Fiqih Puasa di Tengah Ramadhan 1447 H: Siapa yang Wajib, Boleh Tidak Berpuasa, dan Cara Niat yang Benar

Hartono Hamid
6 Min Read

Menyambut Ramadhan 1447 H: Memahami Fiqih Puasa

Hitung mundur menuju Ramadhan 1447 Hijriah mulai terasa. Suasana menyambut bulan suci perlahan hadir, dari obrolan ringan soal jadwal puasa hingga persiapan kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan kalender Hijriah Kementerian Agama, awal puasa diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026. Namun, PP Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026. Adapun pemerintah akan mengumumkan secara resmi setelah sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari mendatang.

Di tengah penantian itu, ada satu hal yang tak kalah penting dari sekadar mengetahui tanggal mulai puasa: memahami kembali fiqihnya. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Di dalamnya ada aturan yang jelas tentang siapa yang wajib menjalankannya, serta siapa yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Karena itu, menjelang Ramadhan, menyegarkan lagi pemahaman tentang dasar-dasar puasa menjadi langkah yang bijak.

Syarat Wajib Puasa

Dalam fiqih, syarat wajib puasa adalah ketentuan yang membuat seseorang terkena kewajiban menjalankan ibadah ini. Artinya, tidak semua orang otomatis dibebani kewajiban berpuasa. Ada kriteria tertentu yang harus terpenuhi sebelum kewajiban itu berlaku. Ada tiga syarat utama yang membuat seseorang diwajibkan berpuasa:

  1. Muslim

    Seluruh umat Islam wajib menjalankan puasa Ramadhan. Kewajiban ini tertuang dalam Rukun Islam keempat, sama dengan kewajiban dalam bersyahadat, shalat lima waktu, membayar zakat, dan berhaji bagi yang mampu.

  2. Baligh

    Baligh didefinisikan sebagai seseorang yang sudah mencapai usia tertentu dan dianggap sudah dewasa, atau sudah mengalami perubahan biologis yang menjadi tanda-tanda kedewasaannya. Seseorang yang sudah baligh harus sudah mengetahui, memahami, dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Bagi laki-laki, dapat dikatakan baligh apabila dirinya sudah mengalami mimpi basah. Sementara perempuan telah mengalami menstruasi.

  3. Berakal

    Berakal di sini adalah seseorang yang tidak sedang mengalami gangguan kejiwaan atau dalam kata lain tidak mengidap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). ODGJ tidak diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Golongan yang Boleh Tidak Berpuasa

Adapun orang-orang yang boleh meningalkan puasa di Bulan Ramadhan sebagaimana disampaikan oleh Buya Yahya dalam video unggahan YouTube Al-Bahjah TV ada 9 orang atau golongan. Adapun kesembilan orang tersebut antara lain:

  1. Anak kecil yang belum baligh

    Anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa lantaran dianggap masih belum sempurna akalnya. Meski belum dibebankan kewajiban, namun bagi orang tua diwajibkan untuk mengajari anak-anak mereka berpuasa.

  2. Orang gila

    Orang gila juga tidak diwajibkan berpuasa lantaran tidak sempurna akalnya.

  3. Orang sakit

    Orang sakit yang diijinkan untuk meninggalkan puasa adalah mereka yang benar-benar berat untuk mengerjakan puasa karena sakitnya.

  4. Orang tua

    Orang tua yang sudah melemah kondisinya juga tidak diwajibkan lagi untuk berpuasa.

  5. Wanita sedang Haid

    Wanita yang sedang haid atau menstruasi tidak diwajibkan untuk berpuasa. Bahkan, menstruasi merupakan salah satu penyebab yang membuat puasa seseorang (khusus wanita) batal.

  6. Wanita sedang nifas

    Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Wanita yang sedang bernifas tidak diwajibkan berpuasa Ramadhan dan wajib menggantinya di lain waktu.

  7. Wanita sedang hamil

    Wanita yang sedang hamil dibolehkan untuk berbuka atau meninggalkan puasanya.

  8. Wanita sedang menyusui

    Bagi wanita atau ibu yang sedang menyusui anak dibolehkan untuk berbuka puasa.

  9. Musafir

    Golongan terakhir yang dibolehkan untuk berbuka puasa ialah musafir atau orang yang sedang bepergian jauh. Adapun yang tergolong sebagai musafir ialah mereka jarak tempuhnya 84 km atau lebih.

Syarat Sah Puasa

Selain syarat wajib puasa, ulama fiqh juga menjelaskan tentang syarat sahnya puasa. Syarat sah puasa yaitu syarat atau ketentuan yang menjadikan puasa seseorang dinilai sah secara syariat. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Islam

    Syarat sah puasa yang pertama ialah beragama islam.

  2. Berakal

  3. Suci dari haid dan nifas – ini khusus bagi kaum perempuan.

Rukun Puasa

Rukun puasa adalah hal-hal yang harus dilakukan saat menjalankan ibadah puasa. Dalam kitab Nihayatuzzain Bab Puasa seperti diterangkan oleh Abu Syekh H. Hasanoel Bashry HG, Mudir Lembaga Pendidikan Islam (LPI) MUDI Mesjid Raya Samalanga Kabupaten Bireuen dalam video unggahan YouTube MUDI TV, rukun puasa terdiri dari dua hal sebagai berikut:

  1. Niat

    Niat merupakan salah satu dari dua rukun puasa yang perlu dikerjakan. Niat puasa disyaratkan dilakukan setiap malam, sebelum esoknya berpuasa. Adapun bacaan niat puasa secara umum ialah sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

    “Nawaitu shauma ghodin ‘an adaa’i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta’aalaa.”

  2. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa

    Rukun puasa yang kedua adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa. Dimulai dari terbit fajar hingga waktu berbuka puasa.

Itulah ulasan seputar fiqih puasa, terutama soal golongan orang yang wajib dan tidak diwajibkan berpuasa. Semoga bisa menambah pengetahuan bagi yang belum mengetahui atau menjadi penyegar ingatan bagi yang sudah lupa.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *