Bung Towel, Pengamat Sepak Bola yang Kritis dan Lulusan Unpad

Lani Kaylila
5 Min Read

Kritik Tajam Bung Towel terhadap Manajemen Timnas U22 Indonesia

Bung Towel, sosok yang dikenal sebagai pengamat sepak bola nasional, melontarkan kritik keras terhadap manajemen Timnas U22 Indonesia setelah gagal lolos dari fase grup SEA Games 2025. Dalam pernyataannya di podcast NTV Sportcast, Jumat (12/12/2025) malam, ia secara khusus menyoroti peran Waketum PSSI, Zainudin Amali, yang dianggap sebagai penanggung jawab dan pimpinan proyek Timnas U22 Indonesia.

Kritik ini muncul setelah Timnas U22 Indonesia gagal memenuhi ekspektasi, meskipun memanggil empat pemain keturunan: Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, Dion Markx, dan Jens Raven. Menurut Bung Towel, performa tim tidak sesuai dengan harapan, baik dalam hal hasil maupun level permainan.

“Overall permainan jelek. Di awal banyak prediksi bahwa ini tim bagus dan kuat, apalagi bisa kalahkan Mali. Lalu mewah karena ada empat pemain naturalisasi. Saya paradoks ya, ini gagal,” ujar Towel.

Masalah Utama dalam Manajemen Timnas U22

Menurut Bung Towel, kegagalan Timnas U22 berakar pada dua persoalan utama, yakni aspek kepelatihan dan favoritisme dalam penunjukan tim pelatih. Ia membandingkan durasi pemusatan latihan (training center/TC) yang dinilai lebih panjang dibandingkan ajang lain, namun tidak berbanding lurus dengan performa di lapangan.

Dirinya juga mengutip pernyataan Sumardji selaku manajer tim yang sempat menyebut suasana tim mirip era Shin Tae-yong, tetapi hasil yang didapat justru jauh dari harapan. Selain itu, Bung Towel mengkritisi pendekatan taktik yang dinilainya terlalu monoton.

Pesepak bola Timnas U22 Indonesia Toni Firmansyah (kiri) berupaya melewati adangan pesepak bola Timnas Myanmar Oakkar Naing (kedua kanan) pada pertandingan babak penyisihan Grup C Sepak Bola SEA Games 2025 di The 700th Anniversary of Chiang Mai Stadium, Chiang Mai, Thailand, Jumat (12/12/2025). ANTARA FOTO/NAY/sth/foc.(ANTARA FOTO/NAY)

Ia menyoroti ketergantungan pada lemparan ke dalam sebagai opsi utama serangan dan mempertanyakan kejelasan peran pemain, termasuk posisi Robi Darwis di dalam skema permainan.

“Ada kebingungan di seorang Indra Sjafri,” ujar Towel menyinggung pelatih kepala.

Pertanyaan terhadap Peran Zainuddin Amali

Bung Towel mempertanyakan pernyataan Zainudin Amali yang sebelumnya memuji Indra Sjafri sebagai pelatih bertangan dingin dengan track record bagus, pendekatan sports science, dan menargetkan medali emas. Zainudin Amali sebelumnya menegaskan bahwa pelatih dan pemain menargetkan medali emas SEA Games, berbeda dengan target Kemenpora yang perak.

Ia menilai pemilihan Indra Sjafri tidak melalui mekanisme berbasis kompetensi, melainkan dipengaruhi oleh faktor kedekatan dan favoritisme di tubuh Timnas SEA Games 2025.

“Menurut saya mentok, ada masanya. Ada risiko dalam peta kepelatihan sepak bola kita seolah tak ada pelatih lain,” ujarnya terkait seorang Indra Sjafri.

“IS punya track record bagus karena dia ada kesempatan dan yang lain tidak. Dan dia positioning-nya ada di dalam struktur PSSI. Persaingannya tidak fair. Itu yang saya kritisi, yang template ini.”

Towel bahkan menyinggung adanya pembagian faksi pasca-kegagalan Piala Dunia yang dinilainya turut memengaruhi pengambilan keputusan. Menutup pernyataannya, Towel menegaskan bahwa sebagai penanggung jawab utama Timnas U22 di SEA Games 2025, Zainuddin Amali tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas hasil buruk tersebut.

“Sebagai PIC untuk timnas ini adalah Amali, maka ia harus bertanggung jawab,” pungkas Towel.

Profil Bung Towel

Bung Towel memiliki nama asli Tommy Welly. Ia lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 5 Maret 1971. Bung Towel berasal dari keluarga yang mencintai olahraga. Ayahnya adalah mantan pemain sepak bola sekaligus pelatih klub sepak bola. Sejak kecil, Bung Towel sudah akrab dengan dunia sepak bola dan menaruh minat besar terhadap olahraga tersebut.

Bung Towel diketahui mengenyam pendidikan Sarjana jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) di Universitas Padjajaran (Unpad). Pria berusia 53 tahun itu mengawali kariernya sebagai seorang jurnalis olahraga. Dia sempat menjadi wartawan di harian umum Bandung Pos. Setelah itu, ia beralih menjadi komentator dan pengamat sepak bola tanah air.

Dahulu, Bung Towel sering dipercaya sebagai komentator pertandingan Indonesia Super League (ISL). Seiring berjalannya waktu, Bung Towel kemudian menjadi analis dan komentator sepak bola eropa. Ia kerap tampil sebagai komentator di Liga Champions dan di setiap laga Timnas Indonesia.

Tommy Welly sendiri juga tercatat sempat menjadi pengurus di dalam Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Dia tercatat pernah menjadi General Manager Football Development PSSI. Meski sempat aktif di televisi, Bung Towel juga terjun ke dunia YouTube melalui kanal GOCEK BUNGTOWEL.

Lewat kanal yang ia dirikan sejak Desember 2018, Bung Towel membagikan pandangan dan komentarnya seputar dunia sepak bola.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *