Suasana Meriah dan Budaya yang Menghiasi Kirab Budaya HUT ke-60 Kabupaten Batang
Di tengah suasana yang penuh dengan semangat dan kehangatan, Kabupaten Batang merayakan HUT ke-60 dengan menggelar Kirab Budaya yang kaya akan nuansa tradisional. Acara ini berlangsung pada hari Minggu (12/4/2026) dan menarik perhatian banyak masyarakat sejak pagi hari.
Pemimpin Daerah Hadir dalam Pakaian Adat
Bupati Batang, M Faiz Kurniawan tampil anggun dengan mengenakan beskap berwarna merah muda, didampingi istrinya saat memasuki Pendopo Kabupaten Batang untuk membuka rangkaian kirab. Sementara itu, Wakil Bupati Batang, Suyono hadir bersama istri dengan pakaian adat yang gagah dan elegan.
Setibanya di pendopo, rombongan langsung menempati tempat yang telah disediakan. Prosesi sakral dimulai dengan penyerahan pusaka tombak Abirawa oleh Bupati kepada pemimpin rombongan kirab, sebagai simbol dimulainya perjalanan budaya.
Ratusan Peserta Ikut Ambil Bagian
Sebanyak 86 kelompok peserta turut serta dalam kirab budaya, termasuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan kecamatan, dan sekolah-sekolah di Kabupaten Batang. Mereka menampilkan beragam busana adat dari berbagai daerah, menciptakan pemandangan yang kaya warna dan sarat makna.
Menariknya, Bupati Batang memimpin langsung jalannya kirab dengan menaiki kereta kuda yang didatangkan dari Yogyakarta. Sejumlah tamu undangan dan pimpinan OPD juga ikut serta menaiki kereta kuda, menambah kesan megah pada iring-iringan tersebut.
Antusiasme Masyarakat Selama Rute Kirab
Sepanjang rute kirab yang mengelilingi kawasan Pemkab Batang, masyarakat tampak antusias menyambut rombongan. Sorak-sorai dan lambaian tangan mengiringi perjalanan kirab, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.
Selain itu, Bupati bersama rombongan juga membagikan uang kepada masyarakat dalam tradisi yang dikenal sebagai udek-udekan. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri dan disambut meriah oleh warga yang telah menanti sejak pagi hari.
Konsep Kirab Budaya yang Lebih Beragam
Kepala Disdikbud Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo menjelaskan bahwa Kirab Budaya tahun ini hadir dengan konsep yang lebih beragam dibanding tahun sebelumnya. “Pesertanya bertambah, ada 86 kelompok. Bahkan tahun ini kita juga melibatkan SLB yang sebelumnya belum ikut,” kata Bambang.
Tema yang diusung dalam kirab tahun ini adalah ‘Batang Gumregah, Anggayuh Barokah, Datan Kantun Budaya Luhung, Kuncara Hanjayeng Bawana’. Tema ini mengandung makna harapan agar Kabupaten Batang memperoleh keberkahan melalui pelestarian budaya luhur, sehingga semakin dikenal luas.
Gunungan Hasil Bumi sebagai Simbol Kemakmuran
Selain itu, terdapat 17 gunungan hasil bumi yang menjadi simbol kemakmuran daerah. Gunungan tersebut merupakan representasi potensi pertanian dari masing-masing kecamatan. “Gunungan ini berisi hasil bumi seperti sayur dan buah, menunjukkan bahwa Batang itu lohjinawi, kaya akan sumber daya alam,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kerumunan saat pembagian, panitia juga menyiapkan sejumlah gunungan yang tidak diikutkan dalam kirab, sehingga tetap dapat dibagikan kepada masyarakat setelah acara selesai.
Kirab Budaya sebagai Sarana Edukasi
Kirab budaya ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya daerah. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk terus nguri-uri budaya serta mengenang perjuangan para pendiri Kabupaten Batang.
Rangkaian peringatan HUT ke-60 Batang rencananya akan dilanjutkan dengan kegiatan sarasehan yang menghadirkan tokoh penting nasional, termasuk rencana kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono dari Yogyakarta.
Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya, Kirab Budaya Batang 2026 menjadi bukti nyata bahwa tradisi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.