Kisah Warga Terisolir Aceh Tengah: Stok Bahan Pokok Hanya Tersisa Dua Hari

Hendra Susanto
5 Min Read

Aceh Tengah Terisolir Akibat Banjir dan Longsor

Enam hari setelah banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 26 November 2025, Kabupaten Aceh Tengah masih terisolir dari daerah-daerah sekitarnya. Kondisi ini membuat akses ke wilayah yang berada di tengah provinsi Aceh semakin sulit. Terputusnya jalan-jalan utama menyebabkan stok bahan pokok mulai menipis, memicu kekhawatiran warga akan kelangkaan pangan.

Di tengah situasi yang kian memprihatinkan, beberapa penjarahan terjadi di Aceh Tengah. Keributan juga sempat terjadi antarwarga saat mereka antre membeli beras di pasar di Kota Takengon. Wartawan Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia mengatakan bahwa empat gelombang bantuan telah disalurkan kepada korban bencana di Aceh Tengah, melalui Bandara Rembele yang berlokasi di kabupaten tetangga, Bener Meriah.

Salah satu bantuan tersebut adalah 13 ton beras yang disalurkan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, pada Senin (1/12). Namun, bagi warga seperti Iwan, situasi masih sangat memprihatinkan. “Jika 2-3 hari tidak ada kepastian dari pemerintah soal ketersediaan pangan, situasi akan memburuk,” ujarnya.

Terisolir Akibat Jalan dan Internet Terputus

Sejak banjir terjadi 26 November, Aceh Tengah dan kabupaten tetangganya, Bener Meriah, terisolasi. Akses jalan menuju kedua daerah itu hanya bisa dilalui melalui Bandara Rembele yang berlokasi di Bener Meriah. Hingga Selasa (02/12), sebanyak lima jalan nasional di Aceh Tengah dilaporkan terputus akibat banjir dan tanah longsor. Ada pula enam ruas jalan provinsi dan 59 ruas jalan kabupaten yang putus.

Banjir dan tanah longsor merusak 2.218 rumah dan memaksa 37.129 warga mengungsi. Sebanyak 22 orang dilaporkan tewas, sedangkan 23 lainnya masih hilang. Warga Aceh Tengah mengeluhkan transportasi yang terputus total, serta jaringan seluler dan internet yang tidak stabil.

Yudha Arifa, warga Banda Aceh yang memiliki keluarga di Aceh Tengah dan Bener Meriah, mengaku kesulitan menghubungi sanak saudaranya. Kedua orang tua dan dua saudaranya tinggal di kaki Gunung Burni Telong, sementara saudara ibu dan neneknya tinggal dekat Danau Takengon yang terdampak longsor parah. Yudha menerima kabar terakhir dari saudaranya di Lampahan pada 30 November 2025. Saat itu, ia diberitahu bahwa kedua orang tuanya dan dua saudaranya dalam kondisi selamat, namun kondisi nenek dan saudara ibunya di Takengon belum dipastikan.

BBM Langka, Harga Melonjak

Tidak hanya bahan makanan, bahan bakar minyak (BBM) juga langka di Aceh Tengah akibat akses yang masih belum pulih. Antrean panjang hingga berkilometer terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Takengon. Dari tiga SPBU di kota tersebut, hanya satu yang masih memiliki stok bahan bakar. Hal ini memicu kemarahan warga, termasuk seorang anggota polisi bernama Saka.

“Ada yang mengamuk karena antrean,” ujar Saka. Harga BBM yang dijual eceran di kedai-kedai pun melonjak berkali-kali lipat. “Kedai-kedai kecil bisa Rp45.000-Rp50.000. Kalau di SPBU Pertamina harga normal,” tambahnya.

Stok Bahan Makanan Menipis

Terputusnya jalur darat dan menipisnya stok BBM di Aceh Tengah membuat distribusi bahan pangan terhambat. Akibatnya, stok bahan makanan semakin menipis. Wartawan Iwan Bahagia melaporkan adanya keributan antarwarga di salah satu warung bahan pokok pada Selasa (2/12) siang, ketika mereka berebut stok beras.

Iwan, warga Aceh Tengah, mengatakan stok bahan makanan memang kian menipis memasuki hari keenam pasca bencana. “Sembako sudah sulit di pasaran, [mengandalkan] stok masing-masing di rumah saja,” ujarnya.

Penjarahan Minimarket

Di tengah berbagai keterbatasan, penjarahan terhadap beberapa minimarket sempat terjadi di Aceh Tengah. Salah satunya pada 1 November 2025, ketika sebuah minimarket di Kampung Kutenireje, Kecamatan Lut Tawar, dijarah sekelompok orang. Ada pula upaya penjarahan minimarket lain yang terletak tak jauh dari RSUD Datu Beru, Takengon, pada malam harinya.

Akibat stok bahan makanan yang menipis, harga bahan pangan yang tersisa di pasaran kini melambung tinggi. Saka, salah seorang polisi yang berdinas di Aceh Tengah, menyebut harga sekarung beras berukuran 10kg kini dapat mencapai Rp500.000.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *