Gunung Lewotolok Meletus, 64 Gempa dan Aliran Lava Tenggara

Hartono Hamid
4 Min Read

Kondisi Gunung Ili Lewotolok Saat Ini

Gunung Ili Lewotolok, yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, saat ini berada dalam status Level II atau Waspada. Pemantauan oleh petugas Posmat Gunung Ili Lewotolok Lembata, Syawaludin, menunjukkan bahwa gunung tersebut mengalami sejumlah aktivitas vulkanik dalam 24 jam terakhir, mulai dari tanggal 5 April 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 Wita.

Posisi geografis Gunung Ili Lewotolok adalah Latitude -8.272°LU dan Longitude 123.505°BT dengan ketinggian 1423 mdpl. Dalam laporan yang diterbitkan, disebutkan bahwa kondisi visual gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-II. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut.

Aliran Lava dan Aktivitas Gempa

Selain itu, teramati aliran lava ke arah tenggara sejauh kurang lebih 200 meter dari bibir kawah. Sementara itu, cuaca sekitar gunung masih cerah hingga mendung dengan suhu udara berkisar antara 25-32°C.

Dari pengamatan kegempaan, Gunung Ili Lewotolok mencatat sejumlah gempa letusan/erupsi sebanyak 64 kali dengan amplitudo 4.8-24.5 mm dan durasi gempa antara 30-57 detik. Selain itu, tercatat juga 2 kali gempa guguran dengan amplitudo 1.1-2.1 mm dan durasi gempa 59-76 detik. Terdapat pula 102 kali gempa hembusan dengan amplitudo 1.4-5.5 mm dan durasi gempa 24-55 detik.

Beberapa jenis gempa lainnya seperti gempa vulkanik dangkal dan dalam serta gempa tektonik lokal dan jauh juga tercatat. Gempa vulkanik dangkal memiliki amplitudo 28.9 mm dengan durasi 8 detik, sedangkan gempa vulkanik dalam memiliki amplitudo 29.8 mm dengan S-P 0.3 detik dan durasi 14 detik. Untuk gempa tektonik lokal, tercatat 4 kali dengan amplitudo 1.6-7.8 mm dan S-P 3.5-4.2 detik, sementara gempa tektonik jauh tercatat 3 kali dengan amplitudo 1-2.5 mm dan S-P 6.5 detik.

Rekomendasi untuk Masyarakat

Pihak berwenang memberikan beberapa rekomendasi kepada masyarakat sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, dan wisatawan. Pertama, masyarakat di sekitar gunung dan Desa Lamatokan serta Jontona tidak boleh memasuki radius 2 km dari pusat aktivitas gunung. Mereka juga diminta waspada terhadap potensi ancaman bahaya dari guguran/longsoran lava dari bagian timur puncak/kawah.

Kedua, masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok, pengunjung, pendaki, wisatawan, serta masyarakat Desa Jontona dan Todanara tidak boleh memasuki wilayah sektoral selatan dan tenggara sejauh 2,5 km dari pusat aktivitas gunung. Mereka juga diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya dari guguran/longsoran lava dari bagian selatan dan tenggara puncak/kawah.

Ketiga, masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok, pengunjung, pendaki, wisatawan, serta masyarakat Desa Amakaka tidak boleh memasuki wilayah sektoral barat sejauh 2,5 km dari pusat aktivitas gunung. Mereka juga diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya dari guguran/longsoran lava dari bagian barat puncak/kawah.

Keempat, masyarakat yang tinggal di sekitar lembah/aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Ili Lewotolok diminta selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar, terutama saat musim hujan. Untuk mencegah gangguan pernapasan akibat abu vulkanik, masyarakat dapat menggunakan masker pelindung mulut dan hidung serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.

Kesimpulan

Kondisi Gunung Ili Lewotolok yang saat ini dalam status Waspada menunjukkan adanya aktivitas vulkanik yang perlu diperhatikan. Masyarakat dan pengunjung di sekitar gunung harus tetap waspada dan mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh pihak berwenang untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *