.

Pertarungan antara Takhayul dan Sains

Perilaku satwa di sekitar letusan Krakatau menimbulkan debat antara takhayul dan sains. Beberapa masyarakat lokal menganggap gemuruh Krakatau sebagai manifestasi kemarahan makhluk yang diyakini tinggal di gunung tersebut. Film Krakatoa juga menyertakan penelaahan naskah Pustaka Raja Purwa (dibuat pada abad ke-15), yang memberi informasi bagi para geolog Belanda bahwa gunung tersebut pernah meletus besar di masa lalu.

Namun, geolog seperti Rogier Verbeek cenderung skeptis terhadap persepsi lokal, termasuk anomali perilaku satwa. Ia menganggapnya sebagai takhayul yang tidak bisa dipercaya. Simon Winchester menyadari bahwa perkembangan ilmu geologi akhir abad ke-19 belum cukup untuk memperhitungkan anomali satwa sebagai bentuk keilmiahan. Meski demikian, beberapa ilmuwan mulai percaya bahwa insting satwa memiliki akurasi dalam merespon perubahan di bumi.

Pertimbangan terhadap anomali satwa yang sudah diperdebatkan sejak akhir abad ke-19 nyatanya belum menjadi prosedur baku dalam mitigasi bencana. Padahal, banyak bencana besar terjadi di Indonesia dalam tiga abad terakhir. Di tingkat internasional pun, perilaku satwa belum menjadi sistem peringatan dini bencana, meskipun beberapa riset sudah diakui. Salah satunya adalah proyek ICARUS (International Cooperation for Animal Research Using Space), yang menggunakan satelit untuk melacak pergerakan satwa sebagai potensi alarm bencana alam.

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum secara resmi menerapkan perilaku satwa sebagai prosedur baku. Namun, pada erupsi Merapi pada November 2020, masyarakat di lereng Merapi mempertimbangkan perilaku monyet sebagai indikator untuk mengungsi. Dilansir dari Harian Jogja edisi 7 November 2020, masyarakat di Kelurahan Glagaharjo (Sleman) menyaksikan monyet-monyet turun gunung sebelum BPPTKG menaikkan status Merapi dari Waspada ke Siaga.

Secara umum, mempertimbangkan perilaku satwa sebagai indikator alami dalam sistem peringatan dini bencana merupakan langkah penting yang perlu dikembangkan. Sejarah menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu memberikan preseden penting dalam pengambilan keputusan manajemen risiko bencana. Dalam konteks ini, prinsip pembelajaran historis tidak hanya retrospektif, tetapi juga memiliki dimensi preventif dan mitigatif terhadap potensi bencana di masa depan.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *