Kekacauan Damai dan Ancaman Blokade Trump, Harga Minyak Tembus 100 Dolar

Hendra Susanto
4 Min Read

Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia Akibat Ancaman Blokade Selat Hormuz

Harga minyak mentah dunia kembali mengalami lonjakan tajam, melebihi angka 100 dolar AS per barel. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana untuk memblokade seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, yang berpotensi menyebabkan ketidakstabilan di pasar.

Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah brent, yang menjadi patokan internasional, meningkat sebesar 8 persen menjadi 102 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah AS juga melonjak 8 persen, mencapai 104 dolar AS per barel. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di pasar komoditas tetapi juga memberi dampak pada pasar modal.

Gagalnya Gencatan Senjata Picu Kenaikan Harga

Meskipun harga minyak saat ini masih di bawah level tertinggi yang pernah dicapai, situasi ini tetap menunjukkan fluktuasi besar. Sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah Trump membatalkan ancaman serangan ke Iran dan setuju untuk melakukan pembicaraan gencatan senjata. Namun, belum adanya kesepakatan permanen hingga mendekati tenggat waktu membuat harga kembali naik.

Saat ini, harga minyak sudah lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan pada 1 April lalu. Situasi ini diperparah oleh respons negatif pasar terhadap pidato Trump yang dinilai tidak menjelaskan secara rinci strategi keluar dari konflik tersebut. Dalam sebuah wawancara di Fox News, Trump mengatakan:

“Kami tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dengan menjual minyak kepada pihak yang mereka sukai dan tidak kepada pihak yang tidak mereka sukai, atau apa pun itu. Ini akan menjadi semuanya atau tidak sama sekali.”

Cuan Iran di Selat Hormuz Ditaksir Capai 2 Juta Dolar AS

Selama konflik berlangsung, Iran dilaporkan mendapat keuntungan finansial dengan menarik biaya lintasan hingga 2 juta dolar AS bagi setiap kapal yang melewati Selat Hormuz. Trump sempat mengusulkan ide serupa sebagai bentuk usaha patungan dengan Iran pada pekan sebelumnya.

Data dari Kpler menunjukkan bahwa Iran mampu mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari hingga Maret. Angka ekspor tersebut mengalami kenaikan sekitar 100 ribu barel per hari jika dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya.

Ancaman Inflasi dan Kenaikan Harga Bahan Pokok

Rencana blokade yang diumumkan oleh Trump diprediksi akan membebani masyarakat AS secara langsung. Jika tren kenaikan minyak terus berlanjut, harga bahan bakar dipastikan akan tetap tinggi. Hingga Minggu, rata-rata harga bensin di AS sudah menyentuh 4,12 dolar AS per galon, atau naik 38 persen sejak awal perang.

Peneliti senior dari Middle East Institute, Karen Young, menyebutkan bahwa penyelesaian perang dan penurunan harga minyak mungkin masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Dia juga memperingatkan bahwa tingginya biaya minyak akan memicu inflasi pada sektor pangan karena terganggunya rantai pasok bahan pupuk dan kemasan makanan. Kondisi ini diprediksi akan menaikkan tekanan harga pada berbagai barang di toko ritel besar.

“Kita akan mulai melihat tekanan inflasi itu. Pikirkan semua yang Anda beli di toko ritel besar,” ujarnya.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *