Warung Sedekah: Harapan yang Dibangun di Tengah Kudus

Di sebelah selatan Alun-alun Simpang Tujuh, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kudus, sebuah tenda kecil berdiri sederhana. Ukurannya 2×2 meter, tetapi isinya luar biasa. Di bawah tenda itu, ratusan nasi bungkus tersusun rapi. Pukul 16.00 WIB, warga mulai datang mengantre untuk mendapatkan makanan sederhana namun penuh makna.
Warung Sedekah ini merupakan inisiatif dari Bosnia Sasmita, seorang warga Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Berdiri pada Kamis Legi, 7 Januari 2016, warung ini telah menjadi tempat berbagi bagi banyak orang setiap minggu.
Keberlangsungan Warung Sedekah

Setiap Senin dan Kamis, Warung Sedekah buka. Saat Ramadan, pembagian dilakukan satu jam sebelum waktu berbuka puasa. Nasi bungkus dan air mineral dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Tahun ini, terdapat 300 nasi bungkus yang disediakan, berasal dari donatur dan uang pribadi Bosnia.
Bosnia menjelaskan bahwa semua yang hadir diberi kesempatan untuk mendapatkan satu nasi bungkus. Tidak ada sistem titip atau antar. Setiap orang harus datang sendiri dan mengambil makanan tersebut. Menu yang disajikan hari ini meliputi nasi, telur bacem, gudeg, dan tahu bacem.
Kriteria Penerima

Penerima Warung Sedekah adalah fakir, miskin, dan duafa. Namun, jika ada orang yang tampaknya mampu, Bosnia tidak segan untuk memberi. Ia percaya bahwa setiap orang layak menerima kebaikan.
“Jika ada orang naik mobil Pajero minta nasi, saya bagikan juga. Bisa saja dia seorang sopir yang sedang membutuhkan,” katanya.
Ia sering menyebut ayat Al-Qur’an Surat Al-Munafiqun ayat 10 sebagai pedoman hidupnya. Ayat tersebut mengingatkan untuk infak sebelum kematian datang. Bosnia juga merujuk pada Surah Ali Imran ayat 134, yang menekankan pentingnya infak, mengendalikan kemurkaan, serta memaafkan kesalahan orang lain.
Pengalaman Warga

Ahmad, salah satu warga Kudus, sudah tiga kali datang ke Warung Sedekah. Ia senang dengan menu yang disajikan. “Menunya enak,” katanya.
Endang, warga lainnya, baru pertama kali datang. Ia mendapatkan informasi dari teman-temannya. “Lumayan buat berbuka puasa,” ujarnya.
Kalisan, seorang tukang becak, mengaku sering datang ke Warung Sedekah. Ia bahkan sudah hafal jadwalnya. “Saya ke sini tidak hanya saat Ramadan. Setiap Senin dan Kamis, kalau tidak Ramadan juga ke sini,” katanya.
Harapan dan Kepercayaan

Lebih dari sepuluh tahun, Bosnia konsisten berbagi. Ia tak pernah merasa lelah. Ia percaya bahwa segala tindakan kebaikan yang dilakukan dengan niat “lillah” akan terasa ringan.
“Harapan saya ke depannya bisa terus memberikan kemanfaatan bagi orang lain,” imbuhnya.
Warung Sedekah ini tidak hanya memberi makan, tetapi juga memberi harapan. Setiap nasi bungkus yang dibagikan adalah bentuk kasih sayang, kepedulian, dan kepercayaan bahwa setiap orang layak menerima kebaikan.