Kecelakaan dalam Tugas: Awal dari Ujian Panjang
Tanggal 3 Februari 2025 menjadi tanggal yang tak pernah saya rencanakan untuk dikenang. Dalam rangka menjalankan tugas pekerjaan, saya mengalami kecelakaan yang menyebabkan fraktur tibia dan fibula cukup parah. Tubuh saya tak hanya terluka, tetapi benar-benar dipaksa berhenti. Saya harus menjalani dua kali operasi dan hingga hari ini masih rutin menjalani kontrol medis, menunggu waktu pengambilan implan.
Proses ini panjang, melelahkan, dan penuh ketidakpastian. Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa pemulihan bukan sekadar soal fisik, tetapi juga soal kesiapan hati.
Masa Prapaskah: Askese yang Tidak Direncanakan
Maret hingga April 2025 menjadi masa paling sunyi dalam hidup saya. Saya hanya mampu mengikuti rangkaian Prapaskah hingga Paskah dari kamar, dengan tubuh yang terbatas dan luka yang belum sembuh. Tidak ada prosesi fisik, tidak ada keramaian gereja, hanya doa-doa lirih dan keheningan panjang. Ibadah misa saya jalani secara daring, komuni Kudus pun saya terima atas kebaikan pastor dan pro diakon yang setia mengirim ke rumah.
Luka dan penderitaan itu perlahan saya maknai sebagai askese pribadi. Sebuah Prapaskah yang tidak saya pilih, tetapi harus saya jalani. Dalam kesakitan, saya belajar bersatu dengan penderitaan Kristus, bahwa salib bukan sekadar simbol iman, melainkan pengalaman nyata yang menuntut kesabaran dan kepercayaan total.
Identitas yang Harus Dilepaskan Sementara
Pada masa itu, saya harus rela melepaskan banyak peran yang selama ini membentuk identitas saya. Tidak mudah. Saya mengalami masa stress berkepanjangan hingga dua bulan pasca dua kali operasi. Saya terpaksa melepas peran sebagai anak, sebagai ibu tunggal bagi tiga anak yang masih sangat membutuhkan perhatian, sebagai ketua lingkungan dan pelatih koor, pustakawan sekolah, tim pastoral sekolah, penulis buku 125 Tahun Ursulin di Malang, serta sebagai pembina jurnalistik dan Pramuka.
Melepaskan semua itu membuat mental saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Saya merasa tidak berguna, rapuh, dan kehilangan arah. Namun justru di sanalah saya belajar bahwa nilai diri saya tidak ditentukan oleh seberapa sibuk saya melayani, melainkan oleh siapa saya di hadapan Tuhan.
Kembali Berkarya dari Kursi Roda
Setelah dua bulan penuh saya mengalami pukulan mental yang menyakitkan, perlahan saya mulai belajar menerima keadaan. Teman-teman sesama penulis selalu memberi semangat untuk terus menulis. Satu per satu tugas saya dalam menyelesaikan buku 125 Tahun Ursulin, meskipun akhirnya banyak hal yang rela tertunda. “Yang sakit kakimu, otak dan pikiranmu tidak… jadi teruslah menulis.”
Tanggal 5 Mei 2025 menjadi tonggak penting pemulihan batin saya. Dengan tubuh yang masih harus bergantung pada kursi roda, saya mengikuti launching buku 125 Tahun Ursulin di Malang. Saya hadir tidak dalam kondisi ideal, tetapi dengan hati yang penuh syukur. Hari itu saya sadar: keterbatasan tidak mematikan panggilan. Saya mungkin bergerak lebih lambat, tetapi karya tetap bisa berjalan.
Belajar Melangkah Kembali
Pertengahan Juni, tepatnya 16 Juni 2025, saya mulai masuk kerja kembali dengan bantuan kruk. Persis di awal liburan kenaikan kelas. Dokter menganjurkan saya masuk awal Juli, tetapi saya merasa harus beradaptasi di lingkungan kerja sebelum awal tahun pelajaran baru. Bagi saya itu saat yang tepat untuk menyesuaikan kembali di dunia kerja meskipun sunyi, tanpa kehadiran anak-anak murid saya di sekolah.
