Malam Selikuran di Keraton Solo, Warisan Sultan Agung

Hendra Susanto
4 Min Read

Tradisi Malam Selikuran di Keraton Solo

Malam Selikuran di Keraton Solo akan digelar pada tanggal 9 Maret 2026. Perayaan ini bertujuan untuk memperingati Lailatul Qadr, malam yang diyakini lebih mulia dari 1.000 bulan. Salah satu rangkaian acara utama adalah Kirab Tumpeng Sewu yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi ini sudah ada sejak era Pakubuwono X dan menggabungkan nilai budaya Jawa dengan ajaran Islam. Di antaranya adalah doa bersama dan lampion simbolik. Dalam masyarakat, Malam Selikuran dirayakan dengan kenduri, sedekah, dan buka bersama, yang menekankan kebersamaan, spiritualitas, dan pelestarian warisan budaya.

Sejarah dan Makna Tradisi Malam Selikuran

Secara etimologis, istilah “Selikuran” berasal dari bahasa Jawa, yakni selikur yang berarti dua puluh satu. Dengan demikian, Malam Selikuran merujuk pada malam ke-21 Ramadan, yang menjadi awal malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan suci. Dalam ajaran Islam, malam-malam ganjil di penghujung Ramadan diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadr.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, tradisi Malam Selikuran telah lama menjadi bagian dari budaya Keraton Surakarta. Tradisi ini disebut telah ada sejak masa Walisongo sebagai metode dakwah yang memadukan ajaran Islam dengan budaya Jawa. Dalam sejarah Keraton Surakarta, tradisi ini diperkenalkan oleh Sultan Agung. Kemudian dihidupkan kembali pada masa Pakubuwana IX dan mencapai puncak kemeriahan pada era Pakubuwana X.

Pada masa itu, kirab tumpeng dari keraton menuju masjid disertai lampu ting atau pelita. Lampu tersebut melambangkan obor yang dibawa sahabat Nabi Muhammad SAW saat menjemput beliau setelah menerima wahyu di Jabal Nur.

Prosesi Kirab Tumpeng Sewu

Prosesi Malam Selikuran diawali dengan keluarnya prajurit keraton dari pintu utama atau kori kamandungan. Barisan terdepan membawa umbul-umbul dan bendera keraton, diikuti iring-iringan tumpeng dan lampion. Kirab berjalan menuju Masjid Agung Surakarta untuk doa bersama.

Nuansa religius dan sakral begitu terasa, sekaligus memperlihatkan perpaduan kuat antara adat keraton dan nilai-nilai Islam. Tumpeng Sewu akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari. Simbolis di dalam budaya Jawa hajat dalem itu Tumpeng Sewu, malam seribu bulan. Dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari tersebut.

Tradisi Kenduri di Masyarakat

Tak hanya di lingkungan keraton, masyarakat Jawa juga merayakan Selikuran dengan menggelar kenduri. Warga membawa hidangan sederhana ke masjid atau pos ronda untuk dikumpulkan dan dinikmati bersama. Acara biasanya dipimpin tokoh masyarakat yang memimpin doa. Makanan yang terkumpul kemudian dibagikan sebagai takjil atau santapan berbuka puasa.

Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, sedekah, dan penguatan silaturahmi. Dalam masyarakat, Malam Selikuran dirayakan dengan kenduri, sedekah, dan buka bersama, yang menekankan kebersamaan, spiritualitas, dan pelestarian warisan budaya.

Makna dan Nilai Spiritual

Malam Selikuran bukan sekadar perayaan budaya, melainkan momen spiritual untuk meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Tradisi ini mengajarkan nilai introspeksi diri, memperbanyak sedekah, serta mempererat persatuan dalam keberagaman.

Perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran Islam menjadikan Malam Selikuran sebagai warisan tradisi yang sarat makna, sekaligus bukti harmonisasi adat dan agama yang tetap lestari hingga kini.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *