Festival Film Berlinale 76: Tiga Film Horor Indonesia Menyentuh Isu Sosial
Di festival film terbesar di dunia, Berlinale, tiga film horor asal Indonesia yaitu “Ghost in the Cell”, “Monster Pabrik Rambut”, dan “Volcanology” hadir untuk mengajak penonton merenungkan isu-isu penting seperti budaya korupsi, obsesi kerja berlebihan, serta tradisi lokal yang sering kali dianggap sebelah mata. Ketiga film ini tidak hanya menawarkan pengalaman menyeramkan, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang kehidupan masyarakat Indonesia.
- Festival Film Berlinale 76: Tiga Film Horor Indonesia Menyentuh Isu Sosial
- Pengalaman Horor yang Berisi Pesan Sosial
- Di Balik Seram, Ada Refleksi Sosial
- Mengapa Orang Indonesia Menyukai Sesuatu yang Horor atau Mistis?
- Apakah Film Horor Indonesia Relevan di Mata Orang Asing?
- Potensi Film Horor Indonesia di Pasar Global
- Masa Depan Film Horor Indonesia
Jika seseorang mencari kata kunci “Indonesia” pada laman program situs Berlinale tahun ini, mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa semua film Indonesia yang lolos didominasi genre horor?” Bagi yang bukan pecinta genre ini, mungkin akan ragu untuk membeli tiket. Namun, film horor telah menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia yang tak terpisahkan.
Film-film seperti “Ratu Ilmu Hitam” dan “Beranak Dalam Kubur” yang lahir di era 80-an pernah membawa perfilman nasional menuju masa keemasannya. Sayangnya, popularitas ini meredup di tahun 90-an akibat gempuran film impor, persaingan dengan TV swasta, serta penurunan kualitas film horor yang cenderung mengumbar sensualitas belaka.
Kini, industri perfilman Indonesia kembali bangkit dengan menggali potensi film-film horor yang sempat terkubur. Kehadiran film seperti “Jelangkung”, “Pengabdi Setan”, dan “KKN di Desa Penari” semakin memperkuat posisi perfilman Indonesia dalam skala global. Bahkan, Festival Film Berlinale ke-76 tahun ini turut menayangkan tiga film horor asal Indonesia: “Ghost in the Cell”, “Monster Pabrik Rambut”, dan “Volcanology”.
Pengalaman Horor yang Berisi Pesan Sosial
Film “Ghost in the Cell” yang tayang perdana di Berlin akhir pekan lalu mengisahkan kehidupan di balik jeruji. Kehadiran hantu di dalam sel penjara yang membunuh secara brutal tahanan satu per satu membuat para narapidana tidak tenang dan berburu solusi untuk mengamankan diri mereka dari serangan hantu tersebut.
Sementara itu, “Monster Pabrik Rambut” mengisahkan ketiga saudara yang harus menghadapi kematian misterius ibu mereka yang bekerja di pabrik rambut. Sang kakak dan adiknya pun bekerja di pabrik tersebut. Saat bekerja di sana, mereka mengalami banyak kejadian aneh, terutama saat bekerja lembur tanpa henti.
Terakhir, ada film eksperimental “Volcanology” karya Riar Rizaldi. Film ini menggambarkan sosok Franz Wilhelm Junghuhn sebagai sesosok zombie. Junghuhn yang sebenarnya adalah seorang geolog Jerman yang memiliki ketertarikan akan alam seperti gunung-gunung berapi di Indonesia. Namun, saat menggali aspek-aspek keilmuan dari alam Indonesia, Junghuhn kerap mengesampingkan kepercayaan atau mitos warga lokal.

Di Balik Seram, Ada Refleksi Sosial
Menurut sutradara “Monster Pabrik Rambut – Sleep no More”, Edwin, film ini tidak sekadar menampilkan hal-hal yang menyeramkan. Ia berharap para penonton dapat berefleksi tentang makna kerja. “Kenapa kita bekerja? Untuk apa? Pekerjaan sehari-hari kalau dihitung jam kerja menghabiskan 70% hidup kita… kalau pun enggak kerja kita pun memikirkan pekerjaan. Sejauh mana kita merelakan waktu kita untuk pekerjaan? Ini bisa jadi obsesi yang membabi-buta juga.”
Jika “Monster Pabrik Rambut” mengajak para penontonnya berefleksi di tengah ketegangan suasana pabrik yang tidak menentu, film “Ghost in the Cell” membawa hadirin menengok kehidupan di balik jeruji. Joko Anwar menggambarkan penjara sebagai ‘miniatur masyarakat’ dan Polsuspas sebagai pemegang kuasa. Film ini dengan cepat beralih adegan dari penuh humor dan satir menuju kisah dramatis, aksi laga, teror, hingga misteri. Film ini sebenarnya tengah ‘memotret’ masalah-masalah sosial yang terjadi tidak hanya di Indonesia: penyalahgunaan wewenang dan korupsi, bagaimana sistem tidak melindungi masyarakat, tapi hanya mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Mengapa Orang Indonesia Menyukai Sesuatu yang Horor atau Mistis?
“Kita adalah bangsa yang percaya takhayul,” jelas Joko Anwar dalam wawancara kepada DW. Bahasa horor bisa dipahami seluruh orang di dunia karena rasa takut adalah hal yang mendasar. “Sebenarnya orang Indonesia suka juga komedi dan drama, tetapi horor ini adalah bagian dari keseharian yang tidak ingin kita alami tapi ingin kita ketahui. Orang Indonesia masih memercayai unsur-unsur supranatural. Film horor membuat kita bisa mengalami itu tapi bukan di kehidupan nyata,” jelas Suma Riella Rusdiarti, seorang pakar Budaya Layar dan Transmedialitas dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Menurut Riella, film horor Indonesia sangat dekat dengan praktik budaya yang ada. “Kita kaya sekali – dari Sabang sampai Merauke bahan-bahan film horor ini tidak akan habis. Tiap kelompok masyarakat punya mitos dan kepercayaannya sendiri. Hal ini bersinkretisasi dengan agama dan praktik budaya lain yang lebih modern. Indonesia lebih kaya aspek kultural. Mitos kita kaya sekali,” kata dosen Fakultas Ilmu Budaya UI tersebut.

Apakah Film Horor Indonesia Relevan di Mata Orang Asing?
Setelah menonton film “Ghost in the Cell”, kami mewawancarai beberapa warga Berlin yang ikut menonton. “Yang seram adalah hantu yang tidak kita ketahui apa yang diinginkannya, apa tujuan yang ingin dicapainya. Hantu itu seperti memiliki kekuatan emosi yang besar yang sedang berupaya ‘memukul’ ketidakadilan. Selain itu fakta kalau mereka di dalam penjara tidak bisa melarikan diri juga seram,” jelas Daniel.
Menurut Daniel, kisah horor barat lebih seputar cerita orang yang sudah mati sedangkan horor Indonesia soal roh yang bisa begitu marah menghadapi ketidakadilan. “Rasanya aneh juga, banyak dialog humor yang membuat tertawa dan menghilangkan beban, lalu kembali sadar secara nyata masalahnya masih ada.”
“Kalau film Amerika lebih ke aspek teror psikologis dan grafis, tapi Indonesia menampilkan aspek sosialnya, ada soal korupsi,” kata Anita yang pertama kali menonton film horor Indonesia. “Kalau horor barat mungkin lebih banyak soal persoalan personal tapi kalau horor Indonesia bisa melibatkan persoalan yang sistemik di masyarakat,” jelas Max sehabis menonton “Monster Pabrik Rambut”.

Potensi Film Horor Indonesia di Pasar Global
Menurut Riella, orang asing bisa memahami bahkan menyukai film horor Indonesia selama ada konflik universal yang dibahas di dalamnya. “Aspek horornya bisa saja lokal, mitos bisa dari gunung mana atau dari suku apa. Nama hantunya juga bisa lokal. Tetapi selama konfliknya universal seperti masalah ketidak adilan, kekerasan, kecurangan, dan penghianatan, orang (asing) akan bisa relate. Tetapi hal tersebut juga perlu dibangun dengan sinematografi yang bagus dan narasi yang kuat.”
Selain horor, Indonesia juga bisa menguatkan film-film di laga aksi dengan seni bela diri lokal. “Kita punya pencak silat, nah ini bisa jadi kekuatan lainnya,” tambah Riella.
Masa Depan Film Horor Indonesia
“Ke depannya saya yakin film horor bisa jadi pegangan kita untuk berada dalam konstelasi perindustrian film ini,” jelas sutradara “Monster Pabrik Rambut”, Edwin. “Film horor Indonesia sudah jadi ‘trademark’ Indonesia di sinema global. Kita kan punya beberapa golden age of cinema dan itu karena film horor. Sekitar 10 tahun kebelakang film Indonesia telah kembali – dulu memang sempat dipergunakan beberapa rumah produksi untuk memproduksi film yang murahan dan seksi. Sekarang sudah dikerjakan dengan sangat serius. Film horor kita selalu berkelas,” tegas Joko Anwar.
Kedua sutradara mengakui pemerintah Indonesia sudah memiliki kecenderungan untuk mendukung industri perfilman Indonesia, meski bantuan yang disalurkan masih cenderung sporadis. Ke depannya mereka berharap lebih banyak dialog antara insan perfilman dengan para pembuat kebijakan untuk membahas kebijakan jangka panjang mengingat pentingnya potensi film sebagai softpower yang mampu menyebarluaskan kebudayaan secara organik.