Setiap langkah terasa canggung dan melelahkan, tetapi juga penuh harapan. Pada awal Juli 2025, saya mengikuti kegiatan di Bumiaji serta event bersama Astra, masih dengan kruk, masih dengan keterbatasan, tetapi dengan semangat yang mulai pulih. Saya merasa terisi setelah lama merasa kosong. Support dari Bolang sangat menyengat semangat dalam diri saya. Saya merasa penuh.
Akhir Agustus, dokter sudah menyarankan agar saya mulai belajar berjalan tanpa kruk. Sebuah proses kecil yang terasa sangat besar artinya. Dan saya bisa!
Dari Duka Menjadi Doa
September 2025, saya terlibat dalam launching buku antologi kisah inspiratif Dari Duka Menjadi Doa bersama sahabat-sahabat KPKDG Malang. Judul buku itu terasa begitu personal, seolah merangkum perjalanan batin saya sendiri sepanjang tahun. Lagi-lagi saya bersyukur telah sampai di titik ini. Saya bisa melalui semuanya meskipun jatuh bangun dan meliuk-liuk seperti roll coaster.
Hadiah di Ujung Tahun
November 2025 menjadi penutup yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya terpilih sebagai nomine “Best in Storytelling Awards 2025.” Undangan untuk hadir di ajang bergengsi yang sangat dinantikan para kompasianer ini membuat saya bersemangat untuk dapat hadir di sana. Saya pun berangkat berpetualang ke Jakarta untuk mengikuti Kompasianival 2025 di M Bloc Space. Dengan segala keterbasan yang masih melekat dalam diri, saya menjalani semua dengan penuh sukacita yang tak terkatakan.
Bertemu dengan banyak orang baik, sahabat-sahabat yang menginspirasi, serta perjalanan yang paling mengasyikkan di sepanjang hidup saya. Dari kamar pemulihan ke panggung perayaan kata-kata, sebuah perjalanan yang hanya mungkin terjadi karena rahmat Tuhan.
Awal Desember Pun Menorehkan Kegembiraan
Awal Desember pun menorehkan kegembiraan, buku Spektrum 2: Satu Abad Stadion Gajayana Malang yang sangat saya nantikan akhirnya launching. Sebagai salah satu penulis, saya merasa itu jejak senyap saya sebagai sumbang sih pada Kota Malang, tanah kelahiran yang saya banggakan.
Membaca Keajaiban Ilahi
Menoleh ke belakang, saya melihat 2025 sebagai tahun keajaiban ilahi yang bekerja dalam kesunyian. Dari kecelakaan, luka, kursi roda, kruk, hingga langkah-langkah kecil tanpa alat bantu, semuanya menjadi bagian dari proses pemulihan hidup. Tahun ini mengajarkan saya bahwa bangkit tidak selalu berarti kembali seperti semula. Bangkit berarti menerima keterbatasan, berjalan pelan-pelan, dan tetap percaya bahwa Tuhan setia menyertai, bahkan ketika hidup terasa paling berat.
Akhirnya saya dapat menutup tahun 2025 ini dengan senyuman dan penuh harapan menyongsong tahun yang baru. Di saat saya merasa terpuruk dan jatuh, saya masih dapat bersyukur. Saya semakin menyadari kebaikan Tuhan dan merasakan kehadiran-Nya dalam diri orang-orang yang saya jumpai.
Melalui ini saya pun terus melambungkan doa, bagi semua saja yang saat ini sedang menderita sakit, berbeban berat, dan tak berpengalaman. Semoga Tuhan mengaruniakan berkat-berkat yang mereka perlukan. Kisah ini merupakan jejak keajaiban ilahi dalam tahun terberat dalam hidup saya… Salam semangat, selamat menyongsong Tahun Baru 2026. (Yy